Sumber: Reuters | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - BEIJING/LONDON — Pemerintah China resmi memberlakukan pembatasan ekspor unsur tanah jarang (rare earth elements) pada Jumat sebagai respons terhadap kenaikan tarif besar-besaran oleh Presiden AS Donald Trump. Langkah ini dinilai akan menekan pasokan mineral penting ke negara-negara Barat yang sangat bergantung pada China.
Pembatasan ini berlaku tidak hanya terhadap bahan mentah, tetapi juga magnet permanen dan produk jadi lainnya, yang akan sulit digantikan dalam waktu dekat. Menurut para analis, tindakan ini akan memperparah ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia dan memicu kepanikan di kalangan produsen AS.
China saat ini menyumbang sekitar 90% produksi global rare earth — 17 unsur yang digunakan dalam industri pertahanan, kendaraan listrik, energi, dan elektronik. Sementara itu, AS hanya memiliki satu tambang rare earth, dan sebagian besar pasokannya masih bergantung pada China.
Kementerian Perdagangan China mengumumkan bahwa tujuh kategori unsur tanah jarang sedang — termasuk samarium, gadolinium, terbium, dysprosium, lutetium, scandium, dan yttrium — akan dimasukkan dalam daftar kontrol ekspor mulai 4 April.
Baca Juga: Resmi! Kanada Balas Tarif Trump, PM Mark Carney Umumkan Tarif 25% Mobil Impor dari AS
Langkah ini merupakan bagian dari paket balasan China atas keputusan Trump menaikkan tarif hingga 54% terhadap sebagian besar produk impor dari China.
"China membuat daftar ini secara strategis," kata Mel Sanderson, Direktur di American Rare Earths. "Mereka memilih unsur-unsur yang sangat krusial bagi ekonomi AS."
Kendati tidak berupa larangan total, China bisa mengendalikan pengiriman dengan membatasi jumlah lisensi ekspor yang dikeluarkan. Hal ini akan menyulitkan perusahaan-perusahaan seperti Lockheed Martin, Tesla, dan Apple, yang mengandalkan pasokan rare earth dari China dalam rantai pasok mereka.
Baca Juga: Auto Nyesek! Kebijakan Tarif Trump Bikin Harga Mobil di AS Melonjak
Beberapa produsen dirgantara AS bahkan disebut sangat tergantung pada pasokan rare earth dari China untuk sistem avionik mereka. Namun, perusahaan seperti RTX, Honeywell, Boeing, dan GE belum memberikan komentar atas kebijakan baru ini.
Langkah Beijing juga memperkuat posisi tawar China dalam negosiasi yang masih terus berlangsung, yang menurut sejumlah analis merupakan bagian dari strategi eskalasi bertahap.
"China siap untuk meningkatkan tekanan," ujar Nathan Picarsic dari Horizon Advisory. "Ini mungkin hanya pembuka dalam permainan tawar-menawar yang lebih panjang dengan AS."
Pembatasan ini diprediksi akan mendorong negara-negara Barat untuk mempercepat pembangunan rantai pasok alternatif. Namun, kemajuan ke arah itu masih lambat dan menghadapi tantangan pendanaan serta teknologi.
CEO NioCorp Developments, Mark Smith, yang memiliki izin untuk membuka tambang rare earth senilai US$ 1,2 miliar di Nebraska, mengakui bahwa butuh waktu dan investasi besar untuk mengejar ketertinggalan. Saham perusahaan tersebut bahkan turun 4,8% pada hari Jumat, sementara saham MP Materials — satu-satunya pemilik tambang rare earth di AS — anjlok 8%.
Meski demikian, perusahaan seperti Phoenix Tailings yang mengolah rare earth dari limbah elektronik menyatakan akan mempercepat ekspansi mereka. "Langkah China justru mendorong kami untuk menggandakan upaya ekspansi," kata CEO Phoenix, Nick Myers.
Namun kekhawatiran terbesar datang dari sektor hilir. "Kekhawatiran kami bukan hanya pasokan mineral, tapi juga apakah konflik dagang ini akan makin meluas," ujar Wade Senti, Presiden Advanced Magnet Lab yang berbasis di Florida.