kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Sehari menjelang demo besar, polisi Hong Kong mengubah pedoman pengendalian massa


Kamis, 03 Oktober 2019 / 19:03 WIB

Sehari menjelang demo besar, polisi Hong Kong mengubah pedoman pengendalian massa
ILUSTRASI. Unjuk rasa pro demokrasi di Hong Kong

KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Kepolisian Hong Kong mengubah pedoman pengendalian massa yang berlaku sehari menjelang demo besar saat peringatan 70 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, ternyata.

Pada Selasa (1/10), bertepatan dengan Hari Nasional China, polisi Hong Kong mengerahkan kekuatan yang lebih besar dan penggunaan senjata api yang tinggi. Termasuk, menembakkan sekitar 1.400 gas air mata, 900 peluru karet, dan enam peluru karet yang mengarah langsung ke demonstran.

Lebih dari 100 orang terluka dalam bentrokan Selasa lalu, ketika pengunjuk rasa anti-pemerintah turun ke jalan di seluruh wilayah Hong Kong, dengan melemparkan bom molotov dan menyerang polisi. Untuk pertama kalinya dalam gelombang protes sejak Juni lalu, seorang demonstran ditembak langsung oleh polisi.

Baca Juga: Hong Kong kian membara, bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa meluas

Dalam dokumen yang Reuters lihat, Kepolisian Hong Kong mengubah beberapa pedoman pengendalian massa tentang bagaimana petugas bisa mengambil tindakan saat mempertimbangkan kekuatan.

Pedoman hasil revisi menghilangkan garis yang menyatakan: petugas akan bertanggungjawab atas tindakan mereka sendiri.  Aturannya berubah menjadi: petugas di lapangan harus menggunakan kebijaksanaan sendiri untuk menentukan tingkat kekuatan apa yang dibenarkan dalam situasi tertentu.

Tanya Chan, Anggota Parlemen dari Civic Party, mengatakan, perubahan pedoman itu signifikan. "Sebelumnya, (pedoman) ini mengatakan kepada petugas, bahwa mereka akan secara pribadi bertanggungjawab, yang telah menjadi masalah sekarang. Dengan menghapus garis ini, ini memberi kesan bahwa Kepolisian akan mendukung petugas dalam apa pun yang mereka lakukan," katanya seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Hong Kong memanas, polisi tembak demonstran remaja

Saat menghadapi "Perlawanan Pertahanan", pedoman pengendalian massa yang baru menyarankan petugas untuk mempertimbangkan metode anyar, termasuk penggunaan gas air mata dan semprotan merica.

Petugas juga harus mempertimbangkan untuk menggunakan tindakan tambahan, seperti peluru karet, meriam air dengan cairan yang membuat mata pedas, dan senjata bean bag round untuk kasus "Agresi Aktif".

Media lokal Now TV dan Cable TV juga melaporkan tentang perubahan prosedur Kepolisian Hong Kong dalam mengendalikan massa. Mereka menyebutkan, pedoman baru itu mulai berlaku pada 30 September, menjelang protes besar pada Hari Nasional China.

Baca Juga: Dampak demo, penjualan ritel Hong Kong pada Agustus anjlok 23%

Reuters tidak bisa mengkonfirmasi, kapan perubahan pedoman pengendalian massa itu berlaku. Kepolisian Hong Kong menolak berkomentar ketika ditanya soal proses amandemen pedoman tersebut.

"Pedoman penggunaan kekuatan melibatkan perincian operasi. Ini bisa memengaruhi operasi normal dan efektif dari kepolisian dan pekerjaan polisi dalam pencegahan kejahatan jika perinciannya diumumkan kepada publik. Oleh karena itu, tidak untuk dipublikasikan," kata Kepolisian Hong Kong dalam sebuah pernyataan kepada Reuters.

Perubahan pedoman itu terjadi di tengah tuduhan bahwa polisi Hong Kong telah menggunakan kekuatan yang berlebihan untuk menangani aksi protes yang sudah mengguncang pusat keuangan Asia selama hampir empat bulan.

Pekan lalu, Amnesty International mendesak Pemerintah Hong Kong untuk menyelidiki penggunaan kekuatan oleh polisi, dan mendorong Beijing untuk melindungi hak para demonstran untuk berkumpul secara damai.

Baca Juga: Aksi rusuh meluas, bursa saham Hong Kong di zona merah

Tapi, Kepolisian Hong Kong mengklaim, mereka telah menahan diri dalam menghadapi kekerasan yang meningkat.

Sementara Kamis (3/10) dini hari, para pemrotes kembali bentrok dengan polisi. Mereka melempar bom molotov dan melampiaskan kemarahan atas penembakan seorang remaja di awal pekan ini.


Reporter: SS. Kurniawan
Editor: S.S. Kurniawan
Video Pilihan

Tag

Close [X]
×