Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Sebuah terminal minyak di China yang disanksi Amerika Serikat (AS) pada Oktober lalu telah kembali beroperasi setelah unit logistik milik perusahaan negara Sinopec menjual sahamnya di fasilitas tersebut kepada operator pelabuhan lokal, menurut dua sumber perdagangan dan data pelacak kapal tanker.
Melansir Reuters Rabu (11/3/2026), sanksi AS terhadap Terminal Rizhao Shihua terkait penanganan minyak Iran yang diangkut kapal-kapal yang juga disanksi sempat mengganggu aliran minyak mentah dan memaksa Sinopec melakukan pengalihan muatan.
Baca Juga: Harga Aluminium Shanghai Naik 2%, Pasokan Global Terganggu KonflikTimur Tengah
Terminal ini sebelumnya menyalurkan sekitar 20% dari impor minyak Sinopec di Provinsi Shandong.
Terminal yang terletak di kota Lanshan, dengan tiga dermaga yang mampu menampung Very Large Crude Carrier (VLCC), sempat tidak beroperasi selama beberapa bulan karena pemilik kapal dan pedagang menghindari terminal tersebut untuk mencegah risiko sanksi sekunder.
Namun, sumber mengatakan bahwa terminal mulai kembali melakukan bongkar muat dalam beberapa minggu terakhir setelah Sinopec Kantons Holdings menjual 50% sahamnya kepada operator pelabuhan lokal.
Pada 27 Februari, Sinopec Kantons menyatakan bahwa Terminal Rizhao Shihua “memulai proses likuidasi dan penjualan aset” dengan total aset terjual sekitar 2,41 miliar yuan (US$ 350 juta), tanpa menyebutkan pembeli.
Baca Juga: Harga Minyak Bergejolak Rabu (11/3), Pasar Ragukan Efektivitas Cadangan IEA
Data pelacakan kapal dari Vortexa Analytics menunjukkan setidaknya satu tanker berkapasitas 2 juta barel yang memuat minyak Iran bersandar di salah satu dermaga pada 28 Februari, menjadi salah satu bongkar muat pertama setelah perubahan kepemilikan.
Upaya menghubungi pihak Pelabuhan Rizhao, yang sebelumnya memiliki setengah saham terminal sebelum dijual Sinopec, belum mendapat respons.













