kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45806,19   -5,40   -0.67%
  • EMAS1.055.000 -0,94%
  • RD.SAHAM -0.34%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Terbukti, eksploitasi mahasiswa asing di Australia dan dilecehkan secara seksual


Jumat, 03 Juli 2020 / 07:14 WIB
Terbukti, eksploitasi mahasiswa asing di Australia dan dilecehkan secara seksual
ILUSTRASI. bendera australia

Sumber: Kompas.com | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Sydney. Meskipun sebagai negara maju, Australia masih rawan eksploitasi tenaga kerja manusia. Bukti eksploitasi mahasiswa asing di Australia semakin banyak.

Di Australia, mahasiswa asing menjadi sasaran eksploitasi dengan dibayar murah dan dilecehkan secara seksual. Jarang di antara mereka yang membawa kasus mereka ke pengadilan.

Baca juga: Mobil Ayla di Jakarta diskon hingga Rp 15 juta, jangan dilewatkan!

Dilaporkan oleh University of New South Wales (UNSW) dan University of Technology Sydney (UTS) yang menyebutkan bahwa tak ada perubahan berarti dalam kondisi mahasiswa asing di dunia kerja di Australia sejak survei serupa yang dilakukan 4 tahun lalu.

Wabah virus corona bahkan memperburuk ekploitasi. Profesor Laurie Berg dari UTS yang menulis laporan survei menyebutkan potensi eksploitasi saat ini semakin besar. "Mahasiswa internasional saat ini lebih putus asa untuk mendapatkan penghasilan, pengusaha mungkin ingin mengurangi biaya, serta pekerjaan semakin langka," jelas Profesor Berg.

Dibayar 7 dollar Australia per jam

Iris Yao, mahasiswa Universitas Sydney asal China, selama ini bekerja sambil kuliah untuk membantu meringankan beban orangtuanya. "Orang tua saya bekerja keras untuk membayar uang sekolah dan biaya hidup saya di sini," kata Iris kepada "Program 7.30" ABC. "Saya merasa harus berbuat sesuatu untuk meringankan beban mereka," ujarnya.

Pekerjaan Iris seperti membersihkan dapur, mencuci piring, bertugas di bagian pemesanan makanan, dengan upah hanya 7 dollar Australia per jam yang dibayar tunai. Menurut ketentuan, bayaran ini tiga kali lebih rendah dari upah minimum yang berlaku bagi pekerja berusia di atas 20 tahun. "Mereka bilang jika saya bisa bekerja lebih baik, maka akan membayar saya lebih banyak. Tapi, saya rasa mereka bohong," katanya.

Menurut Profesor Berg, pengalaman Iris ini bukanlah suatu hal yang jarang terjadi. "Kasus seperti Iris sudah biasa dialami mahasiswa internasional, yang dibayar kurang, karena itulah pekerjaan yang tersedia bagi mereka," katanya. "Mereka juga segan untuk memasalahkan hal ini," ujar Prof Berg.

Ketentuan visa pelajar di Australia memungkinkan mahasiswa asing untuk bekerja hingga 20 jam per minggu. Survei UNSW dan UTS melibatkan 6.000 mahasiswa asing dari 103 negara dengan setengah dari mahasiswa tersebut mengaku dibayar kurang dari upah minimum.

Lebih dari 25% menyebutkan dibayar 12 dollar Australia per jam atau kurang dari itu. Selain itu, mahasiswa asal China justru mengalami kondisi terburuk, dengan 54% dari mereka mengaku dibayar rendah.

Selanjutnya: Eksploitasi seksual



TERBARU

[X]
×