Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan pernyataan keras terhadap para pemimpin Iran dan menyebut sebagai “penjahat gila”, serta mengatakan merupakan “kehormatan besar” baginya untuk membunuh mereka.
Pernyataan itu muncul saat perang di Timur Tengah mendekati dua pekan dengan pertukaran serangan drone dan rudal di berbagai wilayah.
Baca Juga: AS Selidiki 60 Negara Terkait Dugaan Praktik Perdagangan Tidak Adil dan Kerja Paksa
Konflik yang dimulai dengan serangan gabungan Israel dan AS terhadap Iran pada akhir Februari telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, mengganggu kehidupan jutaan warga, serta mengguncang pasar energi dan keuangan global.
Dalam unggahan media sosial pada Jumat (13/3/2026), Trump menyatakan bahwa AS sedang “sepenuhnya menghancurkan rezim teroris Iran”.
“Kami memiliki kekuatan tembak yang tak tertandingi, amunisi tanpa batas, dan waktu yang cukup. Lihat saja apa yang terjadi pada para penjahat gila itu hari ini,” tulis Trump.
Ia juga mengatakan bahwa para pemimpin Iran telah membunuh orang tak bersalah di seluruh dunia selama 47 tahun.
“Sekarang saya, sebagai Presiden Amerika Serikat ke-47, membunuh mereka. Suatu kehormatan besar untuk melakukannya,” tambahnya.
Baca Juga: Fitch Naikkan Proyeksi Harga Logam dan Komoditas Tambang untuk 2026, Cek Datanya!
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz
Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan pertamanya pada Kamis menegaskan bahwa Iran akan menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Ia juga meminta negara-negara tetangga menutup pangkalan militer AS di wilayah mereka atau berisiko menjadi target Iran.
“Saya memastikan kepada semua orang bahwa kami tidak akan mengabaikan balas dendam atas darah para syuhada kalian,” kata Khamenei dalam pernyataan yang dibacakan oleh presenter televisi.
Khamenei menggantikan ayahnya setelah tewas dalam serangan awal Israel. Pejabat Iran menyebut ia sempat mengalami luka ringan. Trump sendiri mengatakan ia yakin Khamenei masih hidup namun “terluka”.
Baca Juga: ByteDance Dapat Akses Chip AI Terbaru Nvidia untuk Operasi di Luar China
Israel Klaim Serang 200 Target
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menggelar konferensi pers pertamanya sejak serangan udara dimulai pada 28 Februari.
Ia menyampaikan ancaman terselubung terhadap Khamenei sekaligus membela operasi militer tersebut.
“Kami sedang menciptakan kondisi optimal untuk menjatuhkan rezim. Namun rezim biasanya jatuh dari dalam,” ujar Netanyahu.
Militer Israel menyatakan angkatan udaranya menyerang lebih dari 200 target di Iran bagian barat dan tengah dalam 24 jam terakhir.
Target tersebut mencakup peluncur rudal balistik, sistem pertahanan udara, serta fasilitas produksi senjata dalam operasi yang disebut Operation Roar of the Lion.
Iran membalas dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone pada malam hari. Salah satu rudal Iran menghantam kota Arab Badui di Israel utara dekat Nazareth, merusak beberapa rumah dan melukai 58 orang, menurut layanan ambulans Israel.
Baca Juga: Kuba Bakal Bebaskan 51 Tahanan dalam Kesepakatan yang Dimediasi Vatikan
Konflik Meluas di Kawasan
Di Irak, U.S. Central Command melakukan operasi penyelamatan setelah pesawat pengisian bahan bakar militer jatuh.
Kelompok bersenjata pro-Iran Islamic Resistance in Iraq mengklaim bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat tersebut.
Presiden Emmanuel Macron mengatakan, seorang tentara Prancis tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan di Irak utara, beberapa jam setelah pangkalan militer Italia juga diserang di wilayah yang sama.
Serangan drone dan rudal juga dilaporkan terjadi di sejumlah negara Teluk, termasuk Kuwait, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman.
Baca Juga: Harga Emas Diprediksi Turun Dalam Sepekan, Terbebani Harapan Penurunan Suku Bunga
Harga Minyak Melonjak
Ancaman gangguan besar terhadap pasokan energi global mendorong harga minyak naik sekitar 9% hingga mendekati US$100 per barel pada Kamis. Kenaikan ini menekan pasar saham AS dan Asia.
Untuk menstabilkan pasar energi, pemerintah AS mengeluarkan izin 30 hari bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang saat ini terdampar di laut.
Sementara itu, komentar Trump yang menyatakan AS akan mendapat keuntungan dari kenaikan harga minyak menuai kritik dari Partai Demokrat.
Mereka menilai Trump kurang memperhatikan dampak perang terhadap warga sipil, terutama setelah serangan yang menewaskan puluhan anak di sebuah sekolah perempuan di Iran.
Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis di Pagi Ini (13/3) Namun Berada di Jalur Penurunan Mingguan
Situasi di Dalam Iran
Di dalam Iran, warga melaporkan kehadiran aparat keamanan semakin meningkat.
“Pasukan keamanan ada di mana-mana, lebih banyak dari sebelumnya. Orang-orang takut keluar rumah, tetapi supermarket masih buka,” kata seorang guru berusia 35 tahun di Teheran.
Meski sebagian warga Iran menginginkan perubahan politik dan bahkan merayakan kematian pemimpin tertinggi sebelumnya, hingga kini belum terlihat adanya gerakan protes terorganisir di tengah serangan yang sedang berlangsung.













