kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.665.000   13.000   0,49%
  • USD/IDR 16.882   -7,00   -0,04%
  • IDX 9.033   84,28   0,94%
  • KOMPAS100 1.248   7,65   0,62%
  • LQ45 882   3,22   0,37%
  • ISSI 330   3,28   1,00%
  • IDX30 449   0,01   0,00%
  • IDXHIDIV20 529   -1,74   -0,33%
  • IDX80 139   0,91   0,66%
  • IDXV30 147   0,11   0,08%
  • IDXQ30 144   0,01   0,00%

CEO Nestlé Minta Maaf atas Penarikan Produk Susu Bayi di Puluhan Negara


Rabu, 14 Januari 2026 / 22:50 WIB
CEO Nestlé Minta Maaf atas Penarikan Produk Susu Bayi di Puluhan Negara
ILUSTRASI. Nestle (REUTERS/Denis Balibouse)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - ZURICH. CEO Nestlé menyampaikan permintaan maaf melalui sebuah video terkait penarikan kembali (recall) sejumlah produk nutrisi bayi perusahaan di puluhan negara. Langkah ini dilakukan seiring raksasa barang konsumsi asal Swiss tersebut meningkatkan upaya pembatasan dampak reputasi akibat kasus tersebut.

Penarikan produk ini berpotensi mengancam posisi kuat Nestlé di China dan pasar besar lainnya untuk susu formula bayi. Situasi ini juga mendorong CEO Philipp Navratil masuk ke mode manajemen krisis, hanya beberapa bulan setelah ia ditunjuk untuk memulihkan kinerja perusahaan menyusul periode gejolak manajemen.

Sedikitnya 53 negara di Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika telah mengeluarkan peringatan kesehatan terkait produk susu formula bayi Nestlé yang ditarik dari peredaran. Penarikan dilakukan karena adanya potensi kontaminasi cereulide, sejenis racun yang dapat menyebabkan mual dan muntah.

Baca Juga: Nestle Tarik Ribuan Susu Bayi di Eropa karena Risiko Toksin

Meski demikian, saham Nestlé yang telah turun sekitar 4% sejak penarikan dimulai pada Januari, justru naik 0,6% pada perdagangan Rabu.

Dalam video yang dipublikasikan Selasa malam, Navratil menyampaikan permintaan maaf atas “kekhawatiran dan gangguan” yang dialami para orang tua, pengasuh, dan konsumen akibat penarikan produk tersebut. Ia menegaskan bahwa hingga kini tidak ada kasus penyakit yang terkonfirmasi terkait batch produk yang ditarik.

Produk yang terdampak meliputi merek SMA, BEBA, NAN, dan Alfamino, yang diduga terkontaminasi akibat masalah kualitas pada salah satu bahan baku, yakni minyak asam arakidonat (arachidonic acid/ARA) yang dipasok oleh pemasok utama.

Nestlé menyatakan telah mengidentifikasi masalah kualitas di salah satu pabriknya di Belanda pada Desember lalu dan segera melakukan penarikan produk secara preventif di sejumlah negara Eropa.

“Kami telah menghentikan pasokan minyak ARA dari pemasok terkait,” ujar juru bicara Nestlé, tanpa menyebutkan nama pemasok tersebut. Ia menambahkan bahwa produksi telah kembali berjalan menggunakan minyak yang aman dari pemasok lain.

Baca Juga: Gelombang PHK Global Meluas: Amazon, Nestle, hingga UPS Pangkas Ribuan Pekerjaan

Produsen ARA yang terdaftar di bursa Amsterdam, dsm-firmenich, menyatakan tidak ada produknya yang terdampak oleh penarikan Nestlé. Sementara itu, perusahaan China Cabio Biotech, yang sahamnya anjlok hampir 12% pada 8 Januari, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.

Dalam laporan tahunan 2024, Cabio Biotech sebelumnya menyebutkan tengah mengembangkan hubungan dengan klien-klien besar seperti Nestlé serta menargetkan ekspansi internasional.

Menunjukkan kompleksitas rantai pasok global Nestlé, penarikan produk dengan cepat meluas dari Eropa ke negara-negara besar seperti Brasil, China, dan Afrika Selatan.

Nestlé merupakan salah satu pemain terbesar di pasar susu formula bayi China, yang diperkirakan bernilai sekitar 185 miliar yuan (sekitar US$26,5 miliar) pada 2025, menurut konsultan Daxue Consulting yang berfokus pada China.

Pekan lalu, Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar China mendesak Nestlé untuk memenuhi tanggung jawab korporasi, menarik batch produk terkait, dan melindungi konsumen.

Analis Barclays mencatat tekanan dari otoritas China dan menilai masalah ini bisa menjadi “cukup merusak” bagi Nestlé, khususnya di China. Hal ini mengingat para ibu di negara tersebut sangat sensitif terhadap isu keamanan susu bayi, menyusul sejumlah kasus kontaminasi susu yang pernah terjadi di masa lalu.

Baca Juga: Nestle Pangkas 16.000 Pekerja untuk Percepat Transformasi Perusahaan

Selanjutnya: Intip Saham Net Sell Terbesar Asing Saat IHSG Cetak Rekor Tertinggi, Rabu (14/1)

Menarik Dibaca: Hujan Petir di Sore Hari, Cek Prakiraan BMKG Cuaca Besok (15/1) di Jakarta




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×