Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (9/3/2026) mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran jika Teheran berupaya memblokir pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, Trump juga memprediksi konflik tersebut bisa segera berakhir.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 6% Selasa (10/3), Trump Prediksi Perang Iran Segera Mereda
Peringatan Trump disampaikan di tengah gejolak pasar keuangan global yang berfluktuasi tajam. Investor khawatir aparat keamanan Iran mulai bersatu di belakang pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, sehingga konflik berpotensi berlangsung lebih lama.
Trump mengatakan AS telah menimbulkan kerusakan besar terhadap angkatan udara dan angkatan laut Iran.
Ia juga memperkirakan perang akan berakhir jauh lebih cepat dari perkiraan awal selama empat minggu, meskipun belum menjelaskan secara rinci seperti apa bentuk kemenangan yang dimaksud.
Trump juga memperingatkan bahwa serangan AS bisa meningkat drastis jika Iran mencoba menghalangi lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
“Jika mereka mencoba menutup jalur tersebut, kami akan menghantam mereka begitu keras sehingga tidak mungkin bagi mereka atau siapa pun yang membantu mereka untuk pulih di wilayah itu,” kata Trump dalam konferensi pers.
Baca Juga: Viralnya Bayi Monyet Salju “Punch” Soroti Konflik Petani dan Satwa Liar di Jepang
Iran Tegaskan Akan Menentukan Akhir Perang
Menanggapi pernyataan tersebut, pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran menyatakan tidak akan membiarkan “satu liter pun minyak” keluar dari kawasan tersebut jika serangan AS dan Israel terus berlanjut.
“Kami yang akan menentukan kapan perang ini berakhir,” kata juru bicara IRGC seperti dikutip media pemerintah Iran.
Sinyal yang saling bertentangan dari kedua pihak membuat pasar bergerak sangat volatil.
Harga minyak sempat melonjak tajam sementara pasar saham anjlok, sebelum kemudian berbalik arah setelah Trump memprediksi perang bisa segera berakhir dan muncul laporan kemungkinan pelonggaran sanksi energi Rusia.
Mojtaba Khamenei, ulama Syiah berusia 56 tahun yang memiliki basis dukungan kuat di kalangan aparat keamanan dan jaringan bisnis mereka, dinilai tidak dapat diterima oleh Trump. Presiden AS tersebut bahkan menuntut Iran menyerah tanpa syarat.
Media pemerintah Iran menayangkan kerumunan besar di berbagai kota yang menyatakan dukungan terhadap pemimpin baru tersebut.
Massa terlihat mengibarkan bendera Iran dan membawa potret ayahnya, Ali Khamenei, pemimpin tertinggi yang tewas akibat serangan Israel pada hari pertama perang.
Baca Juga: Trump: AS Akan Hantam Iran 20 Kali Lebih Keras Jika Tutup Selat Hormuz
Selat Hormuz Lumpuh, Pasokan Energi Terganggu
Perang yang berlangsung kini secara efektif menutup Selat Hormuz, salah satu jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.
Kapal tanker dilaporkan tidak dapat berlayar selama lebih dari sepekan sehingga produsen minyak terpaksa menghentikan produksi karena kapasitas penyimpanan penuh.
Harga minyak acuan global Brent crude sempat melonjak sekitar 7% dan ditutup pada level tertinggi sejak 2022 setelah sebelumnya melonjak hingga 29% dalam sesi perdagangan. Kenaikan terjadi setelah Arab Saudi dan beberapa anggota OPEC memangkas pasokan.
Namun harga kemudian kembali turun dalam perdagangan setelah penutupan pasar.
Lonjakan harga bahan bakar menjadi isu politik penting di Amerika Serikat menjelang pemilihan paruh waktu November, ketika Partai Republik yang dipimpin Trump berupaya mempertahankan kendali atas Kongres.
Baca Juga: Siapa yang Akan Menyerah Lebih Dulu di Perang Iran, Teheran atau Washington?
Survei Ipsos/Reuters yang dirilis Senin menunjukkan 67% warga Amerika memperkirakan harga bensin akan naik dalam beberapa bulan ke depan, sementara hanya 29% responden yang menyetujui perang tersebut.
Setelah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Trump mengatakan AS akan melonggarkan sanksi terkait minyak terhadap “sejumlah negara” guna meredakan kekurangan pasokan.
Menurut beberapa sumber, langkah itu berpotensi mencakup pelonggaran lebih lanjut terhadap ekspor minyak Rusia.
Kilang Minyak Iran Diserang
Di Iran, ibu kota Teheran diselimuti asap hitam setelah sebuah kilang minyak terkena serangan udara.
Direktur Jenderal World Health Organization Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan, kebakaran tersebut berisiko mencemari makanan, air, dan udara di wilayah sekitar.
Sementara itu, Turki menyatakan sistem pertahanan udara NATO berhasil menembak jatuh rudal balistik yang ditembakkan dari Iran dan memasuki wilayah udara Turki insiden kedua sejak perang berlangsung.
Baca Juga: Ekonomi Jepang Melejit 1,3% di Kuartal IV-2025, Ditopang Investasi Bisnis yang Kuat
Militer Israel juga melaporkan telah melancarkan serangan baru di Iran bagian tengah serta menyerang ibu kota Lebanon, Beirut, setelah milisi Hezbollah yang didukung Iran menembakkan roket melintasi perbatasan.
Menurut duta besar Iran untuk PBB, serangan AS dan Israel telah menewaskan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran dan melukai ribuan lainnya. Lebanon melaporkan lebih dari 400 orang tewas dan hampir 700.000 orang mengungsi.
Di Israel, petugas ambulans menyebut satu orang tewas akibat serpihan ledakan di lokasi konstruksi dekat bandara internasional Tel Aviv, sehingga total korban tewas akibat serangan Iran di negara itu menjadi 11 orang.













