Sumber: Daily Beast | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan membuat orang-orang di lingkaran terdekatnya terkejut setelah dengan tenang meramalkan kapan dirinya akan meninggal, menurut sebuah laporan terbaru.
Presiden berusia 79 tahun itu disebut melontarkan pernyataan tersebut di Mar-a-Lago, saat layar televisi menayangkan peti jenazah Jimmy Carter yang disemayamkan di Gedung Capitol AS. Kepada orang-orang di ruangan itu, Trump berkata,
“Kalian tahu, dalam sepuluh tahun ke depan, itu akan menjadi saya,” kata Trump.
Mengutip The Daily Beast, ucapan tersebut, yang dikutip dari seseorang yang mengetahui langsung pernyataan Trump, dimuat dalam laporan panjang New York Magazine berjudul “The Superhuman President”, yang mengulas kondisi kesehatan dan psikologis Trump.
Episode ini menambah nuansa suram dalam cara Trump dan timnya kini membicarakan tahun politik 2028.
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan kepada New York Magazine bahwa “bayang-bayang kematian terkadang muncul dalam pembicaraan soal 2028”. Para ajudan disebut mulai memperhitungkan apakah Trump akan bersedia (atau bahkan mampu) maju lagi, ketika usianya sudah memasuki awal 80-an.
Di saat yang sama, Trump justru kerap menegaskan bahwa bertahan di kursi presiden adalah hal yang membuatnya tetap hidup.
Baca Juga: Sanksi AS Mulai Berdampak: Harga Minyak Urals Rusia Merosot, Siapa Paling Rugi?
Trump saat ini tercatat sebagai orang tertua yang pernah terpilih sebagai presiden AS.
Alih-alih membicarakan soal melambat atau pensiun, ia berulang kali menggoda publik dengan kemungkinan mencalonkan diri lagi, bahkan membanggakan diri bisa mengejar masa jabatan ketiga, atau secara praktis masa jabatan keempat, ketika usianya mencapai 86 tahun, meski para ahli hukum menegaskan adanya batas dua periode dalam konstitusi AS.
Pernyataan-pernyataan Trump itu berseberangan dengan meningkatnya kekhawatiran soal kesehatannya, yang sebelumnya banyak dilaporkan oleh The Daily Beast.
Dalam laporan New York Magazine, para ajudan dikabarkan cemas dengan tangan Trump yang sering memar, kebiasaannya tertidur di depan umum, serta kunjungan MRI misterius ke Walter Reed yang sulit dijelaskan oleh Gedung Putih.
Mantan pengacara Gedung Putih Ty Cobb bulan ini memperingatkan bahwa penurunan kognitif Trump sudah “terasa jelas”. Sementara itu, dokter ternama Dr. Bruce Davison mengatakan dalam podcast The Daily Beast bahwa dosis aspirin harian Trump sebesar 325 mg biasanya diberikan kepada pasien yang berisiko stroke.
Baca Juga: Gelombang Panas Terjang Australia, Melbourne Hadapi Hari Terpanas dalam 17 Tahun
Di lingkaran dalam Trump, situasinya disebut seperti realitas ganda yang aneh. Di satu sisi, Trump berbicara soal kematian, warisan, dan apa yang akan ia tinggalkan, mulai dari ballroom East Wing senilai US$ 400 juta hingga monumen “Arc de Trump” yang ingin ia bangun berhadapan dengan Lincoln Memorial.
Namun di sisi lain, ia tetap menampilkan dirinya sebagai sosok “manusia super” yang mampu bekerja lebih keras dari rival yang lebih muda dan menantang usia.
Seorang pejabat senior mengatakan kepada New York Magazine bahwa pembicaraan soal suksesi bukan hanya soal menerima fakta bahwa Trump tidak akan hidup selamanya, tetapi juga tentang bagaimana membuatnya “hidup abadi” melalui para penerus yang ia pilih.
Tonton: Prabowo Panggil Purbaya, Bahlil hingga Panglima ke Hambalang, Bahas Apa?
The Daily Beast menyatakan telah menghubungi Gedung Putih untuk meminta tanggapan.













