kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.844.000   -183.000   -6,05%
  • USD/IDR 16.801   -14,00   -0,08%
  • IDX 7.994   71,17   0,90%
  • KOMPAS100 1.118   10,11   0,91%
  • LQ45 814   7,71   0,96%
  • ISSI 283   4,31   1,55%
  • IDX30 426   5,34   1,27%
  • IDXHIDIV20 511   5,56   1,10%
  • IDX80 125   1,61   1,31%
  • IDXV30 138   2,97   2,19%
  • IDXQ30 138   1,15   0,84%

Harga Minyak Dunia Stabil Selasa (3/2) Pagi: Brent ke US$66,36 dan WTI ke US$62,24


Selasa, 03 Februari 2026 / 08:52 WIB
Harga Minyak Dunia Stabil Selasa (3/2) Pagi: Brent ke US$66,36 dan WTI ke US$62,24
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Todd Korol)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Selasa (3/2/2026), seiring pelaku pasar mencermati kemungkinan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sementara penguatan dolar AS membatasi ruang kenaikan harga.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik tipis 6 sen atau 0,1% ke level US$66,36 per barel pada pukul 01.02 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,2% ke US$62,24 per barel.

Baca Juga: Dolar Bertahan Menguat Selasa (3/2), Didukung Data Ekonomi dan Ekspektasi The Fed

Sebelumnya, harga minyak sempat turun lebih dari 4% pada Senin, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran tengah melakukan pembicaraan serius dengan Washington.

Pernyataan tersebut memicu harapan akan deeskalasi ketegangan geopolitik dengan negara anggota OPEC tersebut.

Pejabat dari kedua negara mengatakan kepada Reuters bahwa Iran dan AS diperkirakan akan melanjutkan perundingan nuklir pada Jumat di Turki.

Meski demikian, Trump juga memperingatkan bahwa konsekuensi serius dapat terjadi jika kesepakatan gagal dicapai, terutama dengan kehadiran kapal perang besar AS di kawasan tersebut.

Pergerakan harga minyak tertahan oleh penguatan indeks dolar AS, yang bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari sepekan.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat Selasa (3/2), Emas Bangkit di Tengah Perdagangan yang Lebih Tenang

Dolar yang lebih kuat membuat minyak mentah berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga menekan permintaan.

Dari sisi perdagangan, Trump pada Senin mengumumkan kesepakatan dagang dengan India yang memangkas tarif AS atas barang-barang India menjadi 18% dari sebelumnya 50%.

Sebagai imbalannya, India sepakat menghentikan pembelian minyak Rusia dan menurunkan hambatan perdagangan.

Trump menyampaikan pengumuman tersebut melalui media sosial usai berbicara dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, seraya menyebut bahwa India juga setuju untuk membeli minyak dari Amerika Serikat dan kemungkinan dari Venezuela.

Dalam beberapa waktu terakhir, India memang mulai mengurangi impor minyak dari Rusia.

Baca Juga: Trump Klaim Meksiko Akan Hentikan Pengiriman Minyak ke Kuba

Pada Januari, impor tercatat sekitar 1,2 juta barel per hari (bph) dan diperkirakan turun menjadi 1 juta bph pada Februari serta 800 ribu bph pada Maret, menurut laporan Reuters.

Sementara itu, OPEC+ pada Minggu sepakat untuk mempertahankan tingkat produksi minyak pada Maret.

Delapan negara anggota Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman telah menaikkan kuota produksi sekitar 2,9 juta barel per hari dari April hingga Desember 2025, atau sekitar 3% dari total permintaan global.

Selanjutnya: Ekspor Minyak Venezuela Meroket 800.000 Bph, Kok Bisa?

Menarik Dibaca: IHSG Diproyeksi Lanjut Terkoreksi, Simak Rekomendasi Saham MNC Sekuritas Selasa (3/2)




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×