kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.669.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Protes di Iran Mereda Usai Tindakan Keras Aparat, Warga & Kelompok HAM Angkat Bicara


Jumat, 16 Januari 2026 / 21:37 WIB
Protes di Iran Mereda Usai Tindakan Keras Aparat, Warga & Kelompok HAM Angkat Bicara
ILUSTRASI. IRAN-ECONOMY/PROTESTS (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Gelombang protes di Iran dilaporkan mulai mereda setelah tindakan keras aparat keamanan yang menewaskan ribuan orang.

Kelompok hak asasi manusia (HAM) dan sejumlah warga menyebut situasi relatif tenang dalam beberapa hari terakhir, meskipun penangkapan masih terus berlangsung dan kehadiran aparat keamanan tetap masif.

Laporan Reuters, Jumat (16/1/2026), menyebutkan bahwa media pemerintah Iran kembali melaporkan adanya penangkapan baru, di tengah bayang-bayang ancaman Amerika Serikat (AS) untuk turun tangan apabila kekerasan kembali berlanjut.

Baca Juga: Meta Pangkas Ribuan Karyawan Reality Labs Usai Tekor US$ 73 Miliar

Namun, kekhawatiran atas serangan militer AS mulai mereda sejak Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pembunuhan terhadap demonstran di Iran telah berkurang.

Sejumlah sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi dan Qatar, diketahui melakukan diplomasi intensif dengan Washington sepanjang pekan ini guna mencegah serangan militer AS ke Iran.

Seorang pejabat Teluk menyebutkan bahwa serangan semacam itu berpotensi menimbulkan dampak luas bagi kawasan dan pada akhirnya merugikan AS sendiri.

Gedung Putih pada Kamis (15/1) menyatakan bahwa Trump dan timnya telah memperingatkan Teheran akan adanya “konsekuensi serius” jika kembali terjadi pertumpahan darah.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menambahkan bahwa sekitar 800 eksekusi terjadwal di Iran disebut telah dihentikan, seraya menegaskan bahwa Trump masih mempertimbangkan seluruh opsi yang ada.

Baca Juga: CEO Bank of America Ungkap Risiko Stablecoin Berbunga terhadap Simpanan Perbankan

Setelah pemadaman komunikasi dicabut awal pekan ini, laporan kekerasan mulai bermunculan.

Seorang perempuan di Teheran mengatakan kepada Reuters bahwa putrinya yang berusia 15 tahun tewas pada Jumat setelah mengikuti aksi demonstrasi di dekat rumah mereka.

Ia menyebut putrinya ditembak oleh pasukan Basij saat mencoba pulang ke rumah.

Aksi protes di Iran pecah sejak 28 Desember lalu dipicu melonjaknya inflasi dan tekanan ekonomi akibat sanksi internasional.

Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pemerintahan ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.

Kelompok HAM Iran-Kurdi yang berbasis di Norwegia, Hengaw, melaporkan bahwa tidak ada aksi demonstrasi besar sejak Minggu lalu. Namun, mereka menegaskan bahwa situasi keamanan masih sangat ketat, dengan pengerahan besar-besaran aparat militer dan keamanan di kota-kota yang sebelumnya menjadi pusat protes.

Baca Juga: Warren Buffett Pergi, Era Baru Dimulai, Gaji CEO Berkshire Melonjak 250 Kali Lipat




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×