Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - LONDON. Laju inflasi Inggris kembali meningkat lebih cepat dari perkiraan pada Desember 2025. Data resmi yang dirilis pada Rabu (21/1) menunjukkan inflasi tahunan Inggris naik menjadi 3,4%, dari 3,2% pada November.
Kenaikan ini melampaui proyeksi mayoritas ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan inflasi konsumen hanya akan naik ke level 3,3%.
Dengan capaian tersebut, inflasi Inggris masih menjadi yang tertinggi di antara negara-negara Kelompok Tujuh (G7), meskipun pertumbuhan ekonomi negara itu tergolong lemah dan belum menunjukkan pemulihan signifikan.
Namun demikian, tekanan harga diperkirakan akan mereda dalam beberapa bulan ke depan. Perlambatan inflasi dipicu oleh efek perbandingan tahunan yang lebih rendah, seiring kenaikan tajam biaya utilitas dan sejumlah tarif yang dikendalikan pemerintah pada tahun lalu mulai keluar dari perhitungan inflasi tahunan.
Baca Juga: Menlu Rusia Lavrov Sindir Inggris: Tak Layak Lagi Sandang Nama Great Britain
Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey sebelumnya menyatakan bahwa inflasi berpeluang mendekati target bank sentral sebesar 2% pada April atau Mei mendatang, seiring meredanya tekanan biaya dan penyesuaian harga yang lebih stabil.
Di pasar keuangan, pelaku pasar saat ini memperkirakan Bank of England akan memangkas suku bunga acuan satu hingga dua kali masing-masing sebesar 25 basis poin sepanjang 2026, sebagai respons terhadap prospek inflasi yang menurun dan perlambatan ekonomi.
Pada Desember lalu, Komite Kebijakan Moneter Bank of England memangkas suku bunga acuan (Bank Rate) menjadi 3,75%. Meski demikian, hampir setengah dari anggota komite memilih untuk mempertahankan suku bunga, mencerminkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih cukup persisten di sejumlah sektor.













