kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.631.000   29.000   1,11%
  • USD/IDR 16.865   19,00   0,11%
  • IDX 8.827   -109,65   -1,23%
  • KOMPAS100 1.217   -11,71   -0,95%
  • LQ45 861   -6,68   -0,77%
  • ISSI 321   -3,38   -1,04%
  • IDX30 438   -1,39   -0,32%
  • IDXHIDIV20 517   0,41   0,08%
  • IDX80 135   -1,27   -0,93%
  • IDXV30 143   -0,60   -0,41%
  • IDXQ30 141   0,29   0,20%

Krisis Venezuela Guncang Asia: Mengapa China dan RI Serentak Kecam AS?


Minggu, 11 Januari 2026 / 07:23 WIB
Krisis Venezuela Guncang Asia: Mengapa China dan RI Serentak Kecam AS?
ILUSTRASI. Operasi Amerika Serikat pada 3 Januari untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro memicu reaksi cepat di berbagai negara Asia. (REUTERS/ADAM GRAY)


Sumber: foxnews | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Operasi Amerika Serikat pada 3 Januari untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro memicu reaksi cepat di berbagai negara Asia. Sejumlah pemerintah menilai langkah tersebut bisa melemahkan hukum internasional dan mengubah cara kekuatan besar menggunakan kekuasaan di luar kawasan Barat.

Sejumlah pemimpin Asia, termasuk Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, secara terbuka mengkritik operasi tersebut. Para analis juga mulai menilai apakah aksi ini mengubah perhitungan pencegahan (deterrence) dan menurunkan ambang batas penggunaan taktik penargetan pemimpin negara, terutama dalam konteks sensitif seperti hubungan China, Taiwan.

Kekhawatiran soal kedaulatan di Asia

Melansir Fox News, melalui platform X, Anwar menyatakan bahwa operasi AS tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional dan berpotensi melemahkan perlindungan yang selama ini diandalkan negara-negara kecil untuk mencegah tekanan dari kekuatan besar.

Pemerintah Malaysia mengatakan mereka memantau perkembangan ini secara serius karena implikasinya terhadap kedaulatan dan stabilitas global. Kekhawatiran ini juga dirasakan oleh sejumlah negara Asia lainnya.

Indonesia menyuarakan keprihatinan serupa. Kementerian Luar Negeri RI menyerukan penahanan diri dan menegaskan pentingnya menjunjung Piagam PBB. Thailand dan Vietnam juga menyerukan penyelesaian damai serta penghormatan terhadap kedaulatan negara. Sementara itu, Filipina dan Singapura menekankan pentingnya kepatuhan pada hukum internasional, meski tidak secara langsung mengecam operasi AS.

Baca Juga: Drone Korsel Langgar Udara Korut, Adik Kim Jong Un Tuntut Penjelasan Resmi

Dorongan diplomatik dari Beijing

Di China, Menteri Luar Negeri Wang Yi menolak gagasan bahwa satu negara bisa bertindak sebagai “hakim dunia” dan menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan nasional. Beijing menuntut pembebasan segera Maduro dan menggambarkan operasi AS sebagai tindakan destabilisasiyang merusak tatanan global.

Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar, Presiden China Xi Jinping menyampaikan kritik yang tajam namun tidak langsung terhadap AS. Xi mengecam apa yang ia sebut sebagai “perundungan sepihak” yang “secara serius merusak tatanan internasional”. Ia menegaskan bahwa semua negara, terutama kekuatan besar, harus menghormati pilihan pembangunan negara lain dan mematuhi hukum internasional serta prinsip-prinsip Piagam PBB.

Pejabat dan komentator China kemudian menggunakan insiden ini untuk menyoroti apa yang mereka anggap sebagai inkonsistensi diplomatik AS, sekaligus menangkis kritik terhadap langkah Beijing di Selat Taiwan dan Laut China Selatan. 

Para analis menilai penangkapan Maduro memberi China keuntungan retoris, meskipun Beijing tetap menolak adanya kesamaan antara Venezuela dan klaimnya atas Taiwan.

Baca Juga: Peringatan Keras Kremlin: Oreshnik Mengubah Total Aturan Negosiasi Damai

Perdebatan keamanan di Taiwan menguat

Di Taiwan, para pejabat berupaya meredam spekulasi bahwa operasi AS di Venezuela menjadi cetak biru baru untuk tindakan serupa terhadap pulau tersebut.

Wang Ting-yu, anggota parlemen dari Partai Progresif Demokratik yang duduk di komisi luar negeri dan pertahanan, menolak perbandingan tersebut. “China bukan Amerika Serikat, dan Taiwan bukan Venezuela. Anggapan bahwa China bisa melakukan hal yang sama terhadap Taiwan adalah keliru dan tidak tepat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa China selama ini tidak kekurangan niat bermusuhan secara militer terhadap Taiwan, tetapi yang tidak dimiliki Beijing adalah cara yang benar-benar layak untuk melakukannya.

Pernyataan Wang mencerminkan sikap pemerintah Taiwan yang berusaha menahan kecemasan publik, sambil menekankan bahwa perencanaan pertahanan tetap berjalan seperti biasa dan tidak ada perubahan strategi besar.

Tonton: Harga Beras Dunia Tertekan 2026! India, Thailand & Vietnam Berebut Pasar, Petani Terjepit?

Meski demikian, para analis menilai operasi AS tersebut telah mempertajam perdebatan soal risiko eskalasi dan stabilitas krisis. Sebagian pihak khawatir langkah ini bisa menormalkan wacana serangan “pemenggalan kepemimpinan”, mengingat militer China telah lama menggelar latihan yang mensimulasikan serangan terhadap struktur komando dalam skenario konflik Taiwan. Namun pihak lain berpendapat, insiden ini lebih menunjukkan kapabilitas AS, bukan niat untuk menjadikannya pola baru.

Selanjutnya: Spotify vs YouTube Music: Mana Layanan Streaming Terbaik di 2026?

Menarik Dibaca: Spotify vs YouTube Music: Mana Layanan Streaming Terbaik di 2026?




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×