kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.911   11,00   0,06%
  • IDX 6.334   -5,54   -0,09%
  • KOMPAS100 835   -3,80   -0,45%
  • LQ45 633   -4,09   -0,64%
  • ISSI 218   -0,18   -0,08%
  • IDX30 356   -2,06   -0,58%
  • IDXHIDIV20 441   -2,49   -0,56%
  • IDX80 95   -0,52   -0,54%
  • IDXV30 119   0,04   0,03%
  • IDXQ30 114   -0,74   -0,65%

Laporan Oxfam: Pajak perparah kesenjangan antara orang kaya dan miskin secara global


Minggu, 27 Januari 2019 / 18:00 WIB


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - DAVOS. Kesenjangan antara masyarakat kaya dan miskin semakin tinggi secara global. Badan amal Oxfam International baru saja merilis laporan yang menunjukkan sistem pajak yang membebani masyarakat miskin guna memenuhi dana pelayanan publik.

Direktur Eksekutif Oxfam Winnie Byanyima bilang kesenjangan ini memicu kemarahan publik secara global.

Badan amal yang bermarkas di Nairobi itu melaporkan miliarder baru diciptakan setiap dua hari sepanjang 2018. Sama halnya dengan separuh penduduk termiskin di dunia menyaksikan penurunan kekayaan mereka sebesar 11%.

Laporan tersebut, yang dirilis pada hari Senin ketika para pemimpin politik dan bisnis berkumpul untuk Forum Ekonomi Dunia tahunan di Davos, Swiss, mengatakan pemerintah semakin kekurangan dana layanan publik dan gagal untuk menekan pendanaan lewat pajak.

"Orang miskin menderita dua kali karena kehilangan layanan dasar dan juga membayar pajak yang lebih tinggi," kata Byanyima, mengutip Reuters, pada Minggu (27/1).

Lanjut Byanyima, nasib miliarder meningkat 12% tahun lalu, atau US$ 2,5 miliar per hari. Sedangkan 3,8 miliar orang termiskin melihat kekayaan mereka turun US$ 500 juta setiap hari.

Badan amal itu mengatakan tarif pajak untuk orang kaya dan perusahaan telah dipotong dalam beberapa dekade terakhir.

Padahal pemerintah gagal memajaki orang kaya. Namun pemerintah membebankan pajak kepada orang miskin melalui pungutan konsumen seperti pajak pertambahan nilai.

"Pajak tidak langsung seperti itu, pajak garam, gula atau sabun, dasar-dasar yang orang butuhkan. Maka orang miskin membayar relatif lebih banyak dari pendapatan mereka daripada orang kaya," tutur Byanyima.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×