kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.917.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.796   -54,00   -0,32%
  • IDX 8.942   -8,76   -0,10%
  • KOMPAS100 1.239   4,92   0,40%
  • LQ45 878   4,87   0,56%
  • ISSI 328   -0,78   -0,24%
  • IDX30 448   -0,47   -0,10%
  • IDXHIDIV20 531   -0,56   -0,11%
  • IDX80 138   0,64   0,46%
  • IDXV30 148   -0,33   -0,23%
  • IDXQ30 144   0,05   0,03%

CEO JPMorgan: Perang Dunia III Sudah Dimulai? Ini Dampaknya ke Ekonomi


Senin, 26 Januari 2026 / 09:31 WIB
CEO JPMorgan: Perang Dunia III Sudah Dimulai? Ini Dampaknya ke Ekonomi
ILUSTRASI. Pernyataan CEO JPMorgan Jamie Dimon soal Perang Dunia III memicu kekhawatiran. (REUTERS/Denis Balibouse)


Sumber: Money Wise | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, kembali memantik perdebatan global setelah menyebut bahwa Perang Dunia III sejatinya sudah dimulai. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam pertemuan tahunan Institute of International Finance di Washington DC pada Oktober 2024.

Money Wise melaporkan, menurut Dimon, ancaman perang dan proliferasi senjata nuklir saat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan perubahan iklim.

“Perang Dunia III sudah dimulai. Kita sudah melihat pertempuran di berbagai negara yang saling terkoordinasi,” ujar Dimon.

Meski pernyataan itu menuai kontroversi, satu hal yang tak bisa dipungkiri: ketegangan geopolitik global terus meningkat sejak komentar tersebut dilontarkan.

Ketegangan Global Makin Nyata

Saat itu, Dimon menyoroti potensi konflik antara negara-negara Barat dengan China, Rusia, Iran, dan Korea Utara sebagai risiko utama, bahkan melampaui ancaman gejolak pasar keuangan global.

Ia juga mengungkapkan bahwa JPMorgan Chase telah menyusun berbagai skenario ekstrem untuk menghadapi kemungkinan konflik global.

“Skenario-skenario itu akan membuat Anda terkejut,” kata Dimon.

Memang, Perang Dunia III secara resmi belum terjadi. Namun sejak akhir 2024, eskalasi geopolitik justru semakin terasa, sebagian dipicu oleh kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Baca Juga: SM Entertainment Ekspansi Global, Resmikan Akademi K-pop di Singapura

Perang Dagang, Tarif, dan Isu Greenland

Dalam setahun terakhir, pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan tarif besar-besaran tidak hanya kepada China dan Rusia, tetapi juga terhadap sekutu dekat seperti Kanada dan Uni Eropa.

AS bahkan menuai kritik internasional setelah Trump berulang kali menyatakan keinginan agar Amerika Serikat “memiliki” Greenland, demi mengamankan sumber daya mineral strategis. Setelah ketegangan berlarut-larut, Trump mengumumkan kerangka kesepakatan sementara dengan Sekjen NATO Mark Rutte usai World Economic Forum 2026.

Langkah ini mendapat penolakan keras dari banyak pemimpin dunia.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa ancaman tarif tidak dapat diterima dan Eropa siap merespons secara bersama-sama. Sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menekankan bahwa masa depan Greenland sepenuhnya hak rakyat Greenland dan Denmark.

Bahkan dari internal Partai Republik, kritik bermunculan. Anggota DPR AS Don Bacon menyebut ancaman terhadap Greenland sebagai tindakan “absurd” dan tidak pantas terhadap sekutu NATO.

Baca Juga: Taiwan Waspadai Perubahan yang Dinilai Abnormal di Kepemimpinan Militer China

Dunia Masuk Era Risiko Geopolitik

Bukan hanya politisi yang khawatir. Laporan S&P Global tahun 2025 mencatat bahwa dunia yang selama puluhan tahun didorong globalisasi kini berubah menjadi dunia yang didominasi risiko geopolitik.

Ketidakpastian ini berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi global, inflasi, pasar keuangan, hingga rantai pasok.

Tak heran, banyak masyarakat merasa bingung menentukan langkah terbaik untuk melindungi keuangan mereka di tengah situasi yang semakin tak menentu.

  • Pentingnya Pendamping Profesional

Dalam kondisi geopolitik yang bergejolak, dampaknya bisa merembet hingga tabungan dan dana pensiun. Karena itu, bekerja sama dengan penasihat keuangan profesional dinilai penting untuk menjaga stabilitas jangka panjang.

Penasihat yang berstatus fidusia secara hukum wajib mengutamakan kepentingan klien, membantu menyusun strategi investasi yang lebih tahan guncangan pasar.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terus Naik Senin (26/1) Pagi: Brent ke US$66 dan WTI ke US$61,21

  • Kesalahan Umum Saat Krisis: Menyimpan Uang Tunai

Saat ketidakpastian meningkat, banyak orang tergoda menyimpan uang tunai. Namun para investor kawakan justru mengingatkan sebaliknya.

Warren Buffett pernah mengatakan bahwa dalam perang besar, nilai uang justru cenderung turun. Inflasi yang biasanya menyertai konflik membuat uang tunai kehilangan daya beli.

Aset yang menghasilkan imbal hasil—seperti saham, obligasi, dan instrumen alternatif—dinilai lebih mampu melawan inflasi dibanding sekadar menyimpan uang tunai.

  • Aset yang Perlu Dicermati di Masa Krisis

Tidak semua aset aman. Jamie Dimon sendiri memperingatkan risiko di sektor properti komersial, terutama gedung perkantoran dan proyek konstruksi tertentu yang terdampak krisis perbankan regional AS.

Sejak pandemi, banyak bisnis ritel fisik terpukul, sehingga berdampak langsung pada pendapatan pemilik properti. Karena itu, selektivitas menjadi kunci utama.

  • Mencari Aset yang Lebih Tangguh

Di tengah kondisi ini, aset yang tahan krisis menjadi incaran. Namun, menemukan instrumen semacam itu membutuhkan keahlian dan analisis mendalam.

Bagi investor ritel, bekerja sama dengan platform atau manajer investasi berpengalaman dapat membuka akses ke aset berkualitas institusional yang sebelumnya hanya bisa dijangkau investor besar.

  • Diversifikasi Jadi Kunci

Pasar saham cenderung bereaksi keras terhadap isu perang, bahkan hanya dari rumor. Ketidakpastian adalah musuh utama pasar.

CEO Goldman Sachs David Solomon pernah memperingatkan potensi koreksi pasar saham sebesar 10–20% dalam 12 hingga 24 bulan.

Tonton: Harga Emas Antam Berkilau Hari Ini (26 Januari 2026)

Karena itu, diversifikasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Investor kelas dunia seperti Jeff Bezos dan Bill Gates tetap berinvestasi di saham, namun juga menyisihkan portofolio mereka ke aset alternatif yang pergerakannya tidak selalu sejalan dengan pasar saham.

Selanjutnya: Mari Menghitung Kinerja Saham Grup Konglomerasi

Menarik Dibaca: IHSG Berpotensi Rebound, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Senin (26/1)




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×