Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas menguat lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (18/6/2026) pagi setelah berhasil memangkas kerugian yang terjadi pada sesi sebelumnya.
Penguatan logam mulia terjadi seiring turunnya harga minyak menyusul ditandatanganinya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: Dolar AS Bertahan di Puncak Dua Bulan Kamis (18/6), Yen Jepang Makin Tertekan
Melansir Reuters, harga emas spot naik 1,5% menjadi US$ 4.322,41 per ons troi pada pukul 01.02 GMT. Sehari sebelumnya, harga emas sempat terkoreksi 1,7%.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus tercatat turun 0,9% ke level US$ 4.343,10 per ons troi.
Sentimen utama yang menggerakkan pasar berasal dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah. AS dan Iran pada Rabu (17/6) merilis teks kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri perang antara kedua negara.
Kesepakatan yang terdiri dari 14 poin tersebut memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari guna memberi waktu bagi kedua pihak untuk merundingkan perjanjian damai permanen.
Baca Juga: Noam Shazeer Tinggalkan Google Gemini, Bergabung ke OpenAI Jelang IPO
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump tetap mengeluarkan peringatan keras bahwa Washington dapat kembali melancarkan serangan jika Iran dianggap melanggar isi kesepakatan.
Perkembangan tersebut mendorong harga minyak kembali melemah setelah sehari sebelumnya sempat menguat akibat pernyataan Trump mengenai kemungkinan dimulainya kembali kampanye militer terhadap Iran.
Penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi dari sektor energi, sehingga memberikan dukungan bagi harga emas.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya, namun memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan tahun ini.
Baca Juga: 5 Rekor Baru Lionel Messi Setelah Hattrick Kontra Aljazair di Piala Dunia
Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat The Fed kini memperkirakan perlunya kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun guna mengendalikan inflasi yang masih berada di atas target 2%.
Sinyal hawkish tersebut sempat menekan pasar keuangan global. Pada perdagangan Rabu, indeks saham utama Wall Street ditutup melemah, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS dan nilai tukar dolar AS menguat.
Kenaikan yield obligasi dan penguatan dolar umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Lagi Kamis (18/6): Brent ke US$ 78,66 & WTI ke US$ 75,81
Selain emas, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak spot naik 2,2% menjadi US$ 69,51 per ons troi.
Platinum menguat 1,8% ke level US$ 1.767,53 per ons troi, sedangkan palladium naik 2% menjadi US$ 1.338,67 per ons troi.












