Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia melemah pada Jumat (6/3/2026) dan bersiap mencatat penurunan mingguan terdalam dalam enam tahun terakhir.
Di sisi lain, harga minyak dunia berpotensi mencatat lonjakan mingguan terbesar dalam tiga tahun seiring meningkatnya ketegangan akibat perang di Timur Tengah.
Investor beralih ke aset yang lebih aman setelah menyadari konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi berlangsung lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan.
Selain itu, pelaku pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral global, seiring kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat memicu kembali tekanan inflasi.
Baca Juga: Pentagon Tetapkan Anthropic sebagai Risiko Rantai Pasok, Batasi Penggunaan AI Claude
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat melonjak sekitar 18 basis poin sepanjang pekan ini, kenaikan terbesar dalam hampir satu tahun.
Sementara itu, dolar AS berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 16 bulan.
Ekonom global utama di PGIM Fixed Income, Daleep Singh, mengatakan ketidakpastian terkait konflik membuat pasar harus memperhitungkan berbagai kemungkinan hasil.
“Rentang kemungkinan hasil perang kini melebar, mulai dari resolusi yang sangat konstruktif hingga skenario yang sangat destruktif,” ujarnya.
Saham Asia tertekan
Indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang yang disusun oleh MSCI turun 0,4% pada perdagangan terakhir dan diperkirakan merosot 6,6% sepanjang pekan ini. Jika terjadi, ini akan menjadi penurunan mingguan terdalam sejak Maret 2020.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,5% dan menuju pelemahan mingguan sekitar 6,5%.
Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan juga berpotensi mencatat penurunan mingguan terbesar dalam enam tahun dengan penurunan sekitar 10,5%.
Baca Juga: Kongres AS Minta Perusahaan Travel Ungkap Penggunaan AI untuk Penetapan Harga
Tekanan pasar minggu ini bahkan menyeret saham-saham teknologi yang sebelumnya mencatat reli tajam. Banyak investor memilih mengambil keuntungan untuk menutup kerugian di sektor lain.
Kepala strategi investasi Asia di L&G Asset Management Ben Bennett mengatakan, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi turut memperketat kondisi pendanaan global.
“Ketika dolar menguat dan imbal hasil obligasi AS naik, kondisi pendanaan menjadi lebih ketat dan hal itu sering memperbesar pergerakan pasar, terutama jika ada penggunaan leverage,” ujarnya.
Harga minyak melonjak
Sejauh ini, dampak terbesar konflik terlihat pada pasar minyak. Harga minyak mentah Brent kini diperdagangkan di kisaran US$83 per barel, naik tajam dari sekitar US$69 sepekan sebelumnya.
Minyak mentah Amerika Serikat bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam 20 bulan pada awal pekan ini.
Baik Brent maupun minyak mentah AS diperkirakan mencatat kenaikan lebih dari 15% dalam sepekan, lonjakan terbesar sejak Februari 2022.
Baca Juga: Harga Emas Stabil Jumat (6/3), Cermati Dampak Perang Timur Tengah ke Ekonomi Global
Tim investasi senior di Klay Group menilai risiko terbesar bagi pasar adalah kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas atau kerusakan infrastruktur energi di negara produsen utama kawasan Teluk.
Menurut mereka, skenario tersebut berpotensi mendorong harga minyak naik lebih tinggi, memicu inflasi global, memperketat likuiditas, dan meningkatkan risiko resesi.
Dolar AS jadi aset favorit
Di tengah volatilitas pasar global, dolar AS menjadi salah satu aset yang mencatat kinerja terbaik.
Mata uang tersebut berada di jalur untuk menguat sekitar 1,4% sepanjang pekan ini, didorong permintaan sebagai aset safe haven serta berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah ke Level Terendah Hampir Sebulan pada Jumat (6/3/2026)
Sebaliknya, euro diperkirakan melemah sekitar 1,7% sepanjang pekan karena kerentanan ekonomi Eropa terhadap lonjakan harga energi. Poundsterling juga diperkirakan turun sekitar 0,95%.
Pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini sekitar 40 basis poin, turun dari perkiraan 56 basis poin pada pekan lalu.
Sementara peluang pemangkasan suku bunga oleh Bank of England bulan ini juga turun menjadi 23%, dari sebelumnya hampir pasti.
Di sisi lain, European Central Bank justru diperkirakan masih berpotensi menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.













