Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerukan warga Iran untuk terus melakukan aksi protes terhadap pemerintah negaranya.
Trump menyatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan”, di tengah meningkatnya penindakan aparat Iran terhadap demonstrasi terbesar yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Selasa (13/1/2026), Trump meminta para demonstran untuk tidak menyerah dan mengingat nama pihak-pihak yang melakukan kekerasan terhadap mereka.
Baca Juga: Bursa Australia Datar Rabu (14/1), Saham Keuangan Menahan Laju Tambang dan Energi
“Patriot Iran, TERUSLAH BERPROTES – AMBIL ALIH INSTITUSI KALIAN!!!… BANTUAN SEDANG DATANG,” tulis Trump, tanpa menjelaskan secara rinci bentuk bantuan yang dimaksud.
Trump juga mengatakan telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga “pembunuhan terhadap para demonstran yang tidak masuk akal” dihentikan.
Dalam pidato terpisah, ia meminta warga Iran mencatat nama para pelaku kekerasan. “Karena mereka akan membayar harga yang sangat mahal,” ujarnya.
Pemerintah Iran merespons keras pernyataan tersebut dan menuduh Trump mendorong destabilisasi politik serta menghasut kekerasan.
Seorang pejabat Iran menyebut sekitar 2.000 orang telah tewas dalam lebih dari dua pekan kerusuhan nasional, menjadi pertama kalinya otoritas Iran mengumumkan angka korban secara keseluruhan.
Baca Juga: Pasar Tenaga Kerja Australia Bergerak Mendatar hingga November 2025
Sementara itu, kelompok pemantau HAM yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, mencatat dari 2.003 kematian yang berhasil mereka verifikasi, sebanyak 1.850 di antaranya merupakan pengunjuk rasa.
HRANA juga melaporkan 16.784 orang telah ditahan, melonjak tajam dibandingkan data sehari sebelumnya.
Ketika ditanya wartawan mengenai maksud “bantuan sedang datang”, Trump menolak memberi penjelasan detail dan meminta publik menafsirkannya sendiri.
Ia mengakui opsi militer termasuk dalam sejumlah langkah yang sedang dipertimbangkan Washington untuk merespons tindakan keras Iran.
“Kami akan bertindak sesuai laporan yang kami terima,” kata Trump, seraya menyebut masih menunggu laporan intelijen terbaru mengenai situasi di Iran.
Departemen Luar Negeri AS pada hari yang sama mengimbau seluruh warga negara Amerika untuk segera meninggalkan Iran, termasuk melalui jalur darat menuju Turki atau Armenia.
Baca Juga: Ketua The Fed Diancam Pidana, Bagaimana Nasib Suku Bunga AS?
Iran dan Rusia Kecam Campur Tangan Asing
Iran kembali menuding AS dan Israel sebagai pihak yang memicu kerusuhan. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menilai pernyataan Trump sebagai upaya menghasut kekerasan dan ancaman terhadap kedaulatan negara.
“Amerika Serikat dan rezim Israel memikul tanggung jawab hukum langsung atas jatuhnya korban sipil tak berdosa, khususnya di kalangan generasi muda,” tulis Iravani dalam surat kepada Dewan Keamanan PBB.
Rusia turut mengecam apa yang disebutnya sebagai “campur tangan eksternal yang subversif” dalam urusan domestik Iran.
Moskow memperingatkan bahwa eskalasi konflik dapat berdampak buruk bagi keamanan Timur Tengah dan global.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengungkapkan bahwa Teheran masih berkomunikasi dengan utusan khusus AS dan tengah mengkaji sejumlah gagasan yang diajukan Washington.
Baca Juga: Pentagon Investasikan US$1 Miliar ke Bisnis Motor Roket L3Harris
Ancaman Eksekusi dan Tekanan Internasional
Dalam wawancara dengan CBS News, Trump memperingatkan akan mengambil “tindakan sangat keras” jika Iran mengeksekusi para demonstran. Namun, ia kembali tidak menjelaskan langkah konkret yang akan diambil.
Kelompok HAM Iran Human Rights Society melaporkan bahwa eksekusi merupakan praktik yang umum di penjara Iran.
Sementara itu, kelompok HAM Kurdi Iran, Hengaw, menyebut seorang pria berusia 26 tahun bernama Erfan Soltani yang ditangkap terkait aksi protes di Karaj dijadwalkan dieksekusi. Informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.
Pembatasan komunikasi, termasuk pemadaman internet, masih menghambat arus informasi dari Iran.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan layanan telepon telah dipulihkan, namun akses internet tetap dibatasi.
Baca Juga: Trump Optimistis China Bakal Buka Pasarnya untuk Barang-Barang AS
Organisasi Holistic Resilience di AS menyebut layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk kini dapat diakses gratis di Iran, guna membantu akses informasi di tengah pembatasan.
Gelombang protes yang dipicu krisis ekonomi dan anjloknya nilai mata uang ini disebut sebagai tantangan domestik terbesar bagi pemerintahan Iran dalam setidaknya tiga tahun terakhir.
Tekanan internasional juga meningkat setelah AS mengumumkan tarif impor 25% bagi negara mana pun yang masih melakukan perdagangan dengan Iran, termasuk sektor minyak. China, sebagai pembeli utama minyak Iran, mengkritik kebijakan tersebut.
Meski aksi protes meluas sejak 28 Desember, hingga kini belum terlihat tanda-tanda perpecahan di elite keamanan Iran.
Namun sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia, telah memanggil duta besar Iran sebagai bentuk protes atas tindakan represif pemerintah.
Baca Juga: Risiko Perang Dagang Jilid II: China Siap Balas Pukulan Keras Trump soal Iran
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut meningkatnya korban jiwa di Iran sebagai sesuatu yang “mengerikan”. Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menilai pemerintahan Iran berada di ambang kejatuhan.
“Saya berasumsi kita sedang menyaksikan hari-hari terakhir rezim ini,” ujarnya.













