Sumber: Investing | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga emas bersiap mencatatkan kinerja bulanan terkuat sejak era 1980-an, didorong oleh lonjakan permintaan investasi, pembelian bank sentral, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan.
Melansir Investing.com, UBS menaikkan target harga emas menjadi US$ 6.200 per ons troi untuk periode Maret, Juni, dan September 2026, dari sebelumnya US$ 5.000 per ons troi.
Namun, UBS memperkirakan harga emas akan sedikit melemah ke sekitar US$ 5.900 per ons troi pada akhir 2026, seiring berlalunya pemilu paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikat.
Pada perdagangan Kamis, emas diperdagangkan di kisaran US$ 5.344,98 per ons, setelah sempat menyentuh level US$ 5.400 per ons pada sesi sebelumnya. Sejak awal tahun, harga emas telah melonjak lebih dari 25%, melanjutkan reli kuat sepanjang tahun lalu.
Kenaikan ini menjadi reli terkuat emas sejak 1979.
Reli terbaru dipicu oleh meningkatnya arus dana investasi, pembelian berkelanjutan oleh bank sentral, serta melemahnya dolar AS. Selain itu, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian institusional mendorong investor memburu aset riil seperti emas.
Penurunan suku bunga riil AS serta kekhawatiran terhadap kebijakan domestik Amerika Serikat juga turut menopang permintaan emas.
Baca Juga: Indeks Nikkei Berbalik Melemah Terseret Aksi Profit Taking Saham Teknologi
Data terbaru World Gold Council menunjukkan total permintaan emas global pada 2025 menembus 5.000 metrik ton untuk pertama kalinya, termasuk transaksi over-the-counter (OTC).
Aktivitas investasi menjadi pendorong utama, dengan kepemilikan exchange-traded fund (ETF) emas naik 801 metrik ton. Sementara itu, pembelian emas batangan dan koin melonjak ke level tertinggi dalam 12 tahun, mendekati 1.375 metrik ton. Bank sentral membeli sekitar 863 metrik ton, lebih rendah dari rekor sebelumnya, namun masih tergolong tinggi secara historis.
UBS juga menaikkan proyeksi permintaan emas 2026 untuk hampir semua sektor, kecuali bank sentral. Untuk bank sentral, UBS masih memperkirakan pembelian sekitar 950 metrik ton.
UBS menyoroti keputusan Polandia yang menaikkan target kepemilikan emasnya menjadi 700 metrik ton, dari sebelumnya 550 metrik ton. Langkah ini dinilai bisa menjadi sinyal berkurangnya sensitivitas terhadap harga jika diikuti oleh negara lain.
Di China, permintaan fisik emas dinilai tetap kuat meski harga berada di level rekor, didukung faktor musiman dan sentimen positif. Namun, UBS memperkirakan permintaan akan sedikit melunak setelah perayaan Tahun Baru Imlek.
Tonton: Harga Emas Memudar Hari Ini (30 Januari 2026)
Untuk skenario ke depan, UBS melihat potensi kenaikan harga emas hingga US$ 7.200 per ons troi dalam skenario optimistis. Sebaliknya, dalam skenario negatif, harga emas bisa turun ke sekitar US$ 4.600 per ons troi. UBS menilai kebijakan The Fed yang lebih hawkish berpotensi menekan harga emas, sementara eskalasi tajam ketegangan geopolitik bisa mendorong harga naik lebih tinggi.












