Sumber: Money Wise | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Bukan hanya politisi yang khawatir. Laporan S&P Global tahun 2025 mencatat bahwa dunia yang selama puluhan tahun didorong globalisasi kini berubah menjadi dunia yang didominasi risiko geopolitik.
Ketidakpastian ini berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi global, inflasi, pasar keuangan, hingga rantai pasok.
Tak heran, banyak masyarakat merasa bingung menentukan langkah terbaik untuk melindungi keuangan mereka di tengah situasi yang semakin tak menentu.
- Pentingnya Pendamping Profesional
Dalam kondisi geopolitik yang bergejolak, dampaknya bisa merembet hingga tabungan dan dana pensiun. Karena itu, bekerja sama dengan penasihat keuangan profesional dinilai penting untuk menjaga stabilitas jangka panjang.
Penasihat yang berstatus fidusia secara hukum wajib mengutamakan kepentingan klien, membantu menyusun strategi investasi yang lebih tahan guncangan pasar.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terus Naik Senin (26/1) Pagi: Brent ke US$66 dan WTI ke US$61,21
- Kesalahan Umum Saat Krisis: Menyimpan Uang Tunai
Saat ketidakpastian meningkat, banyak orang tergoda menyimpan uang tunai. Namun para investor kawakan justru mengingatkan sebaliknya.
Warren Buffett pernah mengatakan bahwa dalam perang besar, nilai uang justru cenderung turun. Inflasi yang biasanya menyertai konflik membuat uang tunai kehilangan daya beli.
Aset yang menghasilkan imbal hasil—seperti saham, obligasi, dan instrumen alternatif—dinilai lebih mampu melawan inflasi dibanding sekadar menyimpan uang tunai.
- Aset yang Perlu Dicermati di Masa Krisis
Tidak semua aset aman. Jamie Dimon sendiri memperingatkan risiko di sektor properti komersial, terutama gedung perkantoran dan proyek konstruksi tertentu yang terdampak krisis perbankan regional AS.
Sejak pandemi, banyak bisnis ritel fisik terpukul, sehingga berdampak langsung pada pendapatan pemilik properti. Karena itu, selektivitas menjadi kunci utama.













