Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan tahun 2026.
Won Korea Selatan dan rupiah Indonesia tercatat memimpin pelemahan di kawasan, di tengah penguatan terbatas dolar AS.
Berdasarkan data Reuters pada Jumat (2/1/2026) pukul 02.08 GMT, won Korea Selatan melemah 0,19% ke level 1.442,3 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di 1.439,5.
Pelemahan won terjadi seiring sikap hati-hati pelaku pasar terhadap prospek kebijakan moneter global dan arus investasi luar negeri.
Baca Juga: Harga Beras India Naik ke Level Tertinggi Tiga Bulan, Permintaan Global Masih Lesu
Sementara itu, rupiah Indonesia turun 0,18% ke posisi 16.700 per dolar AS, dari sebelumnya 16.670.
Tekanan terhadap rupiah mencerminkan sentimen regional yang cenderung negatif, meski pergerakannya masih relatif terkendali.
Di kawasan Asia lainnya, peso Filipina melemah 0,12% ke 58,867 per dolar AS, sementara baht Thailand stagnan di level 31,63 per dolar AS.
Ringgit Malaysia tercatat turun tipis 0,07% ke 4,055 per dolar AS.
Sebaliknya, sejumlah mata uang mencatat penguatan terbatas. Yen Jepang menguat tipis 0,04% ke level 156,59 per dolar AS, sementara dolar Singapura naik 0,13% ke 1,284 per dolar AS. Dolar Taiwan juga menguat 0,06% ke 31,418 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Tembaga Awali 2026 Menguat, Lanjutkan Reli Rekor 2025
Secara year to date (YTD) sepanjang 2026, won Korea Selatan dan rupiah Indonesia masih menjadi mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan, masing-masing terkoreksi 0,19% dan 0,18%.
Baht Thailand juga mencatat pelemahan cukup dalam sebesar 0,57% sejak awal tahun.
Pelaku pasar menilai pergerakan mata uang Asia masih akan dipengaruhi oleh ekspektasi arah suku bunga AS, data ekonomi global, serta dinamika aliran modal asing pada awal tahun.













