CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.544   15,00   0,09%
  • IDX 6.680   1,46   0,02%
  • KOMPAS100 880   2,86   0,33%
  • LQ45 666   1,84   0,28%
  • ISSI 234   -0,26   -0,11%
  • IDX30 370   0,61   0,17%
  • IDXHIDIV20 458   0,82   0,18%
  • IDX80 100   0,38   0,38%
  • IDXV30 128   0,49   0,39%
  • IDXQ30 118   0,20   0,17%

Bursa Australia Anjlok 1,4% Kamis (10/9), Minyak di Atas US$ 100 Jadi Biang Kerok


Kamis, 10 September 2026 / 08:47 WIB
Bursa Australia Anjlok 1,4% Kamis (10/9), Minyak di Atas US$ 100 Jadi Biang Kerok
ILUSTRASI. Bursa Australia (REUTERS/Hollie Adams)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia merosot ke level terendah dalam enam pekan pada perdagangan Kamis (10/9/2026).

Sentimen pasar tertekan setelah harga minyak dunia menembus US$ 100 per barel akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Melansir Reuters, Indeks S&P/ASX 200 turun 1,4% menjadi 8.785,20 pada pukul 00.20 GMT. Sehari sebelumnya, indeks acuan tersebut ditutup di level terendah sejak 27 Juli 2026.

Baca Juga: Minyak Brent Bertahan di Atas US$ 100 Kamis (10/9), Selat Hormuz Makin Mencekam

Meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali mengguncang sentimen risiko global.

Iran dan AS terlibat dalam serangkaian serangan terhadap kapal tanker yang menjadi gelombang serangan terbesar terhadap pelayaran sejak perang dimulai.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk akan semakin parah. Kondisi ini kemudian mendorong harga minyak mentah Brent kembali menembus US$ 100 per barel.

Lonjakan harga minyak juga mulai memberikan tekanan terhadap inflasi Australia. Data inflasi bulanan yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya memperkuat ekspektasi bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) akan kembali menaikkan suku bunga.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 77,3% bahwa RBA akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam pertemuan kebijakan moneter akhir bulan ini. Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi yang keempat sepanjang tahun ini.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Ambruk 1,37% Kamis (10/9), Perang Iran-AS Bikin Investor Kabur

Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi turut menekan saham-saham sektor keuangan. Indeks finansial turun 1,3% dan mencapai level terendah sejak pertengahan Juni.

Empat bank terbesar Australia juga kompak melemah dengan penurunan antara 1,3% hingga 1,8%.

Bank-bank besar Australia sebelumnya telah mengindikasikan bahwa suku bunga yang lebih tinggi serta perubahan kebijakan perpajakan mulai memberikan tekanan terhadap volume pengajuan kredit perumahan.

Saham sektor properti yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga turun 1,3%. Sementara itu, sektor consumer discretionary terkoreksi 0,9%.

Tekanan lebih besar datang dari sektor pertambangan. Indeks pertambangan turun 2,2% dan menyentuh level terendah dalam tiga pekan. Saham BHP, Rio Tinto dan Fortescue juga berada di level terendah sekitar sepekan.

Baca Juga: ECB Hadapi Bom Inflasi dari Perang Iran, Suku Bunga Bakal Naik Lagi?

Saham perusahaan tambang emas turut melemah. Northern Star Resources turun 1%, sedangkan Evolution Mining terkoreksi 1,6%.

Menariknya, saham sektor energi justru belum mampu mengikuti kenaikan harga minyak dunia. Indeks sektor energi turun 0,3%, tertekan pelemahan 0,3% saham Woodside Energy sebagai salah satu saham berkapitalisasi besar di indeks.

Meski demikian, sektor energi masih mencatat kenaikan sekitar 3,3% sepanjang pekan ini.

Sektor kesehatan turun 0,8%, sedangkan sektor industri melemah 1%.

Di Selandia Baru, indeks acuan S&P/NZX 50 juga turun 0,4% menjadi 13.760,36, sekaligus menyentuh level terendah dalam sepekan.

Baca Juga: AS Kecolongan! Drone Bawah Laut Canggih Jatuh ke Tangan Iran




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×