Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bersiap mencatat penurunan mingguan terbesar dalam 10 bulan terakhir, meski sempat menguat pada perdagangan Jumat (10/4/2026).
Tekanan terjadi setelah adanya kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Melansir Reuters berdasarkan data pasar, kontrak Brent crude naik 0,58% ke level US$96,48 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,66% ke US$98,52 per barel.
Baca Juga: Apple Tutup Toko, Isu Serikat Menguat
Kendati demikian, kedua kontrak tersebut telah merosot sekitar 11%–12% sepanjang pekan ini, menjadikannya penurunan mingguan terdalam sejak Juni tahun lalu.
Penurunan dipicu oleh kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi oleh Pakistan.
Namun, kondisi di lapangan masih jauh dari stabil. Arus minyak melalui Selat Hormuz tetap sangat terbatas, dengan volume lalu lintas hanya kurang dari 10% dari kondisi normal.
Situasi ini membuat harga tetap bertahan di kisaran US$100 per barel, bahkan mendorong harga fisik ke level rekor.
Analis Saxo Bank menyebut pasar minyak global belum kembali normal.
“Pasar berjangka sudah mencerminkan normalisasi parsial, tetapi pasar fisik menunjukkan kelangkaan yang akut,” ujar analis Ole Hansen.
Baca Juga: Minat Minum Alkohol Turun, Klub Malam di London Dipaksa Lebih Kreatif
Di sisi lain, Iran disebut berencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam skema kesepakatan damai.
Namun, rencana ini mendapat penolakan dari negara-negara Barat serta badan pelayaran di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Konflik yang dimulai sejak 28 Februari, menyusul serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran, telah mengganggu pasokan energi global secara signifikan.
Harga minyak sempat terdongkrak setelah laporan kantor berita pemerintah Arab Saudi menyebut serangan terhadap fasilitas energi telah memangkas kapasitas produksi sekitar 600.000 barel per hari serta mengurangi aliran pipa East-West sekitar 700.000 barel per hari.
Menurut laporan JPMorgan, sekitar 50 infrastruktur energi di kawasan Teluk telah rusak akibat serangan drone dan rudal selama hampir enam pekan terakhir.
Baca Juga: Dubai Batasi Penerbangan Asing hingga Akhir Mei, Maskapai India Paling Terpukul
Dampaknya, sekitar 2,4 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak terpaksa berhenti beroperasi.
Meski demikian, kenaikan harga minyak tertahan setelah Lebanon menyatakan akan berpartisipasi dalam pertemuan dengan perwakilan AS dan Israel di Washington pekan depan guna membahas potensi gencatan senjata dalam konflik paralel antara Israel dan kelompok sekutu Iran, Hezbollah.













