Sumber: TheIndependent.co.uk | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Pernyataan itu diperkuat oleh Wakil Kepala Staf Gedung Putih bidang kebijakan, Stephen Miller, yang mengatakan di CNN bahwa AS akan menggunakan militernya “tanpa permintaan maaf” dan menegaskan bahwa “tidak ada pihak yang akan berperang secara militer melawan Amerika Serikat soal masa depan Greenland.”
Namun, sejumlah pejabat lain seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio mencoba meredam isu dengan mengecilkan kemungkinan invasi militer.
Upaya terang-terangan AS untuk mengambil alih pulau tersebut memicu kekhawatiran global, terutama setelah tindakan AS di Venezuela.
Ketika ditanya apakah komitmen AS terhadap NATO lebih penting dibanding ambisi menguasai Greenland, Trump menjawab singkat, “Itu bisa jadi sebuah pilihan.”
Menjelaskan alasannya ingin “memiliki” Greenland, Trump mengatakan kepada NYT, “Karena secara psikologis, itu saya rasa dibutuhkan untuk sukses. Kepemilikan memberi Anda sesuatu yang tidak bisa didapat hanya lewat sewa atau perjanjian. Kepemilikan memberi unsur dan keuntungan yang tak bisa diperoleh hanya dengan menandatangani dokumen.”
Trump bersikeras bahwa tindakannya di Venezuela tidak akan mendorong Presiden China Xi Jinping atau Presiden Rusia Vladimir Putin untuk bertindak lebih jauh di wilayah masing-masing.
Tonton: BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem 10–11 Januari 2026! Hujan Lebat & Angin Kencang Mengancam
Ia menyebut situasi Venezuela berbeda dengan China. “Di sana tidak ada penjara Taiwan yang dibuka lalu orang-orangnya berbondong-bondong masuk ke China,” katanya.
Saat ditanya apakah Xi Jinping kini mungkin akan bergerak terhadap Taiwan, Trump menjawab, “Dia mungkin melakukannya jika presidennya sudah berbeda. Tapi saya rasa dia tidak akan melakukannya selama saya masih menjadi presiden.”













