kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 16.916   -5,00   -0,03%
  • IDX 7.199   92,36   1,30%
  • KOMPAS100 997   18,84   1,93%
  • LQ45 735   12,20   1,69%
  • ISSI 254   5,52   2,22%
  • IDX30 400   7,10   1,81%
  • IDXHIDIV20 501   11,85   2,43%
  • IDX80 112   2,10   1,91%
  • IDXV30 136   1,72   1,28%
  • IDXQ30 130   3,03   2,38%

Ternyata, Peringatan Keras dari Negara Teluk yang Bikin Trump Tak Berkutik Soal Iran


Rabu, 25 Maret 2026 / 08:05 WIB
Ternyata, Peringatan Keras dari Negara Teluk yang Bikin Trump Tak Berkutik Soal Iran
ILUSTRASI. Keputusan Trump menunda serangan ke Iran mengejutkan. Peringatan negara Teluk soal risiko eskalasi picu perubahan strategi. (via REUTERS/Donald Trump via Truth Social)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Keputusan mendadak Donald Trump untuk menunda konfrontasinya dengan Iran terjadi setelah adanya peringatan dari negara-negara Teluk bahwa perang telah bergerak menuju fase yang jauh lebih berbahaya. 

Menurut sumber regional dan para analis, alasan lain Trump untuk menunda serangan adalah meningkatnya kekhawatiran para pejabat kawasan bahwa Washington salah menilai kesiapan Teheran untuk meningkatkan eskalasi.

Tiga sumber regional Reuters yang enggan disebutkan namanya karena sensitivitas isu tersebut mengatakan, negara-negara Arab Teluk secara langsung memperingatkan bahwa serangan AS terhadap pembangkit listrik Iran akan memicu balasan Iran terhadap fasilitas penting mereka sendiri, termasuk energi dan desalinasi air.

Trump sebelumnya mengancam akan menyerang jaringan listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz, yang mengalirkan seperlima pasokan energi global. Namun Iran menolak, selat tetap tertutup, harga minyak melonjak, dan pasar saham global jatuh. Ini menunjukkan keterbatasan daya tekan Trump.

Iran juga mengirimkan peringatan kepada ibu kota negara-negara Teluk melalui perantara Arab bahwa setiap serangan AS terhadap fasilitas listriknya akan dibalas tanpa batas, kata dua sumber regional lainnya.

“Trump benar-benar salah perhitungan ketika mengatakan ‘kalian punya waktu 48 jam untuk membuka selat’,” kata Alan Eyre, mantan diplomat AS dan pakar Iran. “Begitu jelas bahwa Iran serius akan menyerang infrastruktur energi Teluk sebagai balasan, dia harus mundur.”

Baca Juga: Gara-Gara Kedutaannya Dibobol, China Protes Keras ke Jepang

Trump Jalin Kontak Intens dengan Mitra Timur Tengah

Alex Vatanka dari Middle East Institute mengatakan Teheran mengejutkan Trump dengan kemampuannya bertahan dalam konflik serta kesediaannya untuk meningkatkan eskalasi tanpa batas. 

“Mereka tidak menunjukkan hambatan, tidak ada batasan, tidak ada penahanan,” jelasnya.

Tidak ada tanggapan langsung atas permintaan komentar dari pemerintah Iran, negara-negara Teluk, maupun Departemen Luar Negeri AS.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan Trump menilai AS hampir mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam Operation Epic Fury. Ia menambahkan bahwa presiden terus berhubungan erat dengan mitra di Timur Tengah, dan serangan Iran terhadap negara tetangganya menunjukkan pentingnya menghilangkan ancaman tersebut bagi AS dan sekutunya.

Menurut sumber dan analis regional, keputusan Trump menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran mencerminkan pengakuan bahwa konflik yang semula ingin ditingkatkan justru mulai keluar dari kendali, dan biayanya kini lebih besar dibandingkan keuntungan politik dari menunjukkan kekuatan.

Di balik layar, upaya untuk mencegah meluasnya konflik terus dilakukan melalui perantara seperti Pakistan, Turki, dan Mesir, serta mitra Teluk yang khawatir terseret dalam perang yang tidak mereka pilih maupun kendalikan.

Ebtesam Al-Ketbi, Presiden Emirates Policy Center, mengatakan penundaan tersebut menunjukkan dua kemungkinan arah. Pertama, langkah taktis untuk memberi waktu menyelesaikan penempatan militer, menguji respons Iran, dan mengeluarkan peringatan terakhir sebelum serangan lebih besar. 

Kedua, langkah strategis untuk membuka jalan menuju kesepakatan yang lebih luas, termasuk pengaturan ulang aturan keamanan kawasan Teluk.

Dalam kedua kemungkinan itu, perang sebenarnya belum berakhir, melainkan hanya diubah menjadi alat tekanan.

Baca Juga: Trump Ajukan 15 Poin dalam Proposal Damai untuk Akhiri Perang Iran

Negara Teluk Hadapi Risiko Besar

Sejak awal, Iran meningkatkan eskalasi dengan menyerang infrastruktur dan jalur pelayaran di kawasan Teluk, memicu potensi guncangan berkepanjangan terhadap minyak, gas, LNG, dan perdagangan melalui Hormuz.

Menurut Vatanka, negara-negara Teluk justru menanggung beban terbesar. “Jika saya pemimpin Teluk, saya akan marah. Mereka ditempatkan dalam risiko besar tanpa persetujuan mereka, dan kerusakan dalam empat minggu bisa butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih.”

Para analis menilai Trump salah memperkirakan ketahanan Iran serta dampak regional dan global dari konflik ini. Dengan menganggap Iran terlalu lemah atau mudah ditekan, ia justru menghadapi eskalasi asimetris yang menimbulkan biaya besar bagi sekutu AS dan ekonomi global.

Hasilnya adalah pola khas Trump: retorika keras disertai penundaan. Dengan mundur, ia menjaga opsi agar konflik tidak berubah menjadi krisis besar yang mendefinisikan kepresidenannya.

Masalah yang lebih dalam, menurut analis, adalah perang ini telah merusak status quo yang sebelumnya diyakini bisa dibentuk ulang oleh Trump. Iran yang terpukul namun tidak hancur justru mengambil pelajaran penting bahwa strategi penangkalan berhasil.

Kini, kalkulasi Teheran dipengaruhi kombinasi rasa percaya diri dan ketakutan: mendapatkan hasil yang bertahan lama dari perang atau berisiko kembali terseret ke konflik serupa.

Bagi Trump, kesepakatan apa pun kemungkinan akan lebih sempit, lebih mahal, dan lebih sulit diterima secara politik.

“Iran merasa sebagian lebih berani, sebagian juga takut,” kata Eyre. “Mereka mengalami kerusakan besar dan tidak ingin mengulanginya, tetapi juga tidak bisa kembali ke kondisi sebelumnya.”

Iran Incar Kesepakatan Lebih Luas

Sumber senior di Teheran mengatakan posisi negosiasi Iran kini jauh lebih keras sejak perang dimulai, menandakan bahwa setiap pembicaraan serius akan menuntut harga tinggi dari pihak AS.

Iran kemungkinan akan menuntut jaminan kuat agar tidak diserang lagi, kompensasi atas kerugian perang, serta kendali formal atas Selat Hormuz.

Langkah tersebut tentu mengkhawatirkan negara-negara Teluk yang berbagi jalur tersebut dan takut Iran akan membangun dominasi kawasan.

Ketua Gulf Research Center, Abdulaziz Sager, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi jalur strategis dan ekonomis yang vital, dan stabilitasnya tidak bisa ditawar.

Sementara itu, pakar kebijakan luar negeri Vali Nasr menilai Iran tidak lagi ingin kembali ke kondisi sebelum perang, melainkan mencari kesepakatan yang lebih luas, termasuk jaminan keamanan, keringanan ekonomi, dan keseimbangan kekuatan baru di kawasan Teluk.

Pejabat AS, menurut sumber regional, tampaknya bersedia membuka komunikasi tidak langsung dengan Iran melalui perantara, yang mengindikasikan adanya jalur negosiasi di belakang layar meski kedua pihak tetap bersikap keras di publik.

Tonton: Trump Klaim Ada Deal, Iran Langsung Bantah Keras! Ada Apa?

Tokoh kunci dalam potensi kesepakatan ini adalah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mantan komandan Garda Revolusi yang memiliki kredibilitas di kalangan garis keras sekaligus kapasitas untuk bernegosiasi.

Meski menunjukkan keterbukaan untuk dialog, Iran tetap bersikap hati-hati dengan menampilkan kekuatan sekaligus menghindari kehancuran lebih lanjut. Strategi ini mencerminkan upaya menunjukkan daya tahan tanpa memicu serangan lanjutan.

Setiap penyelesaian konflik, menurut analis, kemungkinan besar membutuhkan dukungan kawasan serta keterlibatan kekuatan global seperti Rusia atau China.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×