Sumber: Business Times | Editor: Noverius Laoli
Tanpa alokasi CSR, laba setahun penuh mencapai S$11,03 miliar, masih di bawah estimasi konsensus S$11,27 miliar. Return on equity 2025 tercatat 16,2%, turun dari 18% pada 2024.
Meski menghadapi tekanan suku bunga, nilai tukar, dan pajak, Tan menilai kinerja volume bisnis justru menunjukkan pertumbuhan struktural yang kuat.
Sepanjang 2025, pertumbuhan simpanan mencapai S$64 miliar, tertinggi sepanjang sejarah DBS, sementara dana baru bersih menyentuh rekor S$39 miliar.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi US$ 5.400: Investor Siap Raup Cuan Gila?
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) pada kuartal IV berada di level 1%, membaik dibandingkan 1,1% setahun sebelumnya.
Namun, pencadangan spesifik meningkat menjadi 36 basis poin setelah DBS menurunkan kualitas kredit eksposur properti di Hong Kong secara konservatif. Manajemen menegaskan cadangan umum bank tetap memadai untuk menutup risiko tersebut.
Untuk pemegang saham, DBS membagikan dividen total S$0,81 per saham pada kuartal IV, terdiri dari dividen reguler S$0,66 dan dividen pengembalian modal S$0,15.
Sepanjang 2025, total dividen meningkat 38% menjadi S$3,06 per saham.
Baca Juga: Bank DBS dan Mandiri Investasi Tawarkan ETF Gold, Cara Baru Investasi Emas
DBS berencana melanjutkan dividen pengembalian modal sebesar S$0,15 per saham per kuartal hingga 2027, dengan catatan tidak ada kondisi luar biasa. Saham DBS ditutup melemah 1,9% ke level S$58,19 pada perdagangan Senin.













