Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Won Korea Selatan menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (10/9/2026), menjadi salah satu mata uang Asia yang mencatat penguatan di tengah pergerakan pasar valuta asing yang cenderung terbatas.
Mengutip Reuters, pada pukul 02.05 GMT, won berada di level 1.337 per dolar AS, menguat 0,21% dibandingkan posisi sebelumnya di 1.339,78 per dolar AS.
Penguatan won menjadi salah satu yang terbesar di antara mata uang Asia yang dipantau. Yen Jepang menguat 0,10%, dolar Singapura naik 0,02%, dan ringgit Malaysia menguat 0,02%.
Baca Juga: Messi Beli Klub Spanyol CD Eldense, Ini Klub yang Masuk Portofolionya
Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,07%, sedangkan yuan China turun tipis 0,01%. Baht Thailand, dolar Taiwan dan rupee India relatif stagnan.
Rupiah juga berada di zona merah. Rupiah tercatat melemah 0,09% menjadi Rp 17.515 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.500 per dolar AS.
Pergerakan mata uang Asia berlangsung di tengah meningkatnya tekanan global setelah harga minyak Brent bertahan di atas US$ 100 per barel.
Konflik Iran dan Amerika Serikat yang semakin meluas meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak berpotensi memperkuat tekanan inflasi global dan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral.
Baca Juga: Bursa Australia Anjlok 1,4% Kamis (10/9), Minyak di Atas US$ 100 Jadi Biang Kerok
Won Jadi Mata Uang Asia Terkuat
Secara kumulatif sepanjang 2026, won menjadi salah satu mata uang Asia dengan kinerja terbaik. Won berada di level 1.337 per dolar AS, menguat 7,74% dibandingkan posisi akhir 2025 di 1.440,51 per dolar AS.
Yen Jepang menguat 2,13% sepanjang tahun, sementara dolar Singapura menguat 1,73%. Yuan China juga mencatat penguatan 4,18%.
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia masih tertekan terhadap dolar AS. Baht Thailand melemah 4,38% sejak akhir 2025, peso Filipina turun 5,88%, rupiah melemah 4,82%, dan rupee India turun 5,50%.
Baca Juga: Minyak Brent Bertahan di Atas US$ 100 Kamis (10/9), Selat Hormuz Makin Mencekam
Ringgit Malaysia juga melemah 0,27% sepanjang 2026, sedangkan dolar Taiwan turun tipis 0,22%.
Pergerakan mata uang Asia selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan bank sentral, perkembangan harga energi, serta data inflasi Amerika Serikat yang menjadi perhatian investor menjelang pertemuan The Federal Reserve pada 15–16 September 2026.














