Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - FRANKFURT. Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga pada Kamis (29/10/2026), sesuai dengan perkiraan pasar. Namun, ECB tetapmembuka peluang kenaikan suku bunga pada Desember dan memperingatkan bahwa biaya energi yang tinggi dan terusmeningkat memperbesar risiko inflasi.
ECB telah menaikkan suku bunga dua kali tahun ini untuk mencegah lonjakan harga energi akibat perang Iran menjadimasalah berkepanjangan. Bank sentral tersebut juga telah memberi sinyal bahwa kenaikan tambahan mungkin diperlukan,meskipun tidak terburu-buru mengambil langkah tersebut tanpa bukti adanya dampak lanjutan inflasi yangmembahayakan.
Dalam keputusan yang diumumkan hanya beberapa jam setelah Presiden ECB Christine Lagarde menyatakan akanmengundurkan diri lebih awal, ECB memperingatkan bahwa risiko inflasi cenderung mengarah ke tingkat yang lebihtinggi menyusul lonjakan harga minyak dan gas baru-baru ini.
Baca Juga: Ekonomi AS Tumbuh 3,4% pada Kuartal III 2026, Belanja Konsumen Jadi Penopang
“Harga energi terus meningkat, sehingga menimbulkan risiko kenaikan terhadap prospek inflasi dan risiko penurunanterhadap prospek pertumbuhan,” kata ECB dalam pernyataannya.
Dalam konferensi pers setelah rapat, Lagarde kembali mengatakan bahwa inflasi yang mendasar secara umum tetap stabildan upah belum menunjukkan “respons yang berarti” terhadap kenaikan harga. Namun, ia menambahkan bahwa“besarnya dan durasi guncangan energi yang meningkat” kemungkinan akan mendorong inflasi naik dan melemahkanpertumbuhan ekonomi.
Dengan demikian, data dan perkembangan selama enam minggu sebelum rapat terakhir ECB tahun ini akan menjadifaktor penting.
“Periode antara kedua rapat akan dipenuhi informasi,” kata Lagarde. “Hal itu akan membantu kami menentukan apakahsituasi yang kita lihat sekarang, yang sebenarnya dapat menjadi alasan untuk menaikkan suku bunga, akan terkonfirmasi.Jika demikian, arah kebijakan yang perlu diambil cukup jelas.”
Ketegangan di Pasar Utang Prancis
Pengunduran diri Lagarde terjadi ketika ECB berupaya mencegah tingginya harga energi global berkembang menjadimasalah inflasi jangka panjang di zona euro.
ECB juga harus menghadapi kenaikan tajam biaya pinjaman pemerintah, terutama di Prancis yang memiliki beban utangbesar. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai apakah ECB akan turun tangan jika pergerakan pasarmengancam menjadi tidak terkendali.
Baca Juga: Christine Lagarde Tinggalkan ECB Lebih Awal, Ini Respons Politisi dan Pelaku Pasar
“Jika perkembangan pasar mengancam kelancaran transmisi kebijakan moneter kami, termasuk melalui pergerakan pasaryang tidak beralasan dan tidak teratur, kami memiliki instrumen yang tersedia untuk merespons,” kata Lagarde.
Para ekonom memperingatkan bahwa kenaikan biaya pinjaman kemungkinan akan membatasi penyaluran kredit danmemperlambat perekonomian. Prancis kini harus membayar premi imbal hasil sebesar 155 basis poin di atas Jermanuntuk pinjaman pemerintah bertenor 10 tahun, tingkat tertinggi dalam beberapa dekade.
“Kondisi pembiayaan telah mengetat sejak rapat terakhir Dewan Gubernur, yang kemungkinan akan membebani inflasidan pertumbuhan,” kata ECB dalam pernyataannya.
Bank sentral tersebut harus menempuh jalur kebijakan yang sempit dalam beberapa bulan mendatang.
Lagarde mengatakan imbal hasil obligasi kemungkinan akan tetap tinggi bagi negara-negara zona euro dengan tingkatutang besar. Kondisi tersebut perlu diperhitungkan oleh ECB.
Di satu sisi, ECB harus mencegah inflasi tinggi menjadi masalah yang menetap. Pertumbuhan harga saat ini sudahmencapai dua kali lipat dari target 2% yang ditetapkan bank sentral tersebut.
Di sisi lain, ECB juga ingin menghindari gejolak pasar yang dapat memicu resesi atau ketidakstabilan keuangan yanglebih luas.
Karena itu, sebagian besar ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan hanya akan ada satu atau dua kenaikan sukubunga tambahan sebelum siklus pengetatan kebijakan saat ini berakhir. “Apa yang menjadi pedoman kami adalah mandat stabilitas harga yang kami miliki,” kata Lagarde.














