Sumber: Jerusalem Post | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Iran diduga tengah bersiap menghadapi kemungkinan serangan Amerika Serikat (AS). Indikasi ini terlihat dari citra satelit resolusi tinggi yang menunjukkan aktivitas tidak biasa di kompleks nuklir Isfahan.
Para pakar mengatakan kepada The Jerusalem Post pada Selasa (waktu setempat) bahwa pemerintah Iran telah menutup sejumlah akses masuk fasilitas nuklir tersebut dengan timbunan tanah. Langkah ini diyakini sebagai bagian dari upaya pertahanan pasif untuk meminimalkan dampak serangan udara maupun operasi darat.
Berdasarkan citra satelit yang diambil pada minggu lalu, pintu masuk bagian tengah dan selatan fasilitas nuklir Isfahan telah ditutup menggunakan tanah. Sementara itu, pintu terowongan paling utara, yang sebelumnya sudah dilengkapi sistem pertahanan tambahan, juga ikut ditimbun.
“Penutupan terowongan dengan tanah dapat meredam dampak serangan udara dan mempersulit akses pasukan khusus jika terjadi operasi darat untuk merebut atau menghancurkan uranium yang diperkaya tinggi di dalamnya,” tulis Institute of Science and International Security.
Lembaga tersebut menambahkan bahwa persiapan serupa terakhir kali terlihat menjelang Operasi Midnight Hammer yang menghantam fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Jonathan Hackett, mantan anggota Korps Marinir AS yang berpengalaman lebih dari 20 tahun di bidang intelijen dan kontraintelijen, menilai aktivitas tersebut sebagai bagian dari strategi pertahanan Iran menghadapi potensi serangan AS.
Baca Juga: PM China Li Tinjau Fasilitas Tanah Jarang, Isyaratkan Daya Tawar Rivalitas dengan AS
“Aktivitas pada akhir Januari hingga awal Februari 2026 di kompleks nuklir Isfahan kemungkinan merupakan bagian dari upaya besar Iran membangun lapisan pertahanan bagi fasilitas nuklir dan rudal balistiknya,” kata Hackett.
Ia juga menyebut bahwa saat unit teknik menutup terowongan di Isfahan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara bersamaan meningkatkan pengamanan di lokasi-lokasi rudal balistik strategis.
“Pada 31 Januari 2026, unit khusus Pasukan Darat IRGC dikerahkan ke berbagai wilayah untuk memperkuat keamanan fasilitas rudal yang menjadi elemen penting pertahanan Iran jika terjadi serangan AS,” lanjutnya.
Baca Juga: Dolar AS Terpuruk 9% Setahun: Ada Apa dengan Mata Uang Paling Kuat Dunia?
Strategi Pertahanan dan Ketegangan Diplomatik
Hackett menjelaskan bahwa pengerahan pasukan ini sejalan dengan strategi lama Iran yang dikenal sebagai Mosaic Doctrine, di mana Pasukan Darat dan Pasukan Dirgantara IRGC bekerja sama untuk mengamankan infrastruktur militer strategis.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran dan Amerika Serikat diketahui telah menggelar pembicaraan tidak langsung pekan lalu. Ketegangan dipicu oleh program nuklir Iran serta penindakan keras terhadap aksi protes di dalam negeri yang dilaporkan menewaskan puluhan ribu orang dan memicu pelanggaran HAM serius.
Meski beberapa pejabat Iran sempat menyatakan kesiapan untuk mengencerkan stok uranium yang diperkaya hingga 60% dengan imbalan pencabutan sanksi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa penghentian total pengayaan uranium adalah hal yang tidak bisa diterima.
“Pembahasan seharusnya difokuskan pada skenario di mana pengayaan uranium tetap berlangsung, disertai jaminan bahwa tujuannya murni damai,” ujar Araghchi.
Dr. Lynette Nusbacher, mantan perwira intelijen Angkatan Darat Inggris, menilai aktivitas di Isfahan juga merupakan pesan politik yang sengaja ditampilkan.
Tonton: Terima Audiensi dengan Apindo, Prabowo Bahas Perluasan Lapangan Kerja
“Iran melindungi fasilitas ini dengan cara yang bisa terlihat jelas dari satelit. Jauh lebih mudah mengerahkan buldoser untuk menutup akses dibanding harus membangun ulang setelah dihantam rudal Tomahawk atau bom penembus bunker,” ujarnya.
Menurut Nusbacher, Iran kemungkinan menilai bahwa pesan dari pembicaraan terakhir dengan utusan AS adalah pilihan antara menghentikan program nuklir atau melihatnya dihancurkan oleh kekuatan militer AS.
Sementara itu, analis keamanan Iran-Israel dari Universitas Haifa, Dr. Efrat Sopher, mempertanyakan apa yang sebenarnya disembunyikan Iran di Isfahan.
“Mereka tampaknya mengantisipasi keterlibatan militer. Ini menarik, karena dalam skenario serangan, fasilitas tersebut kemungkinan besar akan diserang dari udara,” ujarnya.












![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)