Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - CARACAS. Warga Venezuela terbangun dari tidur dengan terkejut, menyusul serangan militer Amerika Serikat (AS) yang menargetkan negara itu dan menangkap Presiden Nicolás Maduro, Sabtu (3/1/2026).
Jalan-jalan di ibu kota Caracas tampak sepi, terutama di sekitar Istana Kepresidenan Miraflores, yang dijaga ketat oleh pasukan berseragam.
Asap hitam membubung dari arah Pelabuhan La Guaira di utara dan terlihat pula dari sebuah pangkalan udara di ibu kota.
Mayoritas warga memilih tinggal di rumah sambil mengikuti informasi terbaru lewat ponsel, sementara sebagian lainnya bergegas membeli kebutuhan pokok untuk berjaga-jaga menghadapi situasi yang belum pasti.
Baca Juga: Trump Klaim AS Serang Dermaga di Venezuela
Bagi pendukung oposisi, termasuk yang dipimpin pemenang Nobel Perdamaian Maria Corina Machado, serangan ini memunculkan rasa lega sekaligus kegembiraan.
“Saudara perempuan saya di Amerika Serikat menelepon dan menangis bahagia. Kami menangis bersama karena senang,” kata Jairo Chacín, 39 tahun, pemilik bengkel di Maracaibo.
Ia menceritakan, jalanan sepi sehingga ia sempat khawatir terjadi penjarahan, dan pom bensin sudah tutup sehingga ia memutuskan membeli makanan. “Campur aduk rasa takut dan senang,” tambahnya.
Presiden AS Donald Trump membenarkan penangkapan Maduro, setelah berbulan-bulan menekan pemerintah Venezuela terkait tuduhan perdagangan narkoba dan ketidakabsahan kekuasaan.
Baca Juga: Maduro Siap Berperang Jika Pasukan AS Menyerang Venezuela
Serangan ini menjadi intervensi militer AS pertama sejak invasi Panama pada 1989 untuk menyingkirkan pemimpin militer Manuel Noriega.
Menanggapi serangan tersebut, Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello muncul di televisi negara mengenakan helm dan rompi anti peluru, mengimbau warga agar tidak bekerja sama dengan “musuh teroris”. Sementara oposisi menyatakan belum memiliki komentar resmi terkait peristiwa itu.
Menurut saksi Reuters, serangan berlangsung sekitar pukul 02.00 waktu setempat dan terus terjadi selama 90 menit. Ledakan terdengar di berbagai titik, disertai pesawat dan asap hitam. Wilayah selatan Caracas, dekat pangkalan militer utama, sempat mengalami pemadaman listrik.
“Saya tidak percaya. Awalnya lihat di media sosial, kemudian di televisi. Sekarang saya ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Nancy Pérez, 74 tahun, warga Valencia, saat keluar ke toko roti dekat rumahnya.
Baca Juga: Presiden Brasil Lula: Intervensi AS di Venezuela Bahayakan Kawasan
Video yang diverifikasi menunjukkan api dan asap di Pelabuhan La Guaira serta di Pangkalan Udara Generalissimo Francisco de Miranda, timur Caracas. Data radar penerbangan pagi itu menunjukkan seluruh ruang udara Venezuela kosong.
Carmen Márquez, 50, warga timur Caracas, menuturkan ia naik ke atap rumahnya dan mendengar pesawat di berbagai ketinggian, meski tak dapat melihatnya.
“Lampu-lampu seperti flare melintas di langit, kemudian terdengar ledakan. Kami khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kami tidak mendapat informasi nyata dari pemerintah, hanya dari televisi negara,” ujarnya.
Situasi ini meninggalkan warga Venezuela dalam ketidakpastian, sementara dunia menunggu perkembangan terbaru dari negara penghasil minyak itu.













