Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Senin (19/1/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap ancaman tarif terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara Eropa terkait isu Greenland.
Kondisi ini mendorong pelaku pasar beralih ke aset safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss.
Trump pada akhir pekan menyatakan akan mengenakan tambahan tarif impor sebesar 10% mulai 1 Februari terhadap barang-barang asal Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris.
Baca Juga: Dua Kereta Cepat Anjlok di Spanyol, Tabrakan Tewaskan Sedikitnya 21 Orang
Tarif tersebut akan tetap berlaku hingga Amerika Serikat diizinkan membeli Greenland.
Ancaman tersebut menuai kecaman keras dari negara-negara utama Uni Eropa. Prancis bahkan mengusulkan respons balasan berupa sejumlah langkah ekonomi yang belum pernah diterapkan sebelumnya, dan menyebut sikap AS sebagai bentuk pemerasan.
Di pasar valuta asing, reaksi awal di perdagangan Asia adalah aksi jual terhadap euro dan pound sterling.
Kedua mata uang tersebut sempat menyentuh level terendah dalam tujuh pekan dan satu bulan, masing-masing di US$1,1572 dan US$1,3321.
Namun, euro dan pound kemudian bangkit dari posisi terendahnya. Justru dolar AS yang kembali berada di bawah tekanan seiring investor menilai dampak jangka panjang kebijakan tarif Trump terhadap kredibilitas aset AS.
Euro menguat 0,19% ke level US$1,1619, sementara pound sterling naik 0,17% ke US$1,3398.
Baca Juga: Pilpres Portugal: Sosialis Moderat dan Kandidat Kanan Jauh Melaju ke Putaran Kedua
Pelemahan dolar mengingatkan pasar pada peristiwa “Liberation Day” April lalu, ketika Trump mengumumkan tarif besar-besaran terhadap banyak negara, yang memicu krisis kepercayaan terhadap aset AS dan aksi jual dolar secara luas.
Tren serupa kembali terlihat pada awal pekan ini. Dolar melemah 0,45% terhadap franc Swiss ke level 0,7983, serta turun 0,33% terhadap yen Jepang menjadi 157,59. Indeks dolar juga terkoreksi 0,19% ke posisi 99,18.
“Perkiraan saya, akan segera ditemukan jalan keluar dari ancaman ini, dan situasinya akan berubah menjadi ‘momen TACO’ lainnya atau bagian dari ‘seni bernegosiasi’, tergantung sudut pandang,” ujar Michael Brown, Senior Research Strategist Pepperstone.
Baca Juga: Ekonomi China Diperkirakan Capai Target Pertumbuhan 2025, Tapi Prospek Kian Suram
Sementara itu, mata uang berisiko seperti dolar Australia hanya turun tipis 0,02% ke US$0,6690, dengan tekanan tertahan oleh melemahnya dolar AS secara umum. Dolar Selandia Baru justru menguat 0,16% ke US$0,5761.











![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
