Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
WASHINGTON. JAKARTA. Meta Platforms, TikTok, dan YouTube akan menghadapi pengawasan ketat di ruang sidang pekan ini atas tuduhan bahwa platform mereka memicu krisis kesehatan mental di kalangan remaja, seiring perdebatan nasional tentang durasi waktu layar (screen time) anak memasuki babak baru.
Persidangan penting di Pengadilan Tinggi California, County Los Angeles, melibatkan seorang perempuan berusia 19 tahun asal California yang diidentifikasi sebagai K.G.M.
Ia menyatakan bahwa dirinya mengalami kecanduan pada platform milik perusahaan-perusahaan tersebut sejak usia dini karena desain aplikasi yang dirancang untuk menarik perhatian pengguna, sebagaimana tertuang dalam dokumen pengadilan.
K.G.M. menuduh aplikasi-aplikasi tersebut memperparah depresinya hingga memicu pikiran untuk bunuh diri, dan kini berupaya menuntut pertanggungjawaban hukum dari perusahaan-perusahaan teknologi tersebut.
Baca Juga: YouTube Patuh pada Aturan Larangan Medsos untuk Remaja di Australia
Gugatan ini menjadi yang pertama dari serangkaian kasus yang diperkirakan akan disidangkan tahun ini dengan fokus pada apa yang disebut penggugat sebagai “kecanduan media sosial” pada anak-anak.
Ini juga menjadi kali pertama raksasa teknologi harus membela diri di pengadilan atas dugaan dampak buruk produk mereka, menurut pengacara penggugat, Matthew Bergman.
“Mereka akan berada di bawah tingkat pengawasan yang tidak terjadi ketika Anda bersaksi di depan Kongres,” ujarnya kepada Reuters.
Juri akan menentukan apakah perusahaan-perusahaan tersebut lalai dalam menyediakan produk yang merusak kesehatan mental K.G.M., serta apakah penggunaan aplikasi menjadi faktor utama dalam depresinya, dibandingkan faktor lain seperti konten pihak ketiga yang ia lihat di aplikasi atau kondisi kehidupan pribadinya di luar dunia digital.
“Ini benar-benar kasus uji coba,” kata Clay Calvert, pengacara media dari American Enterprise Institute, lembaga think tank yang pro-bisnis.
“Kita akan melihat bagaimana teori bahwa platform media sosial menyebabkan kerugian pada penggugat ini diuji di pengadilan,” terangnya.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, diperkirakan akan memberikan kesaksian di persidangan. Meta akan berargumen bahwa produknya tidak menyebabkan gangguan kesehatan mental yang dialami K.G.M., menurut pengacara perusahaan sebelum sidang dimulai.
CEO Snap, Evan Spiegel, awalnya juga dijadwalkan bersaksi karena perusahaannya turut disebut dalam gugatan. Namun pada 20 Januari, Snap mencapai kesepakatan damai dengan K.G.M. Juru bicara Snap menolak memberikan komentar terkait rincian kesepakatan tersebut.
Sementara itu, YouTube akan berargumen bahwa platformnya secara mendasar berbeda dari media sosial seperti Instagram dan TikTok, sehingga tidak seharusnya disamakan dalam perkara ini, menurut seorang eksekutif YouTube. TikTok menolak berkomentar terkait strategi pembelaannya di pengadilan.
Baca Juga: Sempat Terhenti 2 Pekan, Disney dan Youtube TV Akhirnya Sepakati Kesepakatan Baru
Upaya Membentuk Opini Publik
Seiring dimulainya persidangan, perusahaan-perusahaan teknologi tersebut juga menjalankan kampanye nasional untuk meyakinkan publik bahwa produk mereka aman bagi remaja.
Mereka meluncurkan berbagai fitur yang diklaim memberikan kontrol lebih besar kepada orang tua terhadap penggunaan platform oleh anak, serta menggelontorkan jutaan dolar untuk mempromosikan fitur tersebut.
Sejak setidaknya 2018, Meta telah mensponsori lokakarya bagi orang tua di puluhan sekolah menengah atas di seluruh Amerika Serikat terkait keamanan remaja di dunia maya.
Salah satu lokakarya bertajuk Screen Smart digelar di Los Angeles pada 2024, bekerja sama dengan Presiden National PTA Yvonne Johnson dan Kepala Keamanan Meta Antigone Davis. National PTA adalah organisasi nirlaba yang fokus pada kesejahteraan anak.
TikTok juga mensponsori kegiatan serupa melalui 100 PTA lokal dan regional dengan program bertajuk Create with Kindness. Program ini mencakup pelatihan bagi orang tua mengenai fitur TikTok, termasuk opsi pembatasan waktu layar di malam hari.
Baca Juga: YouTube Pulih dari Gangguan Global Kamis (16/10) Pagi, Ratusan Ribu Pengguna Terimbas
Perusahaan induk YouTube, Google, dalam beberapa tahun terakhir menggandeng organisasi Girl Scouts untuk menunjukkan komitmennya terhadap keamanan anak di dunia digital.
Anggota Girl Scouts dapat memperoleh lencana khusus berlogo Google setelah menyelesaikan pelajaran tentang kata sandi yang kuat, etika berinteraksi di dunia maya, serta privasi digital.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan tersebut juga merekrut pengacara yang sebelumnya menangani perkara besar terkait isu kecanduan. Meta menunjuk firma hukum Covington & Burling yang pernah mewakili McKesson dalam litigasi besar terkait epidemi opioid.
Sementara penasihat hukum TikTok sebelumnya pernah mewakili Activision Blizzard dan Microsoft dalam sengketa terkait desain video game dan isu kecanduan.
“Perusahaan-perusahaan ini menggunakan setiap saluran pengaruh yang bisa dibayangkan,” ujar Julie Scelfo, pendiri Mothers Against Media Addiction, kelompok yang mendukung pelarangan ponsel pintar di sekolah.
“Ini bisa sangat membingungkan bagi orang tua dalam menentukan siapa yang harus dipercaya,” tambahnya.













