Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – EVIAN-LES-BAINS. Para pemimpin negara-negara anggota Kelompok Tujuh (G7) menyerukan gencatan senjata segera di Lebanon sekaligus berkomitmen mempercepat diversifikasi jalur pasokan energi global guna mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.
Langkah tersebut diambil sebagai respons atas perang di Iran dan menyusul tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik.
Pertemuan para pemimpin G7 berlangsung di Evian-les-Bains, sebuah kota di tepi Danau Jenewa, Prancis, ketika rincian kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai terungkap dari Washington dan Teheran. Pengumuman resmi perjanjian tersebut diperkirakan dilakukan pada Jumat di wilayah perbatasan Swiss.
Kesepakatan sementara itu diharapkan menjadi pintu masuk menuju negosiasi penyelesaian permanen guna mengakhiri perang yang telah menewaskan lebih dari 7.000 orang, dengan sebagian besar korban berada di Iran dan Lebanon.
Baca Juga: AS Tunda Masukkan DeepSeek dan Lebih dari 100 Perusahaan China ke Daftar Hitam
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin G7 menegaskan pentingnya proses negosiasi untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan Iran di kawasan maupun di tingkat global.
"Kami menegaskan perlunya proses negosiasi untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan Iran di kawasan dan di luar kawasan serta memastikan bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir."
KTT tersebut juga menjadi kesempatan bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memaparkan kesepakatan yang dicapainya dengan Iran kepada para sekutu utama, yakni Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang.
Meski negara-negara tersebut pada umumnya memiliki kekhawatiran yang sama terkait program nuklir Iran, mereka tidak pernah secara terbuka mendukung keputusan Washington untuk berperang dan khawatir Teheran justru memperoleh posisi tawar yang lebih kuat setelah mampu bertahan menghadapi serangan Amerika Serikat serta mempertahankan kendali atas Selat Hormuz.
G7 Siap Dukung Implementasi Kesepakatan Perdamaian
Dalam pernyataannya, para pemimpin G7 menyatakan kesiapan untuk membantu pelaksanaan perjanjian tersebut. Koalisi yang dipimpin Inggris dan Prancis disiapkan untuk membantu mengamankan jalur pelayaran setelah Selat Hormuz dibuka kembali sebagaimana diperkirakan pada Jumat mendatang.
Nota kesepahaman yang telah ditandatangani Washington dan Teheran pekan ini, meski belum dipublikasikan secara resmi, memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada April selama 60 hari tambahan guna memberikan ruang bagi kedua negara untuk merundingkan perdamaian permanen.
Namun demikian, Presiden Trump dinilai belum berhasil mencapai sebagian besar target awal yang disampaikannya ketika perang dimulai. Pemerintahan Iran tetap bertahan, cadangan uranium yang diperkaya belum diserahkan, kemampuan rudal balistik Iran belum dihancurkan, dan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata anti-Israel seperti Hizbullah di Lebanon juga belum dihentikan.
Baca Juga: Harga Emas Bertahan di Level Tertinggi, Pasar Tunggu Keputusan The Fed
Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut memastikan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir, yang pada dasarnya merupakan penegasan kembali posisi resmi Iran sejak dekade 1970-an. Sementara itu, pejabat Amerika Serikat menyebut pembahasan lanjutan akan mengarah pada penghapusan atau penghancuran stok uranium yang diperkaya.
Meski demikian, penghentian perang dengan syarat-syarat tersebut berpotensi memicu kritik terhadap Trump, termasuk dari kalangan garis keras di Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.
Nasib Lebanon Masih Menjadi Tanda Tanya
Salah satu isu terbesar yang belum terselesaikan dalam kesepakatan damai tersebut adalah masa depan Lebanon.
Israel menginvasi Lebanon pada Maret dengan tujuan melumpuhkan Hizbullah setelah kelompok itu melancarkan serangan lintas perbatasan sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran.
Hingga kini, pasukan Israel masih menduduki sebagian wilayah Lebanon selatan yang menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi, sementara Hizbullah belum berhasil dikalahkan.
Iran menegaskan bahwa gencatan senjata harus mencakup penghentian permusuhan di Lebanon dan perjanjian permanen harus diikuti dengan penarikan pasukan Israel. Sebaliknya, Israel yang tidak dilibatkan dalam negosiasi damai Amerika Serikat-Iran menyatakan tidak akan menarik pasukannya dan tetap mempertahankan hak untuk menggunakan kekuatan militer.
Perbedaan sikap tersebut memunculkan ketegangan antara Israel dan Amerika Serikat. Bahkan, Presiden Trump secara terbuka mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Dalam pertemuan G7, Trump mengatakan: "Saya tidak senang dengan cara Israel menangani situasi ini."
"Tanpa kami, tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel. Tanpa saya, tidak akan ada Israel karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang telah saya lakukan." tambahnya.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin G7 menyerukan "gencatan senjata yang kuat dan segera" di Lebanon serta perlucutan senjata Hizbullah.
Juru bicara Hizbullah kepada Reuters menyatakan kelompok tersebut meyakini Iran tidak akan menyetujui perdamaian permanen apabila pendudukan Israel belum diakhiri.
Kesepakatan Berpotensi Mengubah Lanskap Ekonomi dan Energi
Setelah bertahun-tahun menghadapi sanksi ekonomi Amerika Serikat dan komunitas internasional yang menekan perekonomian Iran, kesepakatan damai berpotensi membawa manfaat ekonomi yang signifikan.
Baca Juga: Perang AS-Iran Membebani Ekonomi G7, Namun Trump Lolos dari Kritik
Nota kesepahaman tersebut mencakup dana rekonstruksi senilai US$300 miliar yang akan didanai negara-negara Teluk apabila Iran memenuhi ketentuan lain dalam perjanjian.
Dalam 60 hari ke depan, para perunding akan kembali membahas isu-isu sulit seperti masa depan program nuklir Iran. Namun, dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok milisi di kawasan serta persenjataan rudalnya tampaknya belum masuk dalam agenda pembahasan, yang dinilai sebagai konsesi besar dari Amerika Serikat.
Di pasar energi, harga minyak kembali melemah pada Rabu seiring meningkatnya harapan bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali. Harga minyak mentah Brent turun di bawah US$80 per barel, menjadi level terendah sejak awal konflik Amerika Serikat-Iran.
Seorang pejabat senior Amerika Serikat juga mengungkapkan bahwa Washington akan mencabut sanksi terhadap ekspor minyak Iran sebagai bagian dari kesepakatan penghentian perang.
Kebijakan tersebut membuka peluang masuknya jutaan barel tambahan pasokan minyak ke pasar global, meski pelaku industri memperkirakan produksi minyak dan gas di Timur Tengah masih membutuhkan waktu beberapa bulan untuk pulih sepenuhnya.
Sebagai langkah antisipasi, para pemimpin G7 menegaskan komitmen mereka untuk mempercepat diversifikasi jalur pasokan energi dunia. "Kami berkomitmen mempercepat diversifikasi jalur pasokan energi guna mengurangi kerentanan global terhadap Selat Hormuz dan meningkatkan cadangan energi kami."













