Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Kapan Terakhir Digunakan?
Pada konflik 12 hari dengan Israel pada Juni 2025, Iran menembakkan rudal balistik ke wilayah Israel yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan bangunan.
Lembaga kajian seperti Institute for the Study of War (ISW) menyebut Israel kemungkinan menghancurkan sekitar sepertiga peluncur rudal Iran dalam konflik tersebut, meski Teheran mengklaim telah memulihkan kapasitasnya.
Iran juga pernah:
Menembakkan rudal ke pangkalan udara Al Udeid milik AS di Qatar pada 2025 (tanpa korban).
Meluncurkan rudal ke Irak dan Suriah pada 2024 terhadap target yang diklaim sebagai markas intelijen Israel dan militan ISIS.
Menyerang pangkalan pasukan pimpinan AS di Irak pada 2020 sebagai balasan atas tewasnya Mayor Jenderal Qassem Soleimani akibat serangan drone AS.
Dituduh terlibat dalam serangan drone dan rudal terhadap fasilitas minyak Arab Saudi pada 2019 (dibantah oleh Teheran).
Baca Juga: Presiden Prabowo Temui Raja Jordania, Kompak Wujudkan 2 Negara Palestina-Israel
Strategi dan Pengembangan
Iran menyatakan program rudalnya bersifat defensif dan bertujuan sebagai daya tangkal terhadap Amerika Serikat, Israel, dan potensi ancaman regional lainnya.
Menurut laporan 2023 oleh Behnam Ben Taleblu dari Foundation for Defense of Democracies, Iran terus mengembangkan depot rudal bawah tanah lengkap dengan sistem transportasi dan peluncuran, serta fasilitas produksi dan penyimpanan.
Pada 2020, Iran mengklaim untuk pertama kalinya berhasil meluncurkan rudal balistik dari fasilitas bawah tanah.
Pada Juni 2023, Iran juga memperkenalkan rudal balistik hipersonik buatan dalam negeri, yang menurut media resmi mampu melaju lebih dari lima kali kecepatan suara dan sulit dicegat.
Program rudal Iran disebut banyak mengadopsi desain Korea Utara dan Rusia, serta mendapat manfaat dari bantuan teknis China.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)