Terbukti, eksploitasi mahasiswa asing di Australia dan dilecehkan secara seksual

Jumat, 03 Juli 2020 | 07:14 WIB Sumber: Kompas.com
Terbukti, eksploitasi mahasiswa asing di Australia dan dilecehkan secara seksual

ILUSTRASI. bendera australia


KONTAN.CO.ID - Sydney. Meskipun sebagai negara maju, Australia masih rawan eksploitasi tenaga kerja manusia. Bukti eksploitasi mahasiswa asing di Australia semakin banyak.

Di Australia, mahasiswa asing menjadi sasaran eksploitasi dengan dibayar murah dan dilecehkan secara seksual. Jarang di antara mereka yang membawa kasus mereka ke pengadilan.

Baca juga: Mobil Ayla di Jakarta diskon hingga Rp 15 juta, jangan dilewatkan!

Dilaporkan oleh University of New South Wales (UNSW) dan University of Technology Sydney (UTS) yang menyebutkan bahwa tak ada perubahan berarti dalam kondisi mahasiswa asing di dunia kerja di Australia sejak survei serupa yang dilakukan 4 tahun lalu.

Wabah virus corona bahkan memperburuk ekploitasi. Profesor Laurie Berg dari UTS yang menulis laporan survei menyebutkan potensi eksploitasi saat ini semakin besar. "Mahasiswa internasional saat ini lebih putus asa untuk mendapatkan penghasilan, pengusaha mungkin ingin mengurangi biaya, serta pekerjaan semakin langka," jelas Profesor Berg.

Dibayar 7 dollar Australia per jam

Iris Yao, mahasiswa Universitas Sydney asal China, selama ini bekerja sambil kuliah untuk membantu meringankan beban orangtuanya. "Orang tua saya bekerja keras untuk membayar uang sekolah dan biaya hidup saya di sini," kata Iris kepada "Program 7.30" ABC. "Saya merasa harus berbuat sesuatu untuk meringankan beban mereka," ujarnya.

Pekerjaan Iris seperti membersihkan dapur, mencuci piring, bertugas di bagian pemesanan makanan, dengan upah hanya 7 dollar Australia per jam yang dibayar tunai. Menurut ketentuan, bayaran ini tiga kali lebih rendah dari upah minimum yang berlaku bagi pekerja berusia di atas 20 tahun. "Mereka bilang jika saya bisa bekerja lebih baik, maka akan membayar saya lebih banyak. Tapi, saya rasa mereka bohong," katanya.

Menurut Profesor Berg, pengalaman Iris ini bukanlah suatu hal yang jarang terjadi. "Kasus seperti Iris sudah biasa dialami mahasiswa internasional, yang dibayar kurang, karena itulah pekerjaan yang tersedia bagi mereka," katanya. "Mereka juga segan untuk memasalahkan hal ini," ujar Prof Berg.

Ketentuan visa pelajar di Australia memungkinkan mahasiswa asing untuk bekerja hingga 20 jam per minggu. Survei UNSW dan UTS melibatkan 6.000 mahasiswa asing dari 103 negara dengan setengah dari mahasiswa tersebut mengaku dibayar kurang dari upah minimum.

Lebih dari 25% menyebutkan dibayar 12 dollar Australia per jam atau kurang dari itu. Selain itu, mahasiswa asal China justru mengalami kondisi terburuk, dengan 54% dari mereka mengaku dibayar rendah.

Selanjutnya: Eksploitasi seksual

Eksploitasi seksual

Tak hanya dibayar murah, para mahasiswa asing yang bekerja sambil kuliah ini juga sangat rentan dieksploitasi secara seksual. Seperti yang dialami Paula, mahasiswa asal Brasil, yang datang ke Melbourne untuk kuliah di bidang manajemen bisnis. Kepada "Program 7.30" dari ABC, Paula mengaku mengalami pelecehan seksual di tempat kerjanya. "Dia minta ciuman dan juga pakaian dalamku," ujarnya.

Baca juga:India China capai kesepakatan usai adu jotos, tapi belum tentu ancaman perang hilang

"Aku menolak keinginannya yang berusaha memanfaatkanku secara seksual. Aku juga minta uangku yang belum dibayarkan," kata Paula. "Dia kemudian mencoba menghukumku, mengancam akan memberikan pekerjaanku kepada pegawai baru," ujarnya.

Paula kemudian berhenti dari pekerjaan tersebut, tetapi mengaku tertekan untuk menyembunyikan apa yang dialaminya. "Dia omong besar seakan-akan dia itu orang penting, punya banyak koneksi, dan terus-menerus mengancam melaporkanku ke Imigrasi," tutur Paula.

Pengalaman serupa dialami oleh Talita, yang juga berasal dari Brasil. Talita mengaku rekan kerjanya yang senior mencoba menciumnya dan menawarkan bayaran untuk berhubungan seks.

Talita pun menyampaikan hal ini kepada majikannya. "Dia berusaha menciumku. Dia menggigit bibirku," ujarnya.

"Aku berusaha melarikan diri, tapi dia terus mengejar. Dia bilang, kamu kan butuh uang, akan kuberikan asal tetap bersamaku," jelas Talita.

Dia kehilangan pekerjaan dan pulang ke Brasil setelah kejadian itu. Kini Talita kembali ke Melbourne dan bertekad mewujudkan mimpinya menjadi koki.

Selanjutnya: Gugat ke pengadilan

Gugat ke pengadilan

Beberapa mahasiswa mengaku takut untuk menceritakan kisah mereka melalui media. Menurut Profesor Berg, ada impunitas di kalangan majikan yang membuat mahasiswa asing memilih untuk diam.

"Siswa-siswa internasional ini jauh dari rumah, kebanyakan tinggal sendirian, tidak akrab dengan sistem hukum Australia sehingga, sayangnya, sangat rentan terhadap eksploitasi majikan."

Baca juga: Bagaimana pengobatan virus corona secara tradisional di China? Ini penjelasannya

Salah satu mahasiswa asing yang membawa kasusnya ke pengadilan adalah Jonathan, mahasiswa teknik sipil asal China. "Upah saya 6.000 dollar Australia belum dibayar menurut aturan tarif penalti," katanya kepada ABC.

Ia butuh waktu dua bulan sebelum akhirnya mendapatkan selisih kekurangan gajinya. Akan tetapi, mahasiswa lainnya, Jin, yang membawa kasusnya untuk diadili oleh komisi Fair Work Commission, masih berusaha mendapatkan tiga tahun kekurangan gajinya. "Jumlahnya sekitar 10.000 dollar Australia," kata Jin kepada ABC.

Ia bekerja untuk perusahaan promosi di toko bebas pajak di bandara Sydney. Kepada Fair Work, Jin mengaku melakukan pekerjaan yang sama dengan pekerja ritel yang dipekerjakan langsung oleh pengecer, tetapi bayarannya beda.

Namun, majikan Jin berdalih bahwa karyawan mereka tidak diatur oleh sistem gaji menurut tarif penalti. Fair Work juga sudah menyampaikan ke Jin bahwa mereka tidak dapat menyelidiki laporan Jin dan 16 karyawan lainnya.

Fair Work mengatakan perlu waktu berbulan-bulan untuk menentukan cakupan sistem penggajian tarif penalti, termasuk harus melakukan kunjungan lapangan dan wawancara. "Dalam situasi Covid saat ini, kami tidak dapat melakukan kunjungan lapangan atau wawancara. Juga perusahaan itu sudah ditutup dan mungkin tidak dibuka kembali di masa depan," demikian penggalan isi surat dari Fair Work.

Adapun mantan majikan Jin mengaku telah membayar stafnya itu sesuai dengan ketentuan hukum.

Selanjutnya: Dana pensiun tak dibayarkan

Dana pensiun tak dibayarkan

Eksploitasi lain yang dilakukan terhadap mahasiswa asing di Australia adalah dana pensiun yang tidak dibayarkan oleh para majikan. Hal ini terungkap dalam laporan SBS News, mengenai seorang mahasiswa asal Kolombia bernama Andres Puerto yang kuliah S2 di bidang sistem informasi bisnis.

Ia bekerja di sebuah kafe dan toko buku dan sebagaimana pemegang visa sementara lainnya, dia berhak menarik dana pensiunnya lebih awal. Kepada SBS, Andres mengaku telah kehilangan pekerjaan dan berencana menarik dana pensiunnya.

Ia baru sadar tidak memiliki dana pensiun sama sekali setelah mendapat pemberitahuan dari kantor pajak Australia (ATO). Ternyata majikan Andres tidak pernah menyetorkan dana pensiun yang berjumlah 3.500 dollar Australia (sekitar Rp 34 juta) selama dua tahun bekerja.

Andres mengaku telah menghubungi majikannya secara langsung yang menjanjikan dirinya pembayaran. Entah kapan.

(Editor : Miranti Kencana Wirawan)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Eksploitasi terhadap Mahasiswa Asing di Australia, dari Pelecehan Seksual sampai Tidak Dibayar Sesuai",

 

Halaman   1 2 3 4 Tampilkan Semua
Editor: Adi Wikanto

Terbaru