Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Goldman Sachs mengeluarkan peringatan bahwa pasar saham Amerika Serikat berpotensi menghadapi tekanan jual besar dalam waktu dekat. Bank investasi global itu menilai aksi jual bisa mencapai US$ 80 miliar, seiring strategi dana berbasis tren (trend-following funds) yang terus mengurangi eksposur mereka.
Kondisi ini juga berisiko menyeret Bitcoin dan aset kripto lainnya jika sentimen risiko global memburuk.
Mengutip CCN.com, dalam catatan kepada klien yang dikutip Bloomberg, desk perdagangan Goldman Sachs menyebut tingkat stres pasar masih tinggi, sementara likuiditas tergolong tipis. Situasi ini meningkatkan risiko volatilitas berlanjut, meskipun pasar saham sempat rebound pada akhir pekan lalu.
Goldman: Potensi Aksi Jual Bisa Capai US$ 80 Miliar
Goldman Sachs menjelaskan bahwa indeks S&P 500 telah menembus level jangka pendek yang biasanya memicu aksi jual oleh Commodity Trading Advisers (CTA), yakni dana sistematis yang menyesuaikan posisi berdasarkan tren harga, bukan fundamental.
Menurut estimasi Goldman, penurunan lanjutan dapat mendorong CTA menjual sekitar US$ 33 miliar saham AS hanya dalam pekan ini. Jika tekanan berlanjut, total aksi jual tambahan dalam satu bulan ke depan berpotensi mencapai US$ 80 miliar.
Baca Juga: Ramalan Kiyosaki: Perak Bakal Tembus US$ 200, Ini Strategi Belinya
Bahkan jika pasar bergerak datar atau kembali naik, Goldman menilai CTA masih cenderung menjadi penjual bersih. Artinya, tekanan jual berisiko bertahan dalam berbagai skenario pasar.
Goldman juga mencatat indikator stres internal, termasuk Panic Index, telah melonjak mendekati level yang biasanya dikaitkan dengan ketakutan ekstrem di pasar. Selain itu, posisi pelaku pasar opsi kini condong ke “short gamma”, kondisi yang dapat memperbesar pergerakan harga karena dealer terpaksa membeli saat harga naik dan menjual saat harga turun.
Dampaknya ke Bitcoin dan Pasar Kripto
Meski peringatan Goldman berfokus pada saham, volatilitas berkepanjangan di Wall Street kerap merembet ke pasar kripto. Dalam kondisi tekanan makro, Bitcoin dan aset digital lain sering diperlakukan sebagai aset berisiko tinggi.
Jika aksi jual sistematis di saham meningkat dan volatilitas melonjak, Bitcoin berpotensi tertekan akibat deleverage portofolio dan menurunnya selera risiko investor. Likuiditas yang tipis juga bisa memperbesar fluktuasi harga kripto, mengingat penggunaan leverage masih cukup tinggi di pasar.
Baca Juga: Prediksi Harga Perak 2026: Mungkinkah Tembus US$ 200 per Ounce?
Perdebatan Safe Haven: Bitcoin vs Emas Kembali Mengemuka
Di tengah potensi gejolak pasar, perdebatan soal aset lindung nilai kembali menguat, termasuk apakah Bitcoin dapat menyaingi emas sebagai penyimpan nilai.
Pendiri Ark Invest, Cathie Wood, baru-baru ini menyatakan lebih memilih Bitcoin dibanding emas dalam kondisi saat ini. Menurutnya, faktor-faktor yang biasanya mendorong reli besar emas tidak sepenuhnya hadir saat ini.
Sementara itu, JPMorgan menyoroti perubahan dinamika antara Bitcoin dan emas. Bank tersebut menilai daya tarik Bitcoin secara risk-adjusted membaik setelah reli emas diiringi peningkatan volatilitasnya.
Tonton: Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun
Dalam catatan terbarunya, analis JPMorgan menyebut volatilitas Bitcoin relatif terhadap emas telah turun ke level terendah sepanjang sejarah. Hal ini memperbaiki profil risiko jangka panjang Bitcoin, meskipun harga aset kripto sempat melemah dalam beberapa pekan terakhir.
JPMorgan juga menambahkan bahwa tekanan jual di pasar kripto sejauh ini masih relatif terkendali, dengan aktivitas likuidasi yang lebih rendah dibandingkan fase penurunan sebelumnya.













