kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Sejarah Greenland sebagai Wilayah Denmark dan Alasan Trump Ingin Menguasainya


Rabu, 07 Januari 2026 / 20:25 WIB
Sejarah Greenland sebagai Wilayah Denmark dan Alasan Trump Ingin Menguasainya
ILUSTRASI. Greenland (Dok./Britannica)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

Seperti Apa Kehadiran Amerika Serikat di Greenland?

Militer AS memiliki kehadiran permanen di Pangkalan Udara Pituffik di wilayah barat laut Greenland.

Keberadaan ini diatur dalam perjanjian tahun 1951 yang memberikan kebebasan bagi AS untuk membangun pangkalan militer dengan pemberitahuan kepada Denmark dan Greenland.

Denmark selama ini mengakomodasi kehadiran militer AS karena keterbatasan kemampuannya dalam mempertahankan Greenland serta manfaat perlindungan keamanan dari NATO.

Baca Juga: Jepang Kecam Larangan Ekspor China, Ketegangan Dagang Kian Memanas

Mengapa Trump Menginginkan Greenland?

Trump menyebut penguasaan Greenland sebagai prioritas keamanan nasional AS. Jalur terpendek antara Eropa dan Amerika Utara melintasi Greenland, menjadikannya krusial bagi sistem peringatan dini rudal balistik AS.

Secara geografis, Nuuk bahkan lebih dekat ke New York dibandingkan ke Kopenhagen.

Greenland berada di titik persilangan geopolitik di tengah meningkatnya militerisasi kawasan Arktik oleh NATO, Rusia, dan China.

AS ingin memperluas kehadiran militernya, termasuk pemasangan radar untuk memantau jalur laut yang dilalui kapal dan kapal selam Rusia.

Pulau ini juga menyimpan potensi mineral, minyak, dan gas, meski pengembangannya masih berjalan lambat.

Baca Juga: Lionel Messi Pilih Jadi Pemilik Klub Usai Pensiun, Tak Tertarik sebagai Pelatih

Apa yang Diinginkan Warga Greenland?

Jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Greenland mendukung kemerdekaan secara prinsip.

Namun, banyak pihak mengingatkan agar langkah tersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa mengingat ketergantungan ekonomi terhadap Denmark serta risiko eksposur berlebihan terhadap Amerika Serikat.

Lebih dari 90% ekspor Greenland berasal dari sektor perikanan, sementara subsidi dari Denmark menutup sekitar setengah anggaran publik, termasuk pembiayaan rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur.

Jika merdeka, Greenland berpotensi menjalin hubungan dengan AS melalui skema Compact of Free Association (COFA), serupa dengan perjanjian AS dengan Mikronesia, Palau, dan Kepulauan Marshall.

Dalam skema COFA, AS biasanya menyediakan layanan publik dan perlindungan militer sebagai imbalan atas akses pertahanan.

Namun, manfaat bagi Greenland akan sangat bergantung pada besaran dukungan dan kemampuan negara itu mendiversifikasi ekonomi di luar sektor perikanan.

Baca Juga: Investor Ambil Untung, Harga Emas Memudar

Sikap Denmark dan Greenland

Saat Trump pertama kali menawarkan pembelian Greenland pada masa jabatan presiden pertamanya, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyebut gagasan tersebut “absurd”.

Frederiksen bersama Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen kembali menegaskan pada Desember 2025 bahwa Greenland tidak dapat dianeksasi dan alasan keamanan internasional tidak dapat membenarkan langkah tersebut.

Selanjutnya: Hasil Survei LSI Denny JA: Mayoritas Publik Menolak Pilkada Lewat DPRD

Menarik Dibaca: 9 Cara Mengurangi Selulit pada Kulit yang Dapat Anda Coba




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×