kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.358   4,00   0,02%
  • IDX 6.957   -144,42   -2,03%
  • KOMPAS100 936   -21,42   -2,24%
  • LQ45 669   -14,80   -2,16%
  • ISSI 251   -4,43   -1,74%
  • IDX30 373   -6,79   -1,79%
  • IDXHIDIV20 458   -7,34   -1,58%
  • IDX80 105   -2,51   -2,34%
  • IDXV30 134   -2,24   -1,64%
  • IDXQ30 119   -2,51   -2,07%

AS Tutup Pusat Misi Gaza, Sinyal Rencana Trump Kian Melemah


Jumat, 01 Mei 2026 / 23:31 WIB
AS Tutup Pusat Misi Gaza, Sinyal Rencana Trump Kian Melemah
ILUSTRASI. ISRAEL-PALESTINIANS/GAZA-BOARD (REUTERS/Kevin Lamarque)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan akan menutup pusat koordinasi militer-sipil utama di dekat Gaza yang selama ini bertugas memantau gencatan senjata dan menyalurkan bantuan kemanusiaan.

Langkah ini dinilai sebagai pukulan terbaru bagi rencana Presiden Donald Trump di Gaza.

Melansir Reuters Jumat (1/5/2026), sumber diplomatik menyebutkan, pusat bernama Civil-Military Coordination Centre (CMCC) tersebut akan segera dihentikan operasinya.

Baca Juga: Dolar AS Menuju Pelemahan Mingguan Terbesar vs Yen sejak Februari

Penutupan ini terjadi di tengah tantangan besar dalam mengawasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas serta memastikan distribusi bantuan ke warga Palestina.

Sejumlah diplomat menilai langkah ini mencerminkan sulitnya upaya AS dalam menjaga stabilitas di Gaza, terutama di tengah berlanjutnya serangan Israel dan kuatnya kontrol Hamas di wilayah yang mereka kuasai.

Sebagai gantinya, fungsi CMCC akan dialihkan ke misi keamanan internasional yang dipimpin AS, yakni International Stabilization Force (ISF).

Namun, para diplomat menilai perubahan ini pada praktiknya sama dengan menutup pusat tersebut.

Jumlah personel militer AS dalam misi baru itu juga akan dikurangi signifikan, dari sekitar 190 orang menjadi hanya 40 orang.

Baca Juga: Iran Kirim Proposal Negosiasi ke AS Lewat Pakistan, Peluang Akhiri Konflik Terbuka

Kekurangan tersebut rencananya akan diisi oleh tenaga sipil dari negara lain.

Meski disebut sebagai restrukturisasi, sejumlah pihak meragukan efektivitas langkah tersebut.

Pasalnya, CMCC sebelumnya juga dinilai tidak memiliki kewenangan cukup untuk menegakkan gencatan senjata maupun menjamin kelancaran bantuan kemanusiaan.

Pusat tersebut merupakan bagian penting dari rencana 20 poin Trump untuk Gaza, yang bertujuan menghentikan konflik dan memulai proses rekonstruksi wilayah yang hancur akibat perang.

Namun, implementasi rencana itu tersendat setelah konflik kembali memanas, termasuk sejak pecahnya perang antara AS dan Iran yang turut mengalihkan fokus internasional.

Baca Juga: Exxon Lampaui Estimasi Laba Kuartal I 2026, Produksi Tertekan Konflik Iran

Sejak gencatan senjata diberlakukan, serangan masih terus terjadi. Israel disebut terus memperluas kontrol wilayah di Gaza, sementara Hamas tetap mempertahankan kekuasaannya di beberapa area.

Situasi ini membuat peran CMCC semakin terbatas. Kehadiran perwakilan negara-negara yang sebelumnya aktif, seperti Jerman, Prancis, Inggris, Mesir, dan Uni Emirat Arab, juga mulai berkurang.

Padahal, pusat ini awalnya dirancang untuk memastikan distribusi bantuan berjalan lancar.

Namun, diplomat menyebut jumlah bantuan yang masuk ke Gaza masih stagnan, meskipun ada peningkatan barang komersial.

Baca Juga: Estée Lauder Naikkan Target Laba, Siap PHK hingga 3.000 Karyawan Lagi

Pembatasan terhadap sejumlah barang oleh Israel yang dianggap memiliki potensi penggunaan ganda sipil dan militer juga menghambat upaya pemulihan, termasuk kebutuhan alat berat dan perlengkapan dasar bagi pengungsi.

Dengan kondisi tersebut, masa depan stabilitas Gaza dan efektivitas intervensi internasional masih menjadi tanda tanya besar.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×