Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga obligasi pemerintah global diperkirakan mengalami penurunan bulanan terbesar dalam beberapa tahun terakhir, seiring investor menimbang risiko perang berkepanjangan di Timur Tengah terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Seiring fokus pasar bergeser pada dampak ekonomi dari konflik yang kini memasuki bulan kedua, tekanan jual pada obligasi jangka pendek yang sensitif terhadap suku bunga mulai berkurang.
Namun, pasar obligasi dari AS hingga Eropa dan Asia masih menanggung kerugian besar.
Baca Juga: Kapal China Akhirnya Melintasi Selat Hormuz, Sempat Putar Balik di Tengah Ketegangan
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor dua tahun yang bergerak berlawanan arah dengan harga diperkirakan naik sekitar 50 basis poin pada bulan ini, kenaikan terbesar sejak Oktober 2024.
Melansir Reuters pada perdagangan Senin (30/3/2026), imbal hasil ini tercatat turun sekitar 5 basis poin menjadi 3,87%.
Obligasi jangka pendek Inggris dan Italia diperkirakan akan naik lebih dari 80 basis poin masing-masing pada akhir Maret, sementara imbal hasil obligasi Jepang mencapai level tertinggi dalam tiga dekade.
Pergerakan pada obligasi sensitif suku bunga ini terjadi setelah pasar meniadakan asumsi sebelumnya terkait pelonggaran kebijakan The Fed tahun ini.
Imbal hasil acuan Treasury AS bertenor 10 tahun naik 44 basis poin bulan ini menjadi sekitar 4,39%, meski juga sedikit turun pada Senin.
Baca Juga: Trump Kembali Ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz atau Infrastruktur Energi Diserang
Analis mengatakan penurunan kecil pada Senin bisa menjadi tanda bahwa kekhawatiran terhadap dampak perang terhadap pertumbuhan global mulai lebih diperhatikan dibandingkan dampaknya pada inflasi, yang dominan sejak awal konflik.
“Sekarang realitas mulai terasa bahwa harga minyak mungkin akan tetap tinggi lebih lama, mengingat sulit melihat akhir perang dalam waktu dekat, sehingga fokus dampak terhadap pertumbuhan mulai meningkat,” kata Moh Siong Sim, strategis OCBC dilansir dari Reuters.
Harga minyak tetap di atas US$100 per barel, dibandingkan US$70 pada akhir Februari, dan diperkirakan akan menutup Maret dengan kenaikan persentase terbesar sejak setidaknya 1988.
Baca Juga: Donald Trump Kembali Ancam Iran: Buka Selat Hormuz atau Diserang!
Lonjakan Lebih Tajam di Eropa
Pergerakan harga obligasi di Eropa lebih dramatis, dengan pasar kini memperhitungkan dua hingga tiga kali kenaikan suku bunga dari Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE) tahun ini, setelah sebelumnya memperkirakan penurunan suku bunga di Inggris sebelum perang.
Imbal hasil obligasi Inggris bertenor dua tahun naik 98 basis poin bulan ini, yang terbesar sejak gejolak pasar 2022 saat masa singkat premiership Liz Truss, sementara bertenor 10 tahun naik 77 basis poin.
Imbal hasil Jerman bertenor dua tahun melonjak 69 basis poin menjadi 2,66%, sementara 10 tahun naik 45 basis poin, mencapai level tertinggi 15 tahun sebesar 3,13% pekan lalu.
Baca Juga: Rudal Iran Hantam Israel, Houthi Ikut Terjun ke Medan Perang
Pergerakan di Italia, yang dianggap lebih rentan terhadap guncangan energi dibandingkan negara zona euro lainnya, hampir sebanding dengan Inggris, imbal hasil dua tahun naik 85 basis poin dan 10 tahun naik 78 basis poin bulan ini.
Namun imbal hasil obligasi zona euro juga sedikit turun pada Senin, kemungkinan terdorong oleh perubahan fokus pasar terhadap kekhawatiran pertumbuhan.
“Ini situasi yang sangat sulit bagi ECB dan setiap bank sentral dalam skenario stagflasi untuk menyeimbangkan risiko inflasi tanpa merugikan ekonomi lebih jauh akibat kenaikan suku bunga yang berlebihan,” kata Felix Schmidt, ekonom senior di Berenberg.
China Tampil Lebih Tahan
Di kawasan Asia-Pasifik, imbal hasil obligasi tiga tahun Australia naik sekitar 50 basis poin bulan ini, kenaikan terbesar dalam 17 bulan, meski turun lebih dari 9 basis poin pada Senin menjadi sekitar 4,72%.
Imbal hasil obligasi Jepang bertenor 10 tahun naik 25 basis poin bulan ini, kenaikan bulanan tertinggi sejak Desember lalu.
Baca Juga: Spanyol Resmi Tutup Wilayah Udara untuk Pesawat Militer AS, Tegas Tolak Perang Iran
Sementara itu, obligasi pemerintah China relatif stabil karena investor memperkirakan ekonomi terbesar kedua di dunia akan lebih terlindungi dari guncangan harga minyak berkat cadangan minyak yang cukup, dominasi energi hijau, dan inflasi yang terkendali.
Imbal hasil obligasi dua tahun China turun lebih dari 11 basis poin, penurunan bulanan terbesar sejak Desember 2024.













