Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Gelombang protes di Iran dilaporkan mulai mereda setelah tindakan keras aparat keamanan yang menewaskan ribuan orang.
Kelompok hak asasi manusia (HAM) dan sejumlah warga menyebut situasi relatif tenang dalam beberapa hari terakhir, meskipun penangkapan masih terus berlangsung dan kehadiran aparat keamanan tetap masif.
Laporan Reuters, Jumat (16/1/2026), menyebutkan bahwa media pemerintah Iran kembali melaporkan adanya penangkapan baru, di tengah bayang-bayang ancaman Amerika Serikat (AS) untuk turun tangan apabila kekerasan kembali berlanjut.
Baca Juga: Meta Pangkas Ribuan Karyawan Reality Labs Usai Tekor US$ 73 Miliar
Namun, kekhawatiran atas serangan militer AS mulai mereda sejak Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pembunuhan terhadap demonstran di Iran telah berkurang.
Sejumlah sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi dan Qatar, diketahui melakukan diplomasi intensif dengan Washington sepanjang pekan ini guna mencegah serangan militer AS ke Iran.
Seorang pejabat Teluk menyebutkan bahwa serangan semacam itu berpotensi menimbulkan dampak luas bagi kawasan dan pada akhirnya merugikan AS sendiri.
Gedung Putih pada Kamis (15/1) menyatakan bahwa Trump dan timnya telah memperingatkan Teheran akan adanya “konsekuensi serius” jika kembali terjadi pertumpahan darah.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menambahkan bahwa sekitar 800 eksekusi terjadwal di Iran disebut telah dihentikan, seraya menegaskan bahwa Trump masih mempertimbangkan seluruh opsi yang ada.
Baca Juga: CEO Bank of America Ungkap Risiko Stablecoin Berbunga terhadap Simpanan Perbankan
Setelah pemadaman komunikasi dicabut awal pekan ini, laporan kekerasan mulai bermunculan.
Seorang perempuan di Teheran mengatakan kepada Reuters bahwa putrinya yang berusia 15 tahun tewas pada Jumat setelah mengikuti aksi demonstrasi di dekat rumah mereka.
Ia menyebut putrinya ditembak oleh pasukan Basij saat mencoba pulang ke rumah.
Aksi protes di Iran pecah sejak 28 Desember lalu dipicu melonjaknya inflasi dan tekanan ekonomi akibat sanksi internasional.
Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pemerintahan ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Kelompok HAM Iran-Kurdi yang berbasis di Norwegia, Hengaw, melaporkan bahwa tidak ada aksi demonstrasi besar sejak Minggu lalu. Namun, mereka menegaskan bahwa situasi keamanan masih sangat ketat, dengan pengerahan besar-besaran aparat militer dan keamanan di kota-kota yang sebelumnya menjadi pusat protes.
Baca Juga: Warren Buffett Pergi, Era Baru Dimulai, Gaji CEO Berkshire Melonjak 250 Kali Lipat
Beberapa warga Teheran menyebutkan kondisi ibu kota relatif tenang sejak Minggu, meski mereka masih melihat drone berpatroli di udara.
Warga di wilayah utara Iran juga melaporkan kondisi serupa. Para narasumber meminta identitas mereka dirahasiakan demi keamanan.
Meski demikian, laporan kerusuhan sporadis masih muncul. Hengaw menyebut seorang perawat perempuan tewas akibat tembakan langsung aparat saat protes di Karaj, wilayah barat Teheran.
Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Media Tasnim melaporkan perusakan kantor dinas pendidikan di Provinsi Isfahan pada Kamis.
Baca Juga: Helikopter Proteus Resmi Meluncur, AL Inggris Siap Hadapi Ancaman Rusia
Kelompok HAM yang berbasis di AS, HRANA, mencatat jumlah korban tewas mencapai 2.677 orang, terdiri dari 2.478 demonstran dan 163 orang yang diklaim terkait dengan pemerintah. Angka tersebut hanya meningkat tipis sejak Rabu.
Reuters belum dapat memverifikasi data tersebut. Seorang pejabat Iran sebelumnya menyebut korban tewas sekitar 2.000 orang.
Jumlah korban ini jauh melampaui angka kematian dalam gelombang kerusuhan sebelumnya di Iran yang juga ditekan dengan kekerasan aparat.
Di sisi geopolitik, Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pembicaraan terpisah dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Jumat.
Kremlin menyatakan Rusia siap menjadi mediator dalam konflik kawasan. Pezeshkian, menurut media pemerintah Iran, menuding AS dan Israel berperan langsung dalam memicu kerusuhan.
Sementara itu, HRANA melaporkan lebih dari 19.000 orang telah ditangkap, meski media Tasnim menyebut angka penahanan sekitar 3.000 orang.
Tasnim juga melaporkan penangkapan sejumlah pihak yang dituding sebagai pemimpin kerusuhan di Provinsi Kermanshah dan pelaku perusakan fasilitas publik di Kota Kerman.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
