Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Harga minyak melonjak
Sejauh ini, dampak terbesar konflik terlihat pada pasar minyak. Harga minyak mentah Brent kini diperdagangkan di kisaran US$83 per barel, naik tajam dari sekitar US$69 sepekan sebelumnya.
Minyak mentah Amerika Serikat bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam 20 bulan pada awal pekan ini.
Baik Brent maupun minyak mentah AS diperkirakan mencatat kenaikan lebih dari 15% dalam sepekan, lonjakan terbesar sejak Februari 2022.
Baca Juga: Harga Emas Stabil Jumat (6/3), Cermati Dampak Perang Timur Tengah ke Ekonomi Global
Tim investasi senior di Klay Group menilai risiko terbesar bagi pasar adalah kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas atau kerusakan infrastruktur energi di negara produsen utama kawasan Teluk.
Menurut mereka, skenario tersebut berpotensi mendorong harga minyak naik lebih tinggi, memicu inflasi global, memperketat likuiditas, dan meningkatkan risiko resesi.
Dolar AS jadi aset favorit
Di tengah volatilitas pasar global, dolar AS menjadi salah satu aset yang mencatat kinerja terbaik.
Mata uang tersebut berada di jalur untuk menguat sekitar 1,4% sepanjang pekan ini, didorong permintaan sebagai aset safe haven serta berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah ke Level Terendah Hampir Sebulan pada Jumat (6/3/2026)
Sebaliknya, euro diperkirakan melemah sekitar 1,7% sepanjang pekan karena kerentanan ekonomi Eropa terhadap lonjakan harga energi. Poundsterling juga diperkirakan turun sekitar 0,95%.
Pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini sekitar 40 basis poin, turun dari perkiraan 56 basis poin pada pekan lalu.
Sementara peluang pemangkasan suku bunga oleh Bank of England bulan ini juga turun menjadi 23%, dari sebelumnya hampir pasti.
Di sisi lain, European Central Bank justru diperkirakan masih berpotensi menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.













