kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.844.000   -183.000   -6,05%
  • USD/IDR 16.784   -34,00   -0,20%
  • IDX 8.047   124,49   1,57%
  • KOMPAS100 1.126   18,02   1,63%
  • LQ45 818   11,61   1,44%
  • ISSI 285   6,90   2,48%
  • IDX30 428   7,25   1,72%
  • IDXHIDIV20 513   7,20   1,43%
  • IDX80 126   2,14   1,74%
  • IDXV30 140   4,18   3,09%
  • IDXQ30 139   1,46   1,07%

OpenAI Tak Puas dengan Sejumlah Chip Nvidia, Mulai Cari Alternatif


Selasa, 03 Februari 2026 / 09:08 WIB
OpenAI Tak Puas dengan Sejumlah Chip Nvidia, Mulai Cari Alternatif
ILUSTRASI. ChatGPT (OpenAI/Digital Trends)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - OpenAI dikabarkan tidak sepenuhnya puas dengan sebagian chip kecerdasan buatan (AI) terbaru milik Nvidia dan sejak tahun lalu mulai mencari alternatif lain, menurut delapan sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Langkah ini berpotensi memperumit hubungan dua pemain paling menonjol dalam ledakan industri AI global.

Perubahan strategi pembuat ChatGPT ini, yang pertama kali dilaporkan Reuters pada Selasa (2/2/2026), berkaitan dengan meningkatnya fokus pada chip untuk proses inference AI, yakni tahap ketika model AI seperti yang digunakan ChatGPT menjawab pertanyaan dan permintaan pengguna.

Baca Juga: Ibu Kota Ukraina Kyiv dan Sejumlah Kota Lain Diserang Rusia

Selama ini, Nvidia tetap mendominasi chip untuk pelatihan (training) model AI skala besar, namun inference kini menjadi medan persaingan baru.

Keputusan OpenAI dan sejumlah pemain lain untuk mencari alternatif di pasar chip inference menjadi ujian serius bagi dominasi Nvidia, terutama di tengah pembicaraan investasi antara kedua perusahaan.

Pada September lalu, Nvidia menyatakan niatnya menginvestasikan hingga US$100 miliar ke OpenAI sebagai bagian dari kesepakatan yang akan memberi Nvidia saham di startup tersebut sekaligus menyediakan dana bagi OpenAI untuk membeli chip canggih.

Saat itu, kesepakatan diperkirakan rampung dalam hitungan pekan, namun negosiasi justru berlarut-larut selama berbulan-bulan.

Baca Juga: Harga Emas Bangkit Lebih dari 3% ke US$4.837 Selasa (3/2) Usai Tertekan Tajam

Dalam periode tersebut, OpenAI telah menjalin kerja sama dengan AMD dan pihak lain untuk GPU yang dirancang menyaingi Nvidia.

Selain itu, perubahan peta jalan produk OpenAI juga mengubah kebutuhan komputasi perusahaan dan memperlambat pembicaraan dengan Nvidia, kata salah satu sumber.

CEO Nvidia Jensen Huang pada Sabtu lalu membantah adanya ketegangan dengan OpenAI, menyebut laporan tersebut sebagai “tidak masuk akal”, serta menegaskan rencana investasi besar Nvidia di OpenAI.

Dalam pernyataannya, Nvidia menyebut pelanggan tetap memilih produknya untuk inference karena kinerja dan total biaya kepemilikan terbaik dalam skala besar.

Sementara itu, juru bicara OpenAI mengatakan perusahaan masih mengandalkan Nvidia untuk sebagian besar armada inference-nya, dan Nvidia memberikan nilai kinerja terbaik per dolar.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil Selasa (3/2) Pagi: Brent ke US$66,36 dan WTI ke US$62,24

CEO OpenAI Sam Altman juga menulis di platform X bahwa Nvidia membuat “chip AI terbaik di dunia” dan OpenAI berharap tetap menjadi pelanggan besar dalam jangka panjang.

Namun, tujuh sumber mengatakan OpenAI tidak puas dengan kecepatan chip Nvidia dalam menghasilkan respons ChatGPT untuk jenis tugas tertentu, seperti pengembangan perangkat lunak dan komunikasi AI dengan sistem lain.

OpenAI membutuhkan perangkat keras baru yang kelak dapat menyumbang sekitar 10% kebutuhan komputasi inference perusahaan.

OpenAI disebut telah membahas kerja sama dengan startup seperti Cerebras dan Groq untuk chip inference berkecepatan tinggi.

Namun, pembicaraan dengan Groq terhenti setelah Nvidia menandatangani kesepakatan lisensi senilai US$20 miliar dengan perusahaan tersebut. Nvidia menyatakan teknologi Groq sangat melengkapi peta jalan produknya.

Fokus pada Chip Berbasis Memori

Pencarian alternatif GPU oleh OpenAI berfokus pada perusahaan yang mengembangkan chip dengan memori besar yang terintegrasi langsung di dalam silikon (SRAM).

Pendekatan ini dinilai memberi keunggulan kecepatan untuk chatbot dan sistem AI lain yang harus melayani jutaan permintaan pengguna.

Proses inference membutuhkan memori lebih besar dibanding pelatihan karena chip lebih banyak mengakses data ketimbang melakukan operasi matematika. GPU Nvidia dan AMD masih mengandalkan memori eksternal, yang dapat menambah latensi.

Baca Juga: Dolar Bertahan Menguat Selasa (3/2), Didukung Data Ekonomi dan Ekspektasi The Fed

Isu ini menjadi sangat terasa pada Codex, produk OpenAI untuk pembuatan kode komputer.

Sejumlah staf OpenAI mengaitkan sebagian kelemahan Codex dengan keterbatasan perangkat keras berbasis GPU Nvidia. Altman sendiri mengatakan pelanggan layanan coding OpenAI sangat memprioritaskan kecepatan.

Sebagai perbandingan, pesaing seperti Anthropic (Claude) dan Google (Gemini) diuntungkan oleh penggunaan chip buatan sendiri, seperti Tensor Processing Units (TPU) milik Google, yang dirancang khusus untuk inference dan penalaran AI.

Nvidia Bergerak Cepat

Seiring munculnya keraguan OpenAI, Nvidia dilaporkan mendekati sejumlah perusahaan pengembang chip berbasis SRAM, termasuk Cerebras dan Groq, untuk potensi akuisisi. Cerebras menolak dan memilih menjalin kerja sama komersial dengan OpenAI.

Baca Juga: Ekspor Minyak Venezuela Meroket 800.000 Bph, Kok Bisa?

Groq sempat berdiskusi dengan OpenAI dan menarik minat investor dengan valuasi sekitar US$14 miliar, sebelum akhirnya Nvidia melisensi teknologi Groq dalam kesepakatan tunai non-eksklusif pada Desember lalu.

Sejak itu, Groq lebih fokus menjual perangkat lunak berbasis cloud, sementara Nvidia merekrut sejumlah perancang chip dari perusahaan tersebut.

Selanjutnya: IHSG Melemah pada Perdagangan Selasa (3/2) Pagi, BUMI, PGEO, AADI Top Losers LQ45

Menarik Dibaca: IHSG Ada Peluang Rebound, Berikut Rekomendasi Saham BNI Sekuritas Selasa (3/2)




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×