kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.839   37,00   0,22%
  • IDX 8.307   15,76   0,19%
  • KOMPAS100 1.174   2,25   0,19%
  • LQ45 842   -0,22   -0,03%
  • ISSI 297   1,10   0,37%
  • IDX30 437   0,64   0,15%
  • IDXHIDIV20 521   0,70   0,13%
  • IDX80 131   0,29   0,22%
  • IDXV30 144   0,99   0,69%
  • IDXQ30 141   -0,14   -0,10%

Peringatan Keras Elon Musk: AS 1.000% Akan Bangkrut karena Utang


Sabtu, 07 Februari 2026 / 06:10 WIB
Peringatan Keras Elon Musk: AS 1.000% Akan Bangkrut karena Utang
ILUSTRASI. Elon Musk sebut AS menuju bangkrut akibat utang US$ 38,56 triliun. Tanpa AI, nilai dolar bisa tergerus drastis. (via REUTERS/Pool)


Sumber: Money Wise | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - CEO Tesla Elon Musk mengeluarkan peringatan keras soal kondisi keuangan Amerika Serikat.

Melansir Money Wise, dalam wawancara di Dwarkesh Podcast pada 5 Februari, Musk mengatakan Amerika Serikat melaju cepat menuju kebangkrutan seiring terus membengkaknya utang nasional.

“Kita 1.000% akan bangkrut sebagai negara dan gagal sebagai negara, tanpa AI dan robot,” kata Musk. 

Menurutnya, tidak ada solusi lain yang mampu mengatasi utang nasional selain terobosan besar di bidang kecerdasan buatan (AI) dan robotika.

Utang AS Tembus US$ 38,5 Triliun

Berdasarkan data Departemen Keuangan AS, total utang nasional Amerika kini mencapai sekitar US$ 38,56 triliun dan terus bertambah karena belanja pemerintah lebih besar dibandingkan penerimaan negara.

Sepanjang tahun fiskal 2026 sejauh ini, pemerintah AS telah membelanjakan sekitar US$ 602 miliar lebih banyak dibandingkan pendapatannya.

Tanpa lonjakan produktivitas dari AI dan robotika, Musk menggambarkan masa depan ekonomi AS dengan nada suram. Ia menyebut Amerika benar-benar dalam masalah besar karena utang terus menumpuk dengan cepat.

Baca Juga: Ketua The Fed Jerome Powell Bawa Kabar Buruk bagi Presiden Donald Trump, Apa Itu?

Beban Bunga Utang Lebih Besar dari Anggaran Militer

Musk juga menyoroti besarnya beban bunga utang pemerintah.

Menurutnya, pembayaran bunga utang nasional kini sudah melampaui anggaran militer AS, yang mencapai sekitar US$ 1 triliun per tahun.

“Kita menghabiskan lebih dari satu triliun dolar hanya untuk membayar bunga utang,” ujar Musk.

Laporan terbaru dari Committee for a Responsible Federal Budget memperkirakan pembayaran bunga utang AS akan menembus US$ 1,5 triliun pada 2032 dan meningkat menjadi sekitar US$ 1,8 triliun pada 2035.

Risiko ‘Debt Death Spiral’

Kekhawatiran soal utang AS juga disuarakan oleh Ray Dalio, pendiri hedge fund terbesar dunia, Bridgewater Associates. Dalio memperingatkan AS berisiko masuk ke dalam “death spiral” utang, yakni kondisi ketika pemerintah harus terus berutang hanya untuk membayar bunga utang lama.

Namun, Dalio tidak memperkirakan AS akan benar-benar bangkrut secara teknis.

Menurutnya, bank sentral akan mencetak uang untuk menutup kebutuhan tersebut. Konsekuensinya bukan gagal bayar, melainkan pelemahan nilai dolar.

Dengan kata lain, dolar mungkin tidak akan habis, tetapi daya belinya bisa terus menurun.

Baca Juga: Saat Produktivitas Robusta Mengerek Harga Kopi Dunia

Nilai Dolar Terus Tergerus

Musk sebelumnya juga memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, nilai dolar bisa terus terdepresiasi.

Data Federal Reserve Bank of Minneapolis menunjukkan, daya beli US$ 100 pada 2025 setara dengan hanya sekitar US$ 12 pada tahun 1970. Ini mencerminkan betapa besarnya erosi nilai uang akibat inflasi dalam jangka panjang.

Investor Mulai Cari Aset Pelindung Nilai

Dalam kondisi seperti ini, banyak investor mencari cara untuk melindungi kekayaan mereka dari risiko inflasi dan pelemahan mata uang.

Ray Dalio menekankan pentingnya diversifikasi, termasuk memiliki aset lindung nilai seperti emas.

Menurut Dalio, emas kerap menjadi aset pelindung saat kondisi ekonomi dan geopolitik memburuk. Emas tidak bisa “dicetak” seperti uang kertas dan tidak bergantung pada satu negara atau mata uang.

Dalam 12 bulan terakhir, harga emas tercatat naik lebih dari 70%, meski sempat mengalami koreksi.

Sejumlah tokoh keuangan bahkan memperkirakan emas masih berpotensi naik lebih tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Tonton: Istana Wapres Rampung, Gibran dan ASN Bersiap Mulai Aktivitas di IKN pada 2026

Properti dan Aset Alternatif Jadi Pilihan

Selain emas, properti juga kerap dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Saat inflasi naik, harga properti dan sewa biasanya ikut meningkat.

Dalam 10 tahun terakhir, indeks harga rumah nasional AS versi Case-Shiller tercatat naik lebih dari 87%, mencerminkan kuatnya permintaan dan terbatasnya pasokan.

Di sisi lain, sebagian investor juga mulai melirik aset alternatif, seperti real estate fractional, logam mulia, hingga karya seni, sebagai cara untuk mendiversifikasi portofolio dan melindungi nilai kekayaan.

Selanjutnya: Promo Alfamart Paling Murah Sejagat 7 Februari 2026, Detergen Mulai Rp 8.500

Menarik Dibaca: Promo Alfamart Paling Murah Sejagat 7 Februari 2026, Detergen Mulai Rp 8.500




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×