kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.785.000   -13.000   -0,46%
  • USD/IDR 17.823   4,00   0,02%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Tagihan Energi Rumah Tangga di Inggris Diproyeksi Naik 13% Akibat Perang Iran


Rabu, 27 Mei 2026 / 18:24 WIB
Diperbarui Rabu, 27 Mei 2026 / 18:29 WIB
Tagihan Energi Rumah Tangga di Inggris Diproyeksi Naik 13% Akibat Perang Iran
ILUSTRASI. Tagihan energi tahunan rumah tangga Inggris naik £221 mulai Juli. Kalkulasi terbaru menunjukkan biaya hidup makin tinggi (Dok./Pixabay)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rumah tangga di Inggris akan menghadapi kenaikan tagihan energi yang signifikan mulai Juli, setelah regulator energi Ofgem menaikkan batas harga (price cap) sebesar 13% akibat lonjakan harga gas alam di pasar global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Dengan kenaikan ini, rata-rata tagihan energi tahunan rumah tangga diperkirakan mencapai £1.862, naik sekitar £221 dibandingkan batas sebelumnya sebesar £1.641 untuk periode April hingga Juni. Kenaikan tersebut terutama akan berdampak pada jutaan rumah tangga dengan tarif variabel, yang paling terpapar fluktuasi harga pasar energi.

Analis memperingatkan bahwa tagihan dapat terus meningkat apabila gangguan terhadap pengiriman energi melalui Selat Hormuz berlanjut, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute penting distribusi gas alam cair (LNG) global.

Tekanan Ekonomi dan Dampak Politik

Kenaikan harga energi ini menambah tekanan bagi Perdana Menteri Keir Starmer, di tengah kondisi masyarakat yang masih berjuang menghadapi tingginya biaya hidup.

Harga gas grosir Inggris saat ini tercatat sekitar 45% lebih tinggi dibandingkan sebelum Amerika Serikat memulai aksi militer terhadap Iran pada 28 Februari, yang berdampak pada terganggunya jalur transit penting bagi sekitar seperlima pasokan LNG dunia.

Baca Juga: Samsung Rencanakan Pembangunan Pabrik Uji Chip Senilai US$1,5 Miliar di Vietnam

Biaya grosir menjadi faktor utama dalam penentuan batas harga energi Ofgem setiap kuartal, selain biaya jaringan distribusi dan pungutan lingkungan.

Desakan Bantuan untuk Rumah Tangga

Kelompok konsumen mendesak pemerintah Inggris untuk segera menyiapkan langkah-langkah bantuan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang paling terdampak kenaikan harga energi.

“Kenaikan batas harga akibat perang yang tidak kami pilih merupakan kabar yang sangat tidak diinginkan bagi rumah tangga di seluruh negeri. Kami tahu masyarakat sudah berada di bawah tekanan sebelum krisis ini, dan karena itu meringankan beban tersebut adalah prioritas utama kami.” ujar Menteri Energi Ed Miliband dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, CEO National Energy Action, Adam Scorer, juga menekankan pentingnya intervensi pemerintah.

“Sekarang adalah waktu bagi pemerintah untuk menetapkan intervensi yang tepat sasaran guna membantu mereka yang berpenghasilan paling rendah agar mampu membayar energi dan melunasi utang mereka.”

Transisi Energi dan Kebijakan Pemerintah

Pemerintah Inggris menyatakan bahwa upaya mengurangi ketergantungan pada gas serta meningkatkan kapasitas energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya akan membantu menurunkan biaya dalam jangka panjang. Pada April, pemerintah juga memindahkan sebagian pungutan sehingga dapat memangkas sekitar £150 dari rata-rata tagihan.

Namun demikian, level batas harga baru masih sekitar 46% lebih tinggi dibandingkan musim dingin 2021/2022, sebelum invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan harga energi global.

Potensi Kenaikan Lanjutan

Dengan ketegangan Iran–Amerika Serikat yang belum mereda, lembaga analisis Cornwall Insight memperkirakan harga energi masih berpotensi naik lebih lanjut hingga £1.899 mulai Oktober.

Baca Juga: Hong Kong Kuasai Aset Offshore Dunia, Geser Dominasi Swiss

Kondisi ini dikhawatirkan akan menekan perekonomian Inggris yang dalam beberapa tahun terakhir sudah mengalami pertumbuhan yang lemah. Data terbaru menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen menurun, dengan masyarakat mengurangi pembelian besar dan lebih selektif dalam berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Bank of England (BoE) memperkirakan inflasi dapat mencapai sekitar 4% pada akhir tahun. Inflasi di Inggris sendiri telah berada di atas target 2% BoE selama hampir lima tahun terakhir, dengan hanya beberapa periode pengecualian.

Perubahan Pola Konsumsi Energi

Ofgem juga mencatat bahwa masyarakat Inggris kini menggunakan lebih sedikit gas dan listrik dibandingkan sebelumnya, sehingga perhitungan konsumsi rumah tangga standar dalam skema price cap berikutnya akan disesuaikan.

Skema batas harga energi untuk tarif standar ini diperkenalkan pada 2019 dan mencakup sekitar dua pertiga rumah tangga di Inggris.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×