kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.917.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.789   -61,00   -0,36%
  • IDX 8.975   24,32   0,27%
  • KOMPAS100 1.244   9,59   0,78%
  • LQ45 882   8,84   1,01%
  • ISSI 330   0,91   0,28%
  • IDX30 451   1,60   0,36%
  • IDXHIDIV20 533   1,62   0,31%
  • IDX80 138   1,09   0,79%
  • IDXV30 147   -0,35   -0,24%
  • IDXQ30 145   0,87   0,61%

Sinyal Kelelahan Pasar Muncul, Analis Prediksi Koreksi Signifikan Saham Global


Senin, 26 Januari 2026 / 20:28 WIB
Sinyal Kelelahan Pasar Muncul, Analis Prediksi Koreksi Signifikan Saham Global
ILUSTRASI. Saham Big Tech mulai melemah, aset spekulatif kehilangan momentum. Ketahui risiko koreksi besar yang bisa menghantam portofolio Anda. (REUTERS/Jeenah Moon)


Sumber: Finbold News | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham global saat ini masih diperdagangkan di dekat level tertinggi sepanjang masa (all-time high). Namun, Chief Market Strategist The Technical Traders, Chris Vermeulen, menilai tanda-tanda kelelahan mulai terlihat jelas dan kondisi teknikal mengarah pada potensi koreksi yang cukup berarti dalam beberapa pekan ke depan.

Dalam wawancaranya dengan David Lin, Vermeulen menjelaskan bahwa pergerakan harga terbaru menyerupai pola pembentukan puncak (topping pattern) yang pernah terjadi di masa lalu. Pola tersebut umumnya ditandai dengan reli kuat yang kemudian diikuti penurunan tajam, fase konsolidasi singkat, kenaikan tipis ke level tertinggi baru, sebelum akhirnya momentum melemah.

Menurut dia, kekuatan kenaikan harga telah memudar secara signifikan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya penurunan mendadak dan agresif.

Baca Juga: Nikkei Jepang Anjlok 1% Senin (26/1), Yen Menguat di Tengah Kekhawatiran Intervensi

Melemahnya Peran Saham Big Tech

Salah satu perhatian utama Vermeulen adalah melemahnya kepemimpinan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Kelompok yang dikenal sebagai Magnificent 7—yang selama ini menjadi pendorong utama kenaikan indeks S&P 500 dan Nasdaq—kini bergerak sideways dengan karakteristik yang semakin bearish.

Ia menilai, hilangnya momentum dari saham-saham tersebut dapat melemahkan indeks secara keseluruhan, terutama Nasdaq, serta mencerminkan mulai pudarnya antusiasme investor terhadap tema-tema dominan sebelumnya.

Logam Mulia Berpotensi Membentuk Puncak Besar

Selain pasar saham, Vermeulen juga menyoroti reli logam mulia yang dinilai sudah terlalu teregang (overstretched). Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya blow-off peak, yakni lonjakan tajam terakhir sebelum harga membentuk puncak besar dalam beberapa pekan atau bulan mendatang.

“Kita sangat dekat dengan koreksi yang sangat signifikan di pasar ekuitas dan blow-off peak di logam mulia yang berpotensi membentuk puncak besar dalam beberapa pekan atau mungkin beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Aset Spekulatif Kehilangan Momentum

Vermeulen menambahkan bahwa aset-aset yang sebelumnya bersifat spekulatif, termasuk Bitcoin (BTC), sudah lebih dulu kehilangan momentum. Tren pelemahan ini kini mulai terlihat pada saham-saham teknologi berkapitalisasi raksasa.

Baca Juga: Rekor! KOSPI Tembus ke 5.000, Ditopang Booming AI dan Reformasi Pasar

Seiring investor mulai lelah dengan pergerakan harga yang sideways, aliran dana mulai berotasi dari saham pertumbuhan menuju tren yang dinilai lebih kuat, terutama logam mulia.

Upside Terbatas, Risiko Koreksi Meningkat

Secara teknikal, Vermeulen melihat ruang kenaikan saham Amerika Serikat semakin terbatas. Indeks S&P 500 diperkirakan hanya memiliki potensi kenaikan sekitar 4,5% menuju area resistensi di level 7.225.

Nasdaq juga masih berpeluang naik tipis, namun jika kinerja S&P 500 lebih baik tanpa dukungan Magnificent 7, hal itu justru menjadi sinyal rusaknya kepemimpinan pasar.

Di sisi lain, pasar saham masih berpotensi terkoreksi sekitar 1% hingga 2% sebelum menemukan area support. Meski tren jangka panjang masih tergolong bullish karena harga berada di atas rata-rata pergerakan naik (rising moving averages), Vermeulen menilai kondisi semacam ini kerap menjadi pendahulu koreksi besar di fase akhir siklus pasar.

Ia menyimpulkan bahwa jika saham-saham teknologi dominan mengalami pembalikan arah yang tegas, tekanan jual dapat meningkat cepat dan memicu koreksi pasar yang luas serta berpotensi cukup dalam.

Selanjutnya: Premi Asuransi Jiwa Anjlok? Produk Tradisional Selamatkan Industri

Menarik Dibaca: Hujan Petir di Pagi Hari, Ini Prakiraan BMKG Cuaca Besok (27/1) di Jakarta




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×