kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Trump Klaim Menang Lawan Inflasi Berulang Kali, Harga Masih Tekan Warga AS


Sabtu, 07 Februari 2026 / 19:41 WIB
Trump Klaim Menang Lawan Inflasi Berulang Kali, Harga Masih Tekan Warga AS
ILUSTRASI. Donald Trump (REUTERS/Kevin Lamarque)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Donald Trump memposisikan dirinya sebagai juru bicara utama Partai Republik soal biaya hidup di tahun politik.

Namun, tinjauan Reuters terhadap pidato-pidato ekonominya menunjukkan seorang presiden yang berulang kali mengklaim inflasi telah dikalahkan, sementara tekanan harga masih dirasakan luas oleh warga Amerika.

Dalam lima pidato ekonomi sejak Desember, Trump menyatakan inflasi telah “dikalahkan” atau “turun tajam” hampir 20 kali, dan mengatakan harga-harga “sedang turun” hampir 30 kali.

Baca Juga: Setelah Sempat Kabur Saat OTT Bea Cukai, Pemilik Blueray Menyerahkan Diri ke KPK

Klaim tersebut bertentangan dengan data ekonomi dan pengalaman sehari-hari pemilih. Inflasi tahunan masih berada di kisaran 3%, sementara harga kebutuhan pokok tetap tinggi.

Harga daging sapi cincang, misalnya, naik 18% sejak Trump menjabat setahun lalu, dan harga kopi bubuk melonjak 29%.

Sebagian besar waktu pidato Trump juga dihabiskan untuk keluhan dan isu lain di luar ekonomi—mulai dari imigrasi hingga serangan terhadap lawan politik.

Secara keseluruhan, pidato-pidato tersebut menggambarkan kesulitan Trump menyelaraskan klaim utamanya bahwa ia telah menyelesaikan krisis biaya hidup dengan realitas ekonomi yang masih dirasakan pemilih.

Para ahli strategi Partai Republik memperingatkan kepada Reuters bahwa pesan yang tidak konsisten ini berisiko menciptakan kesenjangan kredibilitas menjelang pemilu paruh waktu November, ketika kendali Kongres dipertaruhkan.

Baca Juga: Salah Transfer, Bursa Kripto Korsel Bithumb Tak Sengaja Bagikan Bitcoin US$44 Miliar

Jajak pendapat menunjukkan pemilih masih tidak puas dengan penanganan ekonomi oleh Trump.

“Ia tidak bisa terus membuat klaim yang jelas-jelas keliru, terutama jika itu merugikan Partai Republik di daerah pemilihan yang kompetitif,” kata Rob Godfrey, ahli strategi Partai Republik.

Menurutnya, Trump harus lebih disiplin dan fokus.

Sumber yang dekat dengan Gedung Putih mengatakan Trump perlu menekan isu keterjangkauan (affordability) dengan lebih keras, termasuk melalui kunjungan langsung ke daerah-daerah krusial.

“Pesannya belum tersampaikan,” ujar sumber tersebut.

Juru bicara Gedung Putih Kush Desai mengatakan, fokus Trump pada imigrasi ilegal berkaitan langsung dengan dampaknya terhadap ekonomi, mulai dari tekanan pada layanan publik hingga upah pekerja.

Trump, kata Desai, juga berulang kali menekankan masih banyak pekerjaan untuk membersihkan “kekacauan ekonomi” warisan pemerintahan Joe Biden.

Baca Juga: Bank Sentral China Borong Emas untuk Bulan ke-15, Nilai Cadangan Melonjak!

Pidato Kerap Melenceng dari Pesan Ekonomi

Analisis Reuters menemukan bahwa ketika tidak mengklaim inflasi telah dikalahkan, Trump menghabiskan hampir separuh waktu pidatonya untuk isu lain.

Dalam sekitar lima jam pidato, hampir dua jam dihabiskan untuk sekitar 20 topik yang tidak terkait langsung dengan harga.

Isu imigrasi menjadi yang paling sering diangkat, termasuk pernyataan kontroversial terhadap komunitas Somalia di Minnesota dan kritik berulang terhadap anggota Kongres Ilhan Omar.

Trump juga menyinggung isu olahraga, Venezuela, Iran, Ukraina, Rusia, NATO, hingga klaim keliru soal pemilu 2020.

“Inflasi sudah berhenti. Pendapatan naik. Harga turun,” kata Trump dalam pidato di Iowa pada 27 Januari.

Baca Juga: SpaceX Tunda Rencana ke Mars Demi Fokus Misi Pendaratan ke Bulan di Tahun 2027

Hanya dua kali Trump mengakui harga masih terlalu tinggi, itu pun dengan menyalahkan Biden.

Dalam pidato di Pennsylvania pada 9 Desember, ia mengatakan Demokrat membuat harga “terlalu mahal” namun kini “sedang turun”.

Ia juga sempat menyebut istilah “keterjangkauan” sebagai “tipuan Demokrat”, pernyataan yang kemudian ia hentikan setelah menuai kritik.

Empat ahli strategi Partai Republik mengatakan gaya pidato Trump yang berkelok yang ia sebut “the weave” berisiko menenggelamkan pesan ekonomi utamanya.

“Pemilih ingin tahu apa yang dilakukan Trump untuk menurunkan biaya hidup,” kata Doug Heye, ahli strategi Partai Republik. “Tapi pesan itu tenggelam oleh volume retorikanya sendiri.”

Baca Juga: Harga Emas Kembali Berkilau, Ditutup Menguat 3,9% ke US$ 4.964 Per Ons Troi

Solusi Ada, Dampak Terbatas

Bagi banyak warga Amerika, ekonomi masih terasa berat. Inflasi memang turun dari sekitar 3% menjadi 2,7%, tetapi penurunan laju inflasi tidak berarti harga turun hanya naik lebih lambat.

Dalam 12 bulan hingga Desember 2025, harga pangan naik lebih dari 3%, sementara upah per jam rata-rata hanya naik 1,1%. Tingkat pengangguran juga meningkat menjadi 4,4%.

Trump benar mencatat penurunan harga pada beberapa komoditas, seperti telur dan bensin. Harga telur turun sekitar 21% pada Desember dibanding setahun sebelumnya, dan harga bensin turun sekitar 4%.

Namun, biaya keranjang belanja rata-rata tetap meningkat, termasuk kopi, daging, dan sejumlah buah.

Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Menguat, Disokong Kekhawatiran Akan Kemungkinan Konflik Iran-AS

Trump menawarkan sejumlah solusi: pemotongan pajak yang mulai berlaku bulan lalu, penghapusan pajak atas tip, lembur, dan jaminan sosial, rencana menurunkan suku bunga KPR, menekan harga rumah, serta kesepakatan menurunkan harga obat.

Banyak ekonom memperkirakan pemotongan pajak akan berdampak positif dalam beberapa bulan ke depan.

Namun, kebijakan lain dinilai tidak akan signifikan menurunkan biaya hidup hingga November.

Bahkan, usulan membatasi bunga kartu kredit 10% berpotensi membatasi akses kredit bagi keluarga berpendapatan rendah.

Survei Reuters/Ipsos pada 25 Januari menunjukkan 35% warga Amerika menyetujui penanganan ekonomi Trump naik tipis dari Desember, namun jauh di bawah tingkat persetujuan awalnya setahun lalu.

Baca Juga: Ketua The Fed Jerome Powell Bawa Kabar Buruk bagi Presiden Donald Trump, Apa Itu?

Mengulang Kesalahan Biden

Mantan pejabat ekonomi menilai Trump berisiko mengulangi kesalahan Joe Biden pada 2024, ketika terus menekankan kekuatan ekonomi makro di tengah inflasi tinggi, strategi yang akhirnya merugikan Demokrat di pemilu.

“Penting bagi presiden untuk menunjukkan bahwa mereka memahami penderitaan ekonomi warga,” kata Jared Bernstein, mantan ketua Dewan Penasihat Ekonomi Biden.

“Kami sering berbicara melewati pengalaman nyata orang-orang soal inflasi.”

Selanjutnya: Manchester City Bertandang ke Anfield di Tengah Tren Buruk Laga Tandang Liga Inggris

Menarik Dibaca: Hasil BATC 2026 : Kalah dari Korea, Tim Putri Indonesia Raih Perunggu




TERBARU

[X]
×