Sumber: Reuters | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - Penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, melontarkan pandangan optimistis terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Hassett optimistis bahwa fenomena supply shock yang dipicu oleh masifnya belanja modal atau capital spending di Amerika Serikat serta peningkatan produktivitas akibat adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan menjadi katalis utama bagi Federal Reserve untuk melonggarkan suku bunga.
Menurut Hassett, gelombang investasi di sektor AI saat ini menciptakan efisiensi yang signifikan di sisi penawaran.
"Jika kita mengalami supply shock seperti yang kita lihat akibat belanja modal yang masif... AI meningkatkan produktivitas, maka hal ini menciptakan tekanan ke bawah (downward pressure) pada inflasi," ujar Hassett dalam sebuah wawancara seperti dikutip kantor berita Reuters.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Menguat Tipis, Menunggu Hasil Gencatan Senjata AS-Iran
Ia menambahkan, meredanya tekanan inflasi ini seharusnya memberikan ruang gerak bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga lebih leluasa.
Lebih lanjut, Hassett menyoroti transisi kepemimpinan di bank sentral AS. Ia memprediksi bahwa kebijakan penurunan suku bunga akan semakin terbuka lebar jika Kevin Warsh, yang telah dinominasikan oleh Presiden Donald Trump sebagai calon Ketua Federal Reserve, resmi menduduki posisinya.
Dukungan Hassett mengindikasikan adanya harapan pasar akan kebijakan yang lebih pro-pertumbuhan di bawah nahkoda baru The Fed.













