Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Selain Phillips 66, Citgo Petroleum, kilang milik Venezuela yang beroperasi di AS, juga mengonfirmasi sedang berdiskusi untuk membeli minyak langsung dari PDVSA guna diproses di fasilitas Gulf Coast.
Citgo menyatakan setiap transaksi akan mengikuti ketentuan lisensi GL46 dan GL47, serta sesuai praktik komersial normal.
Pada Januari lalu, Citgo membeli 500.000 barel minyak berat Venezuela untuk pengiriman Februari dari Trafigura. Itu merupakan impor minyak Venezuela pertama Citgo sejak 2019.
Sementara itu, Valero, kilang terbesar kedua di AS, juga dikabarkan berencana membeli langsung dari PDVSA pada paruh akhir tahun ini, setelah menilai kondisi infrastruktur pemuatan minyak di Venezuela.
Valero bahkan meningkatkan impor minyak Venezuela dengan total hingga 6,5 juta barel yang dijadwalkan tiba di kilang Gulf Coast pada Maret. Mayoritas pembelian tersebut masih melalui Chevron.
Tantangan: Sanksi dan Pembiayaan
Meski peluang bisnis terbuka lebar, tantangan tetap ada.
PDVSA disebut meminta pembeli memiliki lisensi individual atau persetujuan khusus dari Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) di bawah Departemen Keuangan AS untuk dapat mengangkut minyak dari pelabuhan Venezuela.
Selain itu, sejumlah bank AS masih enggan membiayai transaksi perdagangan minyak Venezuela karena negara tersebut masih berada di bawah sanksi ekonomi.
Banyak kilang telah mengajukan permohonan lisensi individual dan saat ini masih menunggu persetujuan.
Tonton: Trump Kerahkan Kapal Induk Paling Canggih USS Gerald R Ford ke Iran, Ini Dia Spesifikasinya!
Harga Minyak Venezuela Turun
Seiring semakin banyaknya minyak Venezuela yang dialihkan ke pasar AS ketimbang China, harga minyak mentah Venezuela mulai melemah.
Vitol dan Trafigura dalam beberapa hari terakhir menawarkan kargo minyak jenis Merey dengan diskon sekitar US$ 10 per barel di bawah harga Brent. Angka ini lebih murah dibandingkan bulan lalu yang berada di kisaran US$ 6 hingga US$ 7,5 per barel di bawah Brent.
Pada gelombang awal penjualan, kedua perusahaan tersebut menegosiasikan harga sekitar US$ 15 per barel di bawah Brent, menghasilkan penjualan awal senilai US$ 500 juta bulan lalu, menurut Menteri Energi AS Chris Wright.
Setelah memperhitungkan biaya transportasi dan penyimpanan, keuntungan yang diperoleh diperkirakan mencapai hingga US$ 4 per barel.












![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)