kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.843   41,00   0,24%
  • IDX 8.265   -25,61   -0,31%
  • KOMPAS100 1.168   -3,76   -0,32%
  • LQ45 839   -2,54   -0,30%
  • ISSI 296   -0,31   -0,10%
  • IDX30 436   -0,20   -0,04%
  • IDXHIDIV20 521   0,94   0,18%
  • IDX80 131   -0,34   -0,26%
  • IDXV30 143   0,44   0,31%
  • IDXQ30 141   0,17   0,12%

Anomali Trump: Mengapa AS Ngotot Ingin Kuasai Greenland?


Minggu, 11 Januari 2026 / 06:28 WIB
Anomali Trump: Mengapa AS Ngotot Ingin Kuasai Greenland?
ILUSTRASI. Presiden AS menegaskan hanya moral pribadinya yang menjadi batasan. Mengapa Trump menganggap hukum internasional tidak relevan baginya? (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: TheIndependent.co.uk | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak perlu tunduk pada hukum internasional. Menurutnya, satu-satunya hal yang benar-benar membatasi kekuasaannya hanyalah moralitas pribadinya sendiri.

Mengutip The Independent, dalam pembelaan panjang atas serangkaian langkah kontroversial global yang ia lakukan selama sepekan terakhir, Presiden AS itu memaparkan alasan di balik tindakannya.

Hanya dalam enam hari terakhir, Trump melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, berulang kali menyatakan niat untuk mengambil alih Greenland, serta mengklaim Kolombia bisa menjadi target berikutnya.

“Saya tidak butuh hukum internasional,” kata Trump kepada The New York Times dalam wawancara di Ruang Oval. “Saya tidak berniat menyakiti orang.”

Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu, Trump telah berulang kali menguji batas konstitusi dan hukum di AS, mulai dari memecat pimpinan lembaga independen, mencoba menafsir ulang Amandemen ke-14, hingga menghukum hakim federal yang bersikeras memberikan hak hukum bagi imigran.

Namun, keputusan terbarunya untuk melakukan operasi militer agresif tanpa persetujuan Kongres, serta ancaman untuk mengambil alih wilayah negara sekutu, membuat banyak pemimpin dunia khawatir.

Baca Juga: Kapal Tanker Venezuela Kembali, AS Langsung Sita M Sophia

Saat ditanya apakah ada batasan atas kekuasaannya, Trump menjawab, “Ya, ada satu hal. Moral saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Itu satu-satunya yang bisa menghentikan saya.”

Ia kemudian menambahkan bahwa pemerintahannya memang perlu mengikuti hukum internasional, tetapi menurutnya hal itu “tergantung pada bagaimana definisi hukum internasional itu sendiri.”

Trump juga menjelaskan bagaimana ia memanfaatkan reputasinya yang tak terduga serta kesiapannya menggunakan kekuatan militer, seperti pengeboman Iran, sebagai alat untuk memaksa negara lain mengikuti keinginannya.

Pernyataan-pernyataannya menunjukkan bahwa Trump meyakini penggunaan kekuatan militer, ekonomi, dan pengaruh politik AS untuk mendominasi negara lain bisa lebih penting dibanding mematuhi hukum internasional atau perjanjian demi menjaga hubungan baik dengan sekutu maupun lawan.

Dalam sepekan terakhir, pemerintahannya semakin lantang menyuarakan kemungkinan penggunaan kekuatan militer AS untuk mengambil alih Greenland, wilayah milik Denmark.

“Kami membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional,” ujar Trump kepada wartawan pada Minggu.

Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Menghanguskan Gudang Minyak di Distrik Oktyabrskiy, Rusia

Pernyataan itu diperkuat oleh Wakil Kepala Staf Gedung Putih bidang kebijakan, Stephen Miller, yang mengatakan di CNN bahwa AS akan menggunakan militernya “tanpa permintaan maaf” dan menegaskan bahwa “tidak ada pihak yang akan berperang secara militer melawan Amerika Serikat soal masa depan Greenland.”

Namun, sejumlah pejabat lain seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio mencoba meredam isu dengan mengecilkan kemungkinan invasi militer.

Upaya terang-terangan AS untuk mengambil alih pulau tersebut memicu kekhawatiran global, terutama setelah tindakan AS di Venezuela.

Ketika ditanya apakah komitmen AS terhadap NATO lebih penting dibanding ambisi menguasai Greenland, Trump menjawab singkat, “Itu bisa jadi sebuah pilihan.”

Menjelaskan alasannya ingin “memiliki” Greenland, Trump mengatakan kepada NYT, “Karena secara psikologis, itu saya rasa dibutuhkan untuk sukses. Kepemilikan memberi Anda sesuatu yang tidak bisa didapat hanya lewat sewa atau perjanjian. Kepemilikan memberi unsur dan keuntungan yang tak bisa diperoleh hanya dengan menandatangani dokumen.”

Trump bersikeras bahwa tindakannya di Venezuela tidak akan mendorong Presiden China Xi Jinping atau Presiden Rusia Vladimir Putin untuk bertindak lebih jauh di wilayah masing-masing.

Tonton: BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem 10–11 Januari 2026! Hujan Lebat & Angin Kencang Mengancam

Ia menyebut situasi Venezuela berbeda dengan China. “Di sana tidak ada penjara Taiwan yang dibuka lalu orang-orangnya berbondong-bondong masuk ke China,” katanya.

Saat ditanya apakah Xi Jinping kini mungkin akan bergerak terhadap Taiwan, Trump menjawab, “Dia mungkin melakukannya jika presidennya sudah berbeda. Tapi saya rasa dia tidak akan melakukannya selama saya masih menjadi presiden.”


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×