Sumber: Money Wise | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, kembali memantik perdebatan global setelah menyebut bahwa Perang Dunia III sejatinya sudah dimulai. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam pertemuan tahunan Institute of International Finance di Washington DC pada Oktober 2024.
Money Wise melaporkan, menurut Dimon, ancaman perang dan proliferasi senjata nuklir saat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan perubahan iklim.
“Perang Dunia III sudah dimulai. Kita sudah melihat pertempuran di berbagai negara yang saling terkoordinasi,” ujar Dimon.
Meski pernyataan itu menuai kontroversi, satu hal yang tak bisa dipungkiri: ketegangan geopolitik global terus meningkat sejak komentar tersebut dilontarkan.
Ketegangan Global Makin Nyata
Saat itu, Dimon menyoroti potensi konflik antara negara-negara Barat dengan China, Rusia, Iran, dan Korea Utara sebagai risiko utama, bahkan melampaui ancaman gejolak pasar keuangan global.
Ia juga mengungkapkan bahwa JPMorgan Chase telah menyusun berbagai skenario ekstrem untuk menghadapi kemungkinan konflik global.
“Skenario-skenario itu akan membuat Anda terkejut,” kata Dimon.
Memang, Perang Dunia III secara resmi belum terjadi. Namun sejak akhir 2024, eskalasi geopolitik justru semakin terasa, sebagian dipicu oleh kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Baca Juga: SM Entertainment Ekspansi Global, Resmikan Akademi K-pop di Singapura
Perang Dagang, Tarif, dan Isu Greenland
Dalam setahun terakhir, pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan tarif besar-besaran tidak hanya kepada China dan Rusia, tetapi juga terhadap sekutu dekat seperti Kanada dan Uni Eropa.
AS bahkan menuai kritik internasional setelah Trump berulang kali menyatakan keinginan agar Amerika Serikat “memiliki” Greenland, demi mengamankan sumber daya mineral strategis. Setelah ketegangan berlarut-larut, Trump mengumumkan kerangka kesepakatan sementara dengan Sekjen NATO Mark Rutte usai World Economic Forum 2026.
Langkah ini mendapat penolakan keras dari banyak pemimpin dunia.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa ancaman tarif tidak dapat diterima dan Eropa siap merespons secara bersama-sama. Sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menekankan bahwa masa depan Greenland sepenuhnya hak rakyat Greenland dan Denmark.
Bahkan dari internal Partai Republik, kritik bermunculan. Anggota DPR AS Don Bacon menyebut ancaman terhadap Greenland sebagai tindakan “absurd” dan tidak pantas terhadap sekutu NATO.
Baca Juga: Taiwan Waspadai Perubahan yang Dinilai Abnormal di Kepemimpinan Militer China













