Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Inflasi global mulai berdampak pada tradisi ikonik Jepang, hanami atau piknik menikmati bunga sakura. Biaya makanan dan minuman untuk kegiatan ini tercatat melonjak 25% sejak 2020, menurut laporan lembaga riset Dai-ichi Life Research Institute, Selasa (24/3/2026).
Setiap akhir Maret hingga awal April, masyarakat Jepang biasanya memadati taman dan bantaran sungai untuk menggelar tikar, membawa bekal, camilan, dan minuman sambil menikmati mekarnya bunga sakura bersama keluarga dan teman. Tradisi ini dikenal sebagai Hanami dan menjadi salah satu kegiatan tahunan yang paling dinanti.
Namun, kenaikan harga bahan baku global membuat tradisi ini semakin mahal. Perusahaan makanan dan minuman pun menaikkan harga produk mereka, sehingga berdampak langsung pada biaya hanami.
Baca Juga: Harga Emas Melejit, Produksi Afrika Selatan Sulit Bertambah
Ekonom kepala di Dai-ichi Life Research Institute, Hideo Kumano, memperbarui indeks yang melacak harga 14 item populer untuk hanami, seperti onigiri, bento, ayam goreng, keripik kentang, dan bir.
Hasilnya menunjukkan biaya hanami naik 4,2% pada Februari dibandingkan tahun sebelumnya, dan meningkat 25% dibandingkan tahun dasar 2020.
Beberapa produk mengalami lonjakan harga signifikan, termasuk roti manis yang naik 46,1%, minuman bersoda 45,7%, dan onigiri 45%.
“Pelemahan yen dan kenaikan harga komoditas global mendorong inflasi biaya di Jepang,” kata Kumano. Dia menyebutm Hanami jelas terdampak oleh tren inflasi global.
Setelah lama mengalami deflasi, Jepang mulai menghadapi kenaikan inflasi sejak perang di Ukraina, yang melemahkan yen dan meningkatkan biaya impor bahan baku.
Inflasi inti Jepang sempat bertahan di atas target 2% yang ditetapkan Bank of Japan selama hampir empat tahun, sebelum melambat menjadi 1,6% pada Februari, terutama karena subsidi bahan bakar dari pemerintah.













